Kamis pagi, Lab A gedung kerjasama PLN-ITB.
Kondisi kelas hening dan tenang. Asisten memberi kami soal responsi. Saya tengah memandangi gambar rangkaian dengan seksama ketika beberapa pria seumuran asisten dosen yang memberi soal memasuki kelas kami, membuat jalannya responsi terhenti seketika. Kakak-kakak tersebut meminta izin untuk berbicara di depan kelas pada asisten, yang tentunya disetujui, kemudian salah satu dari mereka memperkenalkan diri dan memulai pengumuman. Ah, ternyata kakak yang berbicara ini adalah koordinator asisten praktikum, dan kakak-kakak lainnya (sepertinya terlalu mudah untuk ditebak) merupakan asisten praktikum.Mereka membagikan modul praktikum (yang hanya ada modul 1-nya saja) yang diakhiri dengan dua lembar tugas pendahuluan praktikum. Kakak kordas akhirnya memberitahu kami bahwa tugas pendahuluan harus selesai dan terkumpul dengan NIM berurutan esok hari pukul 5 sore. Kami sempat meminta keringanan, namun pada akhirnya sepakat dengan waktu yang diberikan.
Maka, hari itu, satu angkatan Power 2011 semaput mencari jawaban TP. Dengan kesepakatan, kami membagi tugas pengerjaan TP berdasarkan posisi tempat duduk, kemudian jawaban yang kami peroleh dikumpulkan di selasar PLN sore itu juga untuk difotokopi dan disalin malam harinya.
Singkat cerita, TP sudah diselesaikan (dengan berbagai macam 'perjuangan'; mulai dari tak tidur semalaman sampai bolos kuliah) dan dikumpulkan sesuai deadline yang diberikan Kordas. Ada perasaan tenang, sekaligus lelah, menyeruak dalam diriku. Tugas sudah selesai, dan tak ada salahnya untuk sedikit beristirahat, pikirku. Tubuh ini tak sanggup menahan kantuk dan terlelap lebih awal dari jam tidur biasanya (bahkan diri ini tak sempat mematikan komputer sebelumnya!).
Esok paginya, hari Sabtu, terdengar bunyi 'beep' dari telepon selulerku, penanda pesan singkat masuk. Kubuka dan kubaca pesan itu, dan rasa kecewa tak mampu lagi kusembunyikan. Empat setengah lembar double folio bergaris berisi TP yang kukerjakan semalaman itu ternyata harus direvisi. Perjuangan itu serasa sia-sia, hingga membuatku kecewa. Dengan sedikit berat hati, aku mengambil kembali tugas yang harus kukerjakan.
Beberapa saat setelah mengambil TP di sekretariat himpunan, aku berjumpa dengan kakak tingkatku di jurusan di selasar masjid. Kuceritakan bahwa kami harus merevisi TP kami, dan dia menimpalinya dengan kata-kata yang membuatku kembali merenungi apa yang sudah kulakukan.
"angkatan kalian tuh parah banget soalnya. Masa' TP-nya sampe mirip banget gitu se-angkatan?" Ucapnya sambil sedikit tertawa.
Ah, iya juga. Jika begini caranya, bagaimana bisa aku mengerti apa yang kukerjakan? Kau pikir dengan hanya menyalin jawaban itu semalaman hingga mengorbankan waktu tidurmu dan membuatmu terlelap di kelas itu perjuanganmu sudah maksimal? Apakah dengan cara seperti itu cukup untuk membuatmu terlena dan tak waspada?
Yap, revisi TP ini mengingatkanku kembali akan makna sebuah perjuangan, yang menuntut semua hal-hal terbaik yang kita miliki, bukan hanya hal-hal sisa yang hampir kita buang. Ia juga mengajarkanku bahwa totalitas dalam memahami suatu ilmu sangatlah krusial. Tak lupa, ia juga menyadarkanku bahwa hal terbaik hanya akan diraih dengan cara terbaik. Tak ada hasil baik yang diperoleh dengan niat ATAU cara yang tak baik. Dan janganlah terlalu cepat puas dengan apa yang kita kerjakan, karena bisa jadi apa yang menurut kita sudah baik belum tentu benar-benar baik, pun sebaliknya.
Teringat acara Seminar tentang Innovative Leader yang aku ikuti Jumat siang. Saat itu, pemateri yang merupakan CEO General Electric (GE) Indonesia menyatakan bahwa perusahaan yang sukses pemimpin yang sukses adalah yang senantiasa berinovasi dan kreatif, bukan yang pandai meniru.
Tetap semangat!! Allah (melalui Asisten praktikum) tengah memberimu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu, maka janganlah kamu sia-siakan, atau sesal yang akan kau dapatkan.
