Kamis, 13 Desember 2012

Kasihnya Tak Terbatas (bagian 1)


12 Januari 1994. Seorang wanita terbaring menahan sakit di rumah bidan. tubuhnya sudah mulai lemah dan dibanjiri keringat, namun ia terus memperjuangkan agar janin yang telah ia kandung selama kurang lebih sembilan bulan itu dapat beralih status menjadi bayi. Ah, bukan hanya itu. ia ingin janin yang ia kandung menjadi bayi yang sehat dan sempurna fisiknya. Ia terus berjuang , hingga akhirnya suara tangis bayi pun memenuhi kamar itu. Ia merasa senang, namun tubuhnya semakin lemah sehingga membuat ia tak sadarkan diri dengan pendarahan dari rahimnya. Usianya saat itu 37 tahun, usia yang sebenarnya sudah tidak terlalu ideal untuk melahirkan. Kondisi ini membuat bidan yang membantu persalinannya panik. Sempat terlintas pikiran untuk membawa pasiennya ke rumah sakit, namun tak lama kemudian rencana itu urung terjadi karena pasien itu telah sadar kembali.


Bagaimana keadaan sang bayi? Ia terlahir dengan fisik sempurna. Bobotnya lumayan, 3,5 Kg. Panjang tubuhnya? 52 cm, ukuran yang termasuk panjang bagi bayi yang baru lahir, sehingga bobot yang besar itu terlihat kurus dan panjang. Jenis kelaminnya perempuan.

Wanita itu pun akhirnya tersenyum lega. Anak keempatnya lahir dengan selamat. Bayi perempuan ini melengkapi hidupnya yang sebelumnya telah diwarnai oleh dua anak perempuan dan satu anak laki-laki yang ketiganya tengah dalam masa pertumbuhan. Hari-hari baru bagi si bayi pun dimulai.

Hari demi hari berlalu, bayi perempuan ini mulai tumbuh dan berkembang. Perlahan ia mulai bisa tengkurap, duduk, giginya mulai tumbuh, kakinya mulai kuat untuk berdiri, berjalan, lalu berlari, kemudian mulai bisa berbicara. Tak terasa masa balita mulai dijalani oleh si bayi ini.

Di sisi lain, kakak-kakaknya pun mulai tumbuh dewasa. Kakak pertamanya mula merintis mimpi di bangku kuliah. Kakak keduanya, kakak laki-laki satu-satunya yang ia miliki, mulai menjelma menjadi siswa SMK. kakak ketiganya kini sudah di pertengahan jalan di bangku SD. Hari-hari yang penuh kesibukan pun dilalui sang Ibu dengan ikhlas.

Hari sang ibu bukan tanpa masalah. Si sulung yang merantau jauh di Kota Gudeg untuk melanjutkan pendidikan, putranya yang tengah dalam masa remaja, anak ketiganya yang memiliki kelainan jantung, dan si kecil yang selalu berulah. Tapi, ia dan suaminya pun menjelma menjadi sosok tegar dan kuat. Berusaha semaksimal mungkin agar keluarganya bahagia.
***to be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar