Selasa, 18 Desember 2012

Kasihnya Tak Terbatas (Bagian 2)


belum lihat bagian 1-nya?? klik di sini yaaa...

Hari demi hari berlalu. Usia wanita itu pun terus bertambah, pun dengan usia anak-anaknya. Si sulung yang tangguh dan mulai menjalani kehidupan akhirnya sebagai mahasiswa, putra satu-satunya yang mulai asyik menggeluti kehidupan sebagai mahasiswa, putri keduanya yang mulai mengalami masa remaja, dan si bungsu yang mulai mengenal dunia sekolah. Rumah pun mulai sepi. Terlebih, suaminya bekerja di luar kota dan pulang hanya beberapa bulan sekali. Saat itu ia tinggal bersama kedua putri kecilnya. kedua putra-putrinya yang lebih besar merantau ke Kota Pelajar.
18 Agustus 2002. Hari yang sangat mengharukan bagi sang ibu. Putri sulungnya berhasil meraih gelar sarjana. kebanggaan besar baginya juga bagi keluarga. Kebanggaan karena jangankan gelar sarjana, keinginan dan kemampuan kulaih pun masih sedikit yang memiliki. Dan putri sulungnya-lah yang mulai mengubah pandangan masyarakat desa itu. Kebahagiaan makin lengkap ketika setahun kemudian sang putri sulung berhasil menjadi seorang apoteker.
Kabar gembira pun datang dari putri keduanya (alias anak ketiga). Penyakit jantungnya yang dulu selalu menghantuinya dan keluarga akhirnya dinyatakan sembuh. padahal, sebelumnya dokter sebelumnya menyarankannya untuk dioperasi. Namun, keluarga tersebut tak sanggup membayar biaya operasi yang saat itu harganya sudah mencapai 20 Juta rupiah. Jangankan untuk operasi, untuk makan dan ongkos sekolah kedua anak tertua saat masih SMA dan SMK saja terkadang harus menjual beras yang ditukar dengan beberapa rupiah plus tempe untuk sarapan. Alhamdulillah...
Namun, kebahagiaan tak pernah luput dari masalah. Si sulung mulai kesulitan mencari pekerjaan. Maklum, saat itu apotek masih langka di daerah itu. Setelah (akhirnya) mendapat pekerjaan di sebuah apotek yang baru buka di wilayah Cirebon, tawaran untuk menjadi dosen di Pulau Burung pun datang padanya. yang memberi tawaran tak lain adalah saudara sang ayah. dengan berbagai pertimbangan, akhirnya dengan berat hati sang ibu melepas sang anak merantau jauh. Makin sepilah hidup sang ibu.
Masalah lain imbul ketika suaminya mulai renta dan mulai terkena badai PHK. Tiga anaknya masih sekolah, apalagi si bungsu yang lulus SD saja belum. Namun, pasangan suami istri ini memang teguh pendirian. Mereka tetap berpegang pada keinginan mereka untuk berlaku adil pada tiap anaknya, salah satunya dengan menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus bangku kuliah. Namun, memang bukan perkara mudah bagi pasangan yang telah mulai menapaki usia senja ini. Beruntung, putri sulungnya bersedia membantu membiayai pendidikan adik-adiknya, terutama adik keduanya yang masih SMA. Sementara adik bungsunya yang asih SD menjadi tanggungan orang tuanya.
Allah ternyata menganugerahkan karunia lain pada keluarga ini. si kecil (yang sekarang makin tumbuh tinggi) ini dipercaya untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Ia pun sering menjadi delegasi sekolah untuk mengikuti lomba-lomba di bidang matematika dan sains. Hasilnya berbuah manis di akhir masa-masa Sekolah Dasar, karena ia menjuarai lomba yang dilaksanakan oleh suatu SMP swasta di daerahnya dan mendapat beasiswa sekolah di sana.
Tak jauh sebelum keberhasilan putri bungsunya, putri sulung pun akhirnya melanjutkan lembar hidupnya ke lembaran rumah tangga. Ia menikah dengan rekan kerjanya. Tak lama setelah menikah, pasangan baru ini pun akhirnya kembali ke tempat kerja mereka. Meski berat, sang ibu harus rela membiarkannya pergi.
Masa akhir tahun ajaran pun tiba. Kedua putrinya yang masih bersekolah berhasil menamatkan studinya di jenjang masing-masing. Si bungsu lulus SD, kakaknya lulus SMA. Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah, lagi-lagi di Kota Pelajar. Sang ibu kembali ditinggal anaknya pergi. Tinggallah ia bersama si bungsu yang juga jarang di rumah karena SMP tempat ia berseekolah adalah full day school. Rasa sepi harus ia pendam dalam hati. Harus ia korbankan keinginannya untuk selalu berkumpul dengan anak-anaknya demi kesuksesan mereka.
Saat si bungsu mulai menginjak kelas 8 SMP, sang ayah mulai berhenti bekerja. Putri kedua pun memutuskan cuti kuliah karena kakak sulungnya mulai kesulitan mendanai pendidikan adik-adiknya setelah berkeluarga. Ibu  pun mulai menunjukkan ketangguhannya. bersama ayah, mereka mulai menggarap lahan warisan orang tua mereka dan mengisi hari tua mereka dengan bercocok tanam. Mencucurkan peluh lebih deras di usia yang makin lanjut, padahal orang-orang sebaya mereka tak jarang lebih sering menghabiskan waktu dengan mengasuh cucunya di rumah. Beruntung, si bungsu masih melaksanakan kebiasaannya mengikuti lomba.Bila menang, ia sering mendapat uang saku dari sekolah sebagai hadiah. Ia tak perlu meminta uang jajan lagi pada orang tuanya sejak itu.
Setahun berselang, putri kedua memutuskan untuk mengundurkan diri dari perguruan tinggi tempatnya kuliah. Namun, tak lama kemudian ia diminta kakaknya yang ada di Pulau burung sana untuk melanjutkan kuliah di sana. Sang ibu harus menghadapi kenyataan pahit lagi. Ditinggal jauh putrinya untuk kedua kalinya. Namun yang paling menggusarkan hatinya ialah anak kedua yang tak kunjung pulang dan studinya tak kunjung usai. Parahnya, ia terkadang sulit dihubungi, hal yang makin membuat orang tua manapun gusar. Tak jarang kegelisahan ini membuat sang ibu menangis saat menatap foto anak laki-laki semata wayangnya itu.
Keberadaan dua kakak beradik nan jauh di sana juga menyibak masalah baru. Konflik rumah tangga di keluarga putri sulung yang sebelumnya tidak terlalu terdengar kini mulai terungkap. sementara itu, putranya pun sudah setahun lebih tidak pulang ke rumah, bahkan untuk sekedar berlebaran bersama seperti yang dilakukan oleh para perantau di desa itu. Sang ibu yang sudah memasuki masa menepause pun makin sering sakit, meskipun sakit yang diderita masih dalam kategori ringan-sedang. Ditambah kesulitan ekonomi yang mendera, lengkaplah sudah kesulitan yang dialami sang Ibu. Sosoknya yang pendiam dan kalem mulai berubah menjadi sensitif, mungkin karena usia yang sudah menua. Akankah masalah-masalah ini membuat sang ibu tak mampu bertahan? Ataukah ia akan makin tangguh dengan kesulitan-kesulitan yang ia hadapi??

Kamis, 13 Desember 2012

Kasihnya Tak Terbatas (bagian 1)


12 Januari 1994. Seorang wanita terbaring menahan sakit di rumah bidan. tubuhnya sudah mulai lemah dan dibanjiri keringat, namun ia terus memperjuangkan agar janin yang telah ia kandung selama kurang lebih sembilan bulan itu dapat beralih status menjadi bayi. Ah, bukan hanya itu. ia ingin janin yang ia kandung menjadi bayi yang sehat dan sempurna fisiknya. Ia terus berjuang , hingga akhirnya suara tangis bayi pun memenuhi kamar itu. Ia merasa senang, namun tubuhnya semakin lemah sehingga membuat ia tak sadarkan diri dengan pendarahan dari rahimnya. Usianya saat itu 37 tahun, usia yang sebenarnya sudah tidak terlalu ideal untuk melahirkan. Kondisi ini membuat bidan yang membantu persalinannya panik. Sempat terlintas pikiran untuk membawa pasiennya ke rumah sakit, namun tak lama kemudian rencana itu urung terjadi karena pasien itu telah sadar kembali.


Bagaimana keadaan sang bayi? Ia terlahir dengan fisik sempurna. Bobotnya lumayan, 3,5 Kg. Panjang tubuhnya? 52 cm, ukuran yang termasuk panjang bagi bayi yang baru lahir, sehingga bobot yang besar itu terlihat kurus dan panjang. Jenis kelaminnya perempuan.

Wanita itu pun akhirnya tersenyum lega. Anak keempatnya lahir dengan selamat. Bayi perempuan ini melengkapi hidupnya yang sebelumnya telah diwarnai oleh dua anak perempuan dan satu anak laki-laki yang ketiganya tengah dalam masa pertumbuhan. Hari-hari baru bagi si bayi pun dimulai.

Hari demi hari berlalu, bayi perempuan ini mulai tumbuh dan berkembang. Perlahan ia mulai bisa tengkurap, duduk, giginya mulai tumbuh, kakinya mulai kuat untuk berdiri, berjalan, lalu berlari, kemudian mulai bisa berbicara. Tak terasa masa balita mulai dijalani oleh si bayi ini.

Di sisi lain, kakak-kakaknya pun mulai tumbuh dewasa. Kakak pertamanya mula merintis mimpi di bangku kuliah. Kakak keduanya, kakak laki-laki satu-satunya yang ia miliki, mulai menjelma menjadi siswa SMK. kakak ketiganya kini sudah di pertengahan jalan di bangku SD. Hari-hari yang penuh kesibukan pun dilalui sang Ibu dengan ikhlas.

Hari sang ibu bukan tanpa masalah. Si sulung yang merantau jauh di Kota Gudeg untuk melanjutkan pendidikan, putranya yang tengah dalam masa remaja, anak ketiganya yang memiliki kelainan jantung, dan si kecil yang selalu berulah. Tapi, ia dan suaminya pun menjelma menjadi sosok tegar dan kuat. Berusaha semaksimal mungkin agar keluarganya bahagia.
***to be continued

Kamis, 06 Desember 2012

Miladuka Mubarak, HME ITB. Miladuki Mubarak Sahabatku....

5 Desember 2011. Tahun lalu, di tanggal ini kami menghadapi soal UTS 2 Kimia Dasar 1A. Berbarengan pula dengan pengumuman indeks Fisika Dasar 1A. Saking riweuh-nya, kami sampai lupa di hari itu adalah hari ulang tahun teman dekat kami di kelas. Aku sendiri mengucapkan selamat padanya sekitar beberapa menit menjelang azan maghrib. Tanpa kado, tanpa pesta. Hanya mampu mendoakan agar dirinya dinaungi kemudahan dari-Nya.

5 Desember 2012. Kali ini, lagi-lagi saya lupa ulang tahunnya. Lebih parah lagi, hari ini bukan hanya ulang tahunnya yang 'kulupakan'. Ya, ulang tahun HME, himpunan mahasiswa yang telah memberikanku kebahagiaan, pengalaman, teman, dan semangat selama kurang lebih satu semester terakhir (dihitung dari zaman-zaman MBC ya...). Hmm... sebegitu dahsyat-nya kah tugas, PR, dan persiapan ujian sehingga membuatku lupa pada hari istimewa dua orang terdekat di kehidupan kampusku??

Bahkan sampai detik ini, ketika hari mulai berganti, sepatah kata selamat pun belum terucap secara langsung. Ya sudahlah, karena waktunya yang mepet kuucapkan di blog saja ya...

"Selamat ulang tahun sahabatku, semoga bisa jadi hamba-Nya yang lebih baik dari masa ke masa.... Semoga kita tetap menjadi sahabat baik dunia akhirat... ^^"
"Selamat ulang tahun HME ITB, semoga makin jaya, makin produktif, bisa jadi contoh baik untuk himpunan-himpunan lain baik di ITB maupun di luar ITB.... Oke Champ....!!"


Elektro ITB, derap langkahmu menggema
Elektro ITB, desah napasmu menggetarkan udara
Elaktro ITB, bakti karyamu jadi dambaan bangsa
Berjayalah slalu di mata dunia, elektro ITB....

Rabu, 05 Desember 2012

Menuju Pucak

Bukan mudah meniti langkah ke angkasa
Bukan mudah mengubah mimpi jadi asa pasti
Apapun jua bisa terbukti
Andai langkahmu tidak terhenti.....

Masih ingat lagu ini?? Yap, themesong-nya Akademi Fantasi Indosiar, salah satu acara pencarian bakat menyanyi yang populer di Indonesia sekitar tahun 2003-an, ketika saya masih menjadi bocah kelas 3 SD. Bila dulu lagi ini dinyanyikan sambil mengikuti koreografi khas-nya, kini lirik lagu ini dijadikan bahan renungan. Ya, untuk jadi manusia yang lebih baik, butuh proses yang gak instan. Lewati dulu jalan berliku nan terjal, runtuhkan segala halangan dan rintangan, meminimalisir hambatan yang ada, putar otak untuk mencari solusi terbaik, dan segala macam tindakan untuk mewujudkan mimpi itu.... Kesulitan-kesulitan ini tak  jarang membuat sebagian orang memilih mundur dan kabur dari tantangan yang mereka hadapi -- lebih tepatnya, sesuatu yang awalnya mereka anggap tantangan namun akhirnya berubah jadi beban dan masalah bagi mereka. Namun, bagi sebagian orang, mengurai benang kusut kehidupan itu sampai benar-benar tuntas dan rapi adalah kebanggaan, kepuasan, dan kebahagiaan yang besar. Sekusut apapun benang masalah, serumit apapun labirin kehidupan yang ada, jalan keluarnya tetap Dia sediakan kok. Hanya, proses mencapainya yang berbeda....

Ingatlah, Dia takkan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Percayalah, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Semua kembali pada dirimu: berusaha keras untuk menemukan solusi atau pasrah pada keadaan dengan modal yang serba ngepas. Bersegera melakukan kebaikan agar dapat memanen buah manis di suatu waktu atau menundanya dan berleha-leha.

Semangat UAS....

nb: quotes dari suatu lembaga beberapa jam menjelang ujian kalkulus tahun lalu, tapi menurutku masih relevan buatku yang mata kuliahnya gak jauh-jauh dari 'berhitung'

Calculus may not teach us how to add love or minus hate. But it always give us a reason to hope that every problem has a SOLUTION.
Selamat berjuang 2011!

-UTS adalah ujian, bukan hanya ujian angka & logika di atas kertas, tapi juga ujian moral & iman-

Senin, 03 Desember 2012

Running Man @ Labtek Kembar

Running Man syuting di ITB?? Ciyuuusss?? Enelannn?? Cumpaah?? Miapaaaah?? #4L@yModeON

Yah, sore itu terlihat beberapa orang berlari. Namun, tidak ada Camera Man di sana. Yang berlari pun bukanlah Kim Jong Kook, Gary, dan konco-konconya (emangnya Jong Kook sama Gary anak Power 2011 ya?? hihiihihi :D). Orang-orang itu tampak berlari dari Labtek VIII (Singgasana Pendekar Ngoprek) dan Labtek V (Istananya Laskar-Laskar Ngoding). Arahnya?? bermacam-macam, semua oktan (kayaknya) dijajah. Ada yang ke tempat Fotokopi dan Printer, namun yang terbanyak adalah menuju Labtek V lantai 2. Ding Dong mendadak riuh. Mushalla Elektro pun gak kalah. Rupanya mereka yang berlari dan tampak panik adalah mahasiswa/i Teknik Elektro dan Teknik Informatika. Apa pasal?

Ternyata, mereka berlari untuk mengejar deadline Tugas Besar matakuliah Algoritma dan Struktur data. Konon, karena saya tidak merasakan derita yang sama, tugas besarnya cukup menyita waktu. Teman se-kost saja sampai pulang sangat larut semalam, sama seperti saat aku mengikuti diklat calon perangkat dulu. Dan paginya ia pergi ke kampus lebih pagi dariku demi menyelesaikan tugasnya.

Beragam reaksi terpancar dari wajah mereka setelah mengumpulkan beragam. Ada yang bernapas lega. Ada yang tersenyum puas, ada yang tampak murung, ada yang memendam kecewa. Ada yang menyelesaikan dengan baik, ada yang standar tapi sudah memenuhi aturan, ada yang kurang sempurna tapi masih bisa digunakan, ada pula yang sama sekali gagal Compile.

Kasus ini bisa kita jadikan analogi terhadap kehidupan kita. Deadline pengumpulan tugas besar bisa kita anggap sebagai detik-detik terakhir kita hidup, atau akhir dari kehidupan dunia. Begitu banyak orang yang panik dan cemas, karena kurang mempersiapkan diri di waktu-waktu sebelumnya, atau merasa bekalnya masih kurang. Ada pula yang mendekatinya dengan tenang, santai, karena bekal dan tugas telah ia selesaikan sebelumnya. Contoh yang kedua ialah orang beriman nan taat. Yang pertama mungkin lalai atau memang telah berusaha maksimal namun tetap belum siap. Bila malaikat Izrail menjemput kita, tahun depan, besok, atau beberapa menit ke depan, kira-kira apakah yang akan kita lakukan?? Sudah cukupkah perbekalan kita untuk menjalani Penantian yang Panjang dan Hari Pembalasan?

Raut wajah setelah mengumpulkan tugas bisa jadi analogi mengenai reaksi manusia saat menghadapi Hari Kebangkitan. Ada yang bahagia denga wajah berseri-seri, ada yang merasa terhina. Golongan pertama ialah orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Yang kedua ialah orang-orang yang lalai dan durhaka pada Allah. Pertanyaannya, masuk ke dalam golongan manakah kita??

#Renungan untuk diri sendiri...