Bismillah....
*teruntuk diri yang masih mencari pilihan terbaik*
Sore ini, diri yang tengah resah ini mencoba mencari sedikit 'pencerahan'. Tampak di kolom percakapan di beranda facebook terdapat salah seorang sahabat seperjuangan yang sepertinya bisa dimintai nasihat. Kuberanikan diri untuk memulai percakapan dengannya, dan mulai kuutarakan keresahan yang kini tengah kualami: tentang amanah. Dan beliau mengajukan empat pertanyaan untukku sebagai pertimbangan dalam memilih. keempat pertanyaan itu adalah:
Ah, diri ini kembali merasa 'tertampar'. Sudahkah amanah-amanah yang telah dijalani membawaku pada hal-hal yang beliau tanyakan? akankah amanah-amanah ke depan membawaku ke sana?
Kembali, bulir-bulir bening berjatuhan. Rabb, bimbing hamba pada pilihan terbaik.... ^^v
Kamis, 28 November 2013
Sabtu, 12 Oktober 2013
Because You're So Special, ukhti...
Jum'at siang. Selasar labtek VII lantai 2. Hampir satu setengah tahun yang lalu. Ta'lim kemuslimahan.
Pemateri pun akhirnya menyampaikan pada kami, bahwa setiap perempuan, pada dasarnya memang tercipta untuk menarik hati para laki-laki. Entah ia cantik atau tidak, ber-make-up tebal atau tak pernah merias diri, bicara ceplas-ceplos atau pendiam, tomboy atau feminin. Wanita itu memang indah di mata para pria. Makanya, tak heran jika mayoritas peserta ta'lim mengangkat tangan ketika ditanya "siapa di sini yang pernah ditaksir cowok?".
Hmm, benar juga, pikirku. Setiap wanita kan tercipta dengan keindahan dan keistimewaannya masing-masing. Keindahan yang jangankan laki-laki, sesama wanita saja terkagum-kagum dibuatnya. Entah keindahan itu berupa wajah rupawan, kecerdasan, skill yang dimiliki, kepribadian dan karakter. Wanita, dengan keindahannya, memberi warna tersendiri bagi dunia.
Namun, cukupkah keindahan itu untuk membuat para wanita tampak 'indah' di mata-Nya?
Sekali lagi, cukupkah cantiknya parasmu, lembutnya tutur bahasamu, anggunnya perilakumu, dan segala keindahan yang ada di dirimu untuk membawamu ke surga-Nya?
#thinkagain
"Jadi, siapa di sini yang pernah ditaksir sama cowok?" ucap pemateri. Mendengar pertanyaan tersebut, hampir seluruh peserta ta'lim mengangkat tangannya sebagai respon dari pertanyaan tersebut.
Pemateri pun akhirnya menyampaikan pada kami, bahwa setiap perempuan, pada dasarnya memang tercipta untuk menarik hati para laki-laki. Entah ia cantik atau tidak, ber-make-up tebal atau tak pernah merias diri, bicara ceplas-ceplos atau pendiam, tomboy atau feminin. Wanita itu memang indah di mata para pria. Makanya, tak heran jika mayoritas peserta ta'lim mengangkat tangan ketika ditanya "siapa di sini yang pernah ditaksir cowok?".
Hmm, benar juga, pikirku. Setiap wanita kan tercipta dengan keindahan dan keistimewaannya masing-masing. Keindahan yang jangankan laki-laki, sesama wanita saja terkagum-kagum dibuatnya. Entah keindahan itu berupa wajah rupawan, kecerdasan, skill yang dimiliki, kepribadian dan karakter. Wanita, dengan keindahannya, memberi warna tersendiri bagi dunia.
Namun, cukupkah keindahan itu untuk membuat para wanita tampak 'indah' di mata-Nya?
Sekali lagi, cukupkah cantiknya parasmu, lembutnya tutur bahasamu, anggunnya perilakumu, dan segala keindahan yang ada di dirimu untuk membawamu ke surga-Nya?
#thinkagain
Kamis, 10 Oktober 2013
FPB dan KPK
Pernah belajar matematika? Pernah dengar istilah FPB dan KPK? Yap, FPB merupakan singkatan dari 'Faktor Persekutuan Terbesar', sementara KPK merupakan singkatan dari 'Kelipatan Persekutuan Terkecil' (bukan KPK yang ngurusin korupsi itu ya.. ^^v). Keduanya merupakan salah satu metode dasar dalam matematika, terutama aljabar. Dan saya pernah mendapat 'rumus jitu' untuk menemukan FPB atau KPK dari dua atau lebih bilangan dari (almh) guru SD saya (semoga Allah memuliakannya) saat saya kelas 6 SD (kalau tidak salah). Kata beliau, untuk mencari FPB dan KPK, pertama-tama kita harus memfaktorkannya terlebih dahulu. Lalu, jika ingin menemukan FPB kata kuncinya adalah "Faktor yang sama, pangkat terkecil", sementara untuk KPK kata kuncinya adalah "Faktor yang sama, pangkat terbesar, faktor yang tidak sama dimasukkan". 'Rumus 'jitu' itu berhasil saya ingat sampai sekarang, meskipun sudah jarang menemui soal-soal FPB dan KPK di kertas ujian.
Tapi, soal FPB dan KPK, disadari atau tidak, masih kita dapati di dunia nyata loh. Memangnya di dunia nyata kita masih bertemu dengan variabel x, y, dan z? Hmm, bisa jadi tidak. Namun, FPB dan KPK bukannya tidak bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Jadi, pelajaran matematika yang mungkin saat kita dapat di sekolah seolah tak berguna di kehidupan sehari-hari (dalam hal ini kehidupan bermasyarakat) itu ga sepenuhnya benar. So, masih punya alasan lain untuk membenci matematika? #promosi #eaaah
Kita mulai dari FPB. Aplikasi di kehidupan sehari-hari itu apa ya? Yang terbilang sederhana adalah menyocokkan waktu kosong yang sama bagi beberapa teman kita untuk mengadakan belajar bersama, atau rapat organisasi. Intinya, FPB itu membantu kita untuk menemukan kesamaan dari setiap hal yang sedang dikaitkan. Mungkin seolah menjawab kebutuhan manusia yang seolah lebih mudah melihat perbedaan daripada persamaan satu sama lain. Kita cenderung lebih sering berkata 'si A lebih cerewet dari si B' ketimbang 'si A sama si B tuh sama-sama kerudungan'. Padahal, terkadang perbedaan itu membuat kita menjauh, bahkan bermusuhan. Apa salahnya sih kita melihat kesamaan yang kita miliki dan berdamai dengan hati yang terlanjur egois ini?
Selanjutnya adalah KPK. Simple-nya, aplikasi KPK itu adalah memaksimalkan persamaan yang ada dan memasukkan unsur perbedaan ke dalamnya, sehingga terbentuk kesatuan yang bisa memberi hasil maksimal. Kesamaan lah yang membuat langkah serempak ke satu tujuan, dan perbedaan yang membuat tiap komponennya memiliki tugas khusus dalam keberjalanan menempuh tujuan itu. Misalnya, A, B, C, D, dan E adalah sahabat baik. Suatu hari, B, C, D, dan E berencana untuk memberi hadiah kepada si A yang baru menang lomba. Mereka mengonsep bersama, menuangkan ide-ide kreatif untuk menyenangkan si A. Si B yang senang belanja dan jago nawar harga bertugas membeli kado untuk si A (juga keperluan2 lain), si C yang jago menggambar membuat karikatur lucu sebagai salah satu hadiah untuk si A. Si D yang hobinya menulis bikin kata-kata puitis buat A di kartu ucapan, sementara si E yang jago masak membuat makanan spesial untuk dimakan bersama keempat sahabatnya. Keempat sahabat ini punya kesamaan: ingin menyenangkan si A. Dan sebagai manusia pada umumnya, mereka berempat tidaklah identik; pasti memiliki perbedaan. Bisa dilihat dari bakat paling menonjol dari tiap orang, dimana si B jago belanja, C jago gambar, D jago nulis, dan E jago masak. Perbedaan ini, karena didasari kesamaan tujuan, tak menjadi penghalang mereka untuk maju, justru malah membantu mereka dalam menjalankan rencana, karena perbedaan ini diramu dengan optimal sehingga menjadi salah satu pemulus jalan, bukan penghambat jalan. Pada akhirnya, setiap orang memiliki peranan sesuai dengan perbedaan yang mereka miliki. Kalau sudah berpadu seperti ini, perbedaan tak lagi jadi masalah, karena bila perbedaan itu bersifat positif ia bisa menguatkan, dan bila ia negatif ia bisa diredam dengan kelebihan dari orang lain. Jadilah suatu kekuatan baru, hasil dari pergerakan massal, yang efeknya pun bisa masif dan maksimal.
Yah, tulisan ini sekadar pengingat bagi diri sendiri (khususnya), bahwa melebarkan sudut pandang itu penting, agar kita tak sekadar melihat perbedaan sebagai penghambat, tapi sebagai rahmat. Agar kita tak sibuk mengeluhkan perbedaan yang ada, tapi sibuk mengoptimalkannya. Agar kita tak melulu memikirkan perbedaan, namun lupa mencari persamaan. Insya Allah damai... ^^v
Tapi, soal FPB dan KPK, disadari atau tidak, masih kita dapati di dunia nyata loh. Memangnya di dunia nyata kita masih bertemu dengan variabel x, y, dan z? Hmm, bisa jadi tidak. Namun, FPB dan KPK bukannya tidak bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Jadi, pelajaran matematika yang mungkin saat kita dapat di sekolah seolah tak berguna di kehidupan sehari-hari (dalam hal ini kehidupan bermasyarakat) itu ga sepenuhnya benar. So, masih punya alasan lain untuk membenci matematika? #promosi #eaaah
Kita mulai dari FPB. Aplikasi di kehidupan sehari-hari itu apa ya? Yang terbilang sederhana adalah menyocokkan waktu kosong yang sama bagi beberapa teman kita untuk mengadakan belajar bersama, atau rapat organisasi. Intinya, FPB itu membantu kita untuk menemukan kesamaan dari setiap hal yang sedang dikaitkan. Mungkin seolah menjawab kebutuhan manusia yang seolah lebih mudah melihat perbedaan daripada persamaan satu sama lain. Kita cenderung lebih sering berkata 'si A lebih cerewet dari si B' ketimbang 'si A sama si B tuh sama-sama kerudungan'. Padahal, terkadang perbedaan itu membuat kita menjauh, bahkan bermusuhan. Apa salahnya sih kita melihat kesamaan yang kita miliki dan berdamai dengan hati yang terlanjur egois ini?
Selanjutnya adalah KPK. Simple-nya, aplikasi KPK itu adalah memaksimalkan persamaan yang ada dan memasukkan unsur perbedaan ke dalamnya, sehingga terbentuk kesatuan yang bisa memberi hasil maksimal. Kesamaan lah yang membuat langkah serempak ke satu tujuan, dan perbedaan yang membuat tiap komponennya memiliki tugas khusus dalam keberjalanan menempuh tujuan itu. Misalnya, A, B, C, D, dan E adalah sahabat baik. Suatu hari, B, C, D, dan E berencana untuk memberi hadiah kepada si A yang baru menang lomba. Mereka mengonsep bersama, menuangkan ide-ide kreatif untuk menyenangkan si A. Si B yang senang belanja dan jago nawar harga bertugas membeli kado untuk si A (juga keperluan2 lain), si C yang jago menggambar membuat karikatur lucu sebagai salah satu hadiah untuk si A. Si D yang hobinya menulis bikin kata-kata puitis buat A di kartu ucapan, sementara si E yang jago masak membuat makanan spesial untuk dimakan bersama keempat sahabatnya. Keempat sahabat ini punya kesamaan: ingin menyenangkan si A. Dan sebagai manusia pada umumnya, mereka berempat tidaklah identik; pasti memiliki perbedaan. Bisa dilihat dari bakat paling menonjol dari tiap orang, dimana si B jago belanja, C jago gambar, D jago nulis, dan E jago masak. Perbedaan ini, karena didasari kesamaan tujuan, tak menjadi penghalang mereka untuk maju, justru malah membantu mereka dalam menjalankan rencana, karena perbedaan ini diramu dengan optimal sehingga menjadi salah satu pemulus jalan, bukan penghambat jalan. Pada akhirnya, setiap orang memiliki peranan sesuai dengan perbedaan yang mereka miliki. Kalau sudah berpadu seperti ini, perbedaan tak lagi jadi masalah, karena bila perbedaan itu bersifat positif ia bisa menguatkan, dan bila ia negatif ia bisa diredam dengan kelebihan dari orang lain. Jadilah suatu kekuatan baru, hasil dari pergerakan massal, yang efeknya pun bisa masif dan maksimal.
Yah, tulisan ini sekadar pengingat bagi diri sendiri (khususnya), bahwa melebarkan sudut pandang itu penting, agar kita tak sekadar melihat perbedaan sebagai penghambat, tapi sebagai rahmat. Agar kita tak sibuk mengeluhkan perbedaan yang ada, tapi sibuk mengoptimalkannya. Agar kita tak melulu memikirkan perbedaan, namun lupa mencari persamaan. Insya Allah damai... ^^v
Sabtu, 21 September 2013
Tugas Pendahuluan
Kamis pagi, Lab A gedung kerjasama PLN-ITB.
Kondisi kelas hening dan tenang. Asisten memberi kami soal responsi. Saya tengah memandangi gambar rangkaian dengan seksama ketika beberapa pria seumuran asisten dosen yang memberi soal memasuki kelas kami, membuat jalannya responsi terhenti seketika. Kakak-kakak tersebut meminta izin untuk berbicara di depan kelas pada asisten, yang tentunya disetujui, kemudian salah satu dari mereka memperkenalkan diri dan memulai pengumuman. Ah, ternyata kakak yang berbicara ini adalah koordinator asisten praktikum, dan kakak-kakak lainnya (sepertinya terlalu mudah untuk ditebak) merupakan asisten praktikum.Mereka membagikan modul praktikum (yang hanya ada modul 1-nya saja) yang diakhiri dengan dua lembar tugas pendahuluan praktikum. Kakak kordas akhirnya memberitahu kami bahwa tugas pendahuluan harus selesai dan terkumpul dengan NIM berurutan esok hari pukul 5 sore. Kami sempat meminta keringanan, namun pada akhirnya sepakat dengan waktu yang diberikan.
Maka, hari itu, satu angkatan Power 2011 semaput mencari jawaban TP. Dengan kesepakatan, kami membagi tugas pengerjaan TP berdasarkan posisi tempat duduk, kemudian jawaban yang kami peroleh dikumpulkan di selasar PLN sore itu juga untuk difotokopi dan disalin malam harinya.
Singkat cerita, TP sudah diselesaikan (dengan berbagai macam 'perjuangan'; mulai dari tak tidur semalaman sampai bolos kuliah) dan dikumpulkan sesuai deadline yang diberikan Kordas. Ada perasaan tenang, sekaligus lelah, menyeruak dalam diriku. Tugas sudah selesai, dan tak ada salahnya untuk sedikit beristirahat, pikirku. Tubuh ini tak sanggup menahan kantuk dan terlelap lebih awal dari jam tidur biasanya (bahkan diri ini tak sempat mematikan komputer sebelumnya!).
Esok paginya, hari Sabtu, terdengar bunyi 'beep' dari telepon selulerku, penanda pesan singkat masuk. Kubuka dan kubaca pesan itu, dan rasa kecewa tak mampu lagi kusembunyikan. Empat setengah lembar double folio bergaris berisi TP yang kukerjakan semalaman itu ternyata harus direvisi. Perjuangan itu serasa sia-sia, hingga membuatku kecewa. Dengan sedikit berat hati, aku mengambil kembali tugas yang harus kukerjakan.
Beberapa saat setelah mengambil TP di sekretariat himpunan, aku berjumpa dengan kakak tingkatku di jurusan di selasar masjid. Kuceritakan bahwa kami harus merevisi TP kami, dan dia menimpalinya dengan kata-kata yang membuatku kembali merenungi apa yang sudah kulakukan.
"angkatan kalian tuh parah banget soalnya. Masa' TP-nya sampe mirip banget gitu se-angkatan?" Ucapnya sambil sedikit tertawa.
Ah, iya juga. Jika begini caranya, bagaimana bisa aku mengerti apa yang kukerjakan? Kau pikir dengan hanya menyalin jawaban itu semalaman hingga mengorbankan waktu tidurmu dan membuatmu terlelap di kelas itu perjuanganmu sudah maksimal? Apakah dengan cara seperti itu cukup untuk membuatmu terlena dan tak waspada?
Yap, revisi TP ini mengingatkanku kembali akan makna sebuah perjuangan, yang menuntut semua hal-hal terbaik yang kita miliki, bukan hanya hal-hal sisa yang hampir kita buang. Ia juga mengajarkanku bahwa totalitas dalam memahami suatu ilmu sangatlah krusial. Tak lupa, ia juga menyadarkanku bahwa hal terbaik hanya akan diraih dengan cara terbaik. Tak ada hasil baik yang diperoleh dengan niat ATAU cara yang tak baik. Dan janganlah terlalu cepat puas dengan apa yang kita kerjakan, karena bisa jadi apa yang menurut kita sudah baik belum tentu benar-benar baik, pun sebaliknya.
Teringat acara Seminar tentang Innovative Leader yang aku ikuti Jumat siang. Saat itu, pemateri yang merupakan CEO General Electric (GE) Indonesia menyatakan bahwa perusahaan yang sukses pemimpin yang sukses adalah yang senantiasa berinovasi dan kreatif, bukan yang pandai meniru.
Tetap semangat!! Allah (melalui Asisten praktikum) tengah memberimu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu, maka janganlah kamu sia-siakan, atau sesal yang akan kau dapatkan.
Kondisi kelas hening dan tenang. Asisten memberi kami soal responsi. Saya tengah memandangi gambar rangkaian dengan seksama ketika beberapa pria seumuran asisten dosen yang memberi soal memasuki kelas kami, membuat jalannya responsi terhenti seketika. Kakak-kakak tersebut meminta izin untuk berbicara di depan kelas pada asisten, yang tentunya disetujui, kemudian salah satu dari mereka memperkenalkan diri dan memulai pengumuman. Ah, ternyata kakak yang berbicara ini adalah koordinator asisten praktikum, dan kakak-kakak lainnya (sepertinya terlalu mudah untuk ditebak) merupakan asisten praktikum.Mereka membagikan modul praktikum (yang hanya ada modul 1-nya saja) yang diakhiri dengan dua lembar tugas pendahuluan praktikum. Kakak kordas akhirnya memberitahu kami bahwa tugas pendahuluan harus selesai dan terkumpul dengan NIM berurutan esok hari pukul 5 sore. Kami sempat meminta keringanan, namun pada akhirnya sepakat dengan waktu yang diberikan.
Maka, hari itu, satu angkatan Power 2011 semaput mencari jawaban TP. Dengan kesepakatan, kami membagi tugas pengerjaan TP berdasarkan posisi tempat duduk, kemudian jawaban yang kami peroleh dikumpulkan di selasar PLN sore itu juga untuk difotokopi dan disalin malam harinya.
Singkat cerita, TP sudah diselesaikan (dengan berbagai macam 'perjuangan'; mulai dari tak tidur semalaman sampai bolos kuliah) dan dikumpulkan sesuai deadline yang diberikan Kordas. Ada perasaan tenang, sekaligus lelah, menyeruak dalam diriku. Tugas sudah selesai, dan tak ada salahnya untuk sedikit beristirahat, pikirku. Tubuh ini tak sanggup menahan kantuk dan terlelap lebih awal dari jam tidur biasanya (bahkan diri ini tak sempat mematikan komputer sebelumnya!).
Esok paginya, hari Sabtu, terdengar bunyi 'beep' dari telepon selulerku, penanda pesan singkat masuk. Kubuka dan kubaca pesan itu, dan rasa kecewa tak mampu lagi kusembunyikan. Empat setengah lembar double folio bergaris berisi TP yang kukerjakan semalaman itu ternyata harus direvisi. Perjuangan itu serasa sia-sia, hingga membuatku kecewa. Dengan sedikit berat hati, aku mengambil kembali tugas yang harus kukerjakan.
Beberapa saat setelah mengambil TP di sekretariat himpunan, aku berjumpa dengan kakak tingkatku di jurusan di selasar masjid. Kuceritakan bahwa kami harus merevisi TP kami, dan dia menimpalinya dengan kata-kata yang membuatku kembali merenungi apa yang sudah kulakukan.
"angkatan kalian tuh parah banget soalnya. Masa' TP-nya sampe mirip banget gitu se-angkatan?" Ucapnya sambil sedikit tertawa.
Ah, iya juga. Jika begini caranya, bagaimana bisa aku mengerti apa yang kukerjakan? Kau pikir dengan hanya menyalin jawaban itu semalaman hingga mengorbankan waktu tidurmu dan membuatmu terlelap di kelas itu perjuanganmu sudah maksimal? Apakah dengan cara seperti itu cukup untuk membuatmu terlena dan tak waspada?
Yap, revisi TP ini mengingatkanku kembali akan makna sebuah perjuangan, yang menuntut semua hal-hal terbaik yang kita miliki, bukan hanya hal-hal sisa yang hampir kita buang. Ia juga mengajarkanku bahwa totalitas dalam memahami suatu ilmu sangatlah krusial. Tak lupa, ia juga menyadarkanku bahwa hal terbaik hanya akan diraih dengan cara terbaik. Tak ada hasil baik yang diperoleh dengan niat ATAU cara yang tak baik. Dan janganlah terlalu cepat puas dengan apa yang kita kerjakan, karena bisa jadi apa yang menurut kita sudah baik belum tentu benar-benar baik, pun sebaliknya.
Teringat acara Seminar tentang Innovative Leader yang aku ikuti Jumat siang. Saat itu, pemateri yang merupakan CEO General Electric (GE) Indonesia menyatakan bahwa perusahaan yang sukses pemimpin yang sukses adalah yang senantiasa berinovasi dan kreatif, bukan yang pandai meniru.
Tetap semangat!! Allah (melalui Asisten praktikum) tengah memberimu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu, maka janganlah kamu sia-siakan, atau sesal yang akan kau dapatkan.
Selasa, 20 Agustus 2013
H-6 Kick Off Semester 5
Semester 4 sudah lama berlalu, lebih dari tiga bulan lalu. Setelah melalui banyak hal, termasuk Ramadhan dan Idul Fitri, tak terasa semester 5 sudah di depan mata. Rencana studi sudah diajukan ke dosen wali, tinggal menunggu persetujuan beliau. Kelengkapan alat tulis sudah cukup. Buku-buku teks penunjang kuliah semester depan sudah mulai dicari, termasuk dengan meminjam pada kakak tingkat. Info-info mengenai perkuliahan semester ini pun sedikit demi sedikit sudah digali dari memori kakak-kakak tingkat yang lebih berpengalaman.
Semester 5, saat-saat 'legendaris' menurut banyak orang di program studi ini. Saat-saat paling menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Saat-saat dimana IP 'terjun bebas' (naudzubillahi min dzalik). Saat-saat dimana 24 jam sehari dan 7 hari seminggu terasa amat sangat berharga, sampai-sampai waktu tidur pun bisa saja dikorbankan. TP praktikum segunung. Tes awal praktikum yang juga bikin deg-degan. Kepentingan akademik yang (kerap) berbenturan dengan kepentingan organisasi. Dan sederetan cerita 'horor' nan 'legendaris' lainnya. Kisah-kisah ini bisa jadi penghancur semangat, namun bisa juga jadi pemicu semangat. Yah, kembali ke orangnya.
Bagiku, semester ini jadi tantangan 'serius', karena aku sudah tidak bisa 'main-main' seperti semester-semester kemarin. Ini sangat terkait dengan masa depanku nantinya. Waktuku sudah tak banyak: dua tahun lagi. Dan tugasku masih amat banyak. Tanggung jawabku juga tak kalah banyaknya. Dan jatah hariku di dunia juga semakin berkurang. Menyesal di kemudian hari merupakan hal yang tak ingin kualami.
"belajarlah untuk lebih tegas pada diri sendiri", ujar salah satu kakak tingkat.
"mulailah untuk berpikir dan bertindak cepat, karena tanpa berpikir cepat kau akan salah dan tanpa bertindak cepat kau akan kalah", kata Bapak.
"apapun yang terjadi, hadapilah dengan gembira, karena itulah salah satu kunci kesuksesan", kata Ibu.
Semester 5, aku datang untuk 'menaklukkan'mu...!!!
Semester 5, saat-saat 'legendaris' menurut banyak orang di program studi ini. Saat-saat paling menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Saat-saat dimana IP 'terjun bebas' (naudzubillahi min dzalik). Saat-saat dimana 24 jam sehari dan 7 hari seminggu terasa amat sangat berharga, sampai-sampai waktu tidur pun bisa saja dikorbankan. TP praktikum segunung. Tes awal praktikum yang juga bikin deg-degan. Kepentingan akademik yang (kerap) berbenturan dengan kepentingan organisasi. Dan sederetan cerita 'horor' nan 'legendaris' lainnya. Kisah-kisah ini bisa jadi penghancur semangat, namun bisa juga jadi pemicu semangat. Yah, kembali ke orangnya.
Bagiku, semester ini jadi tantangan 'serius', karena aku sudah tidak bisa 'main-main' seperti semester-semester kemarin. Ini sangat terkait dengan masa depanku nantinya. Waktuku sudah tak banyak: dua tahun lagi. Dan tugasku masih amat banyak. Tanggung jawabku juga tak kalah banyaknya. Dan jatah hariku di dunia juga semakin berkurang. Menyesal di kemudian hari merupakan hal yang tak ingin kualami.
"belajarlah untuk lebih tegas pada diri sendiri", ujar salah satu kakak tingkat.
"mulailah untuk berpikir dan bertindak cepat, karena tanpa berpikir cepat kau akan salah dan tanpa bertindak cepat kau akan kalah", kata Bapak.
"apapun yang terjadi, hadapilah dengan gembira, karena itulah salah satu kunci kesuksesan", kata Ibu.
Semester 5, aku datang untuk 'menaklukkan'mu...!!!
Kamis, 16 Mei 2013
Just The Other Side of UAS
UAS. Ujian Akhir Semester. Ia bisa diartikan sebagai "sarana evaluasi keberlangsungan pembelajaran satu semester terakhir (terutama setelah Ujian Tengah Semester/UTS)", bisa juga sebagai "kesempatan terakhir untuk memperbaiki nilai agar bisa lulus semester ini". Di sini, kedua makna ini dipakai, meski oleh matakuliah yang berbeda-beda. Makna pertama digunakan oleh matakuliah yang hanya memiliki satu kali UTS, sementara yang kedua digunakan oleh matakuliah yang memiliki dua atau lebih UTS.
UAS definisi pertama tak akan dibahas lebih mendalam, karena ia memang dialami seluruh mahasiswa, seperti halnya UTS. Kita ingin membahas UAS definisi kedua, yang sebenarnya masih bisa dihindari dengan berusaha sebaik mungkin di UTS-UTS sebelumnya (serta kuis dan PR yang punya bagian cukup besar bagi beberapa matakuliah). UAS yang dialokasikan bagi orang-orang yang terancam tidak lulus dan mengulang di semester berikutnya.
Jujur, saya pernah (dan sedang) dalam kondisi ini, dan saya merasa bersedih saat harus mengikuti UAS tipe ini. Merasa rendah diri dibanding teman-teman lain yang lulus, merasa kecewa dengan hasil yang ada, merasa menyesal atas kelalaian yang dilakukan satu semester ini, dan lain-lain. Saya kadang malu, karena saya di sini bukan dengan usaha yang ringan semudah membalikkan telapak tangan. Saya bisa di sini karena takdir Allah (itu pasti) yang harus diraih dengan banyak usaha, banyak pengorbanan. Tapi saya justru masih belum merasa maksimal. Saya merasa belum mengeluarkan kemampuan terbaik saya untuk meraih cita-cita saya.
Tapi, nasi telah jadi bubur. Yang bisa dilakukan hanyalah membuat bubur ini bisa lezat dimakan (diambil dari status seorang guru di SMA, dengan perubahan redaksi, in syaa Allah tidak merubah maknanya). Ya, satu semester ini memang belum saya jalani dengan baik. Tapi, saya masih diberi kesempatan untuk mengakhiri semester ini dengan manis meski tak seperti yang diinginkan. Syukurilah keberadaan UAS ini, karena ini berarti Allah masih memberi saya kesempatan untuk memperbaiki nilai saya. Syukurilah UAS ini, karena ini berarti Allah masih sayang pada kita, meski (bisa jadi) ia murka karena kita telah lalai dan menyalahgunakan nikmat yang Ia berikan. Syukurilah UAS ini, karena ini bisa jadi titik balik kita yang sebelumnya menukik menuju cakrawala dan tenggelam bersama mentari senja untuk terbang mengangkasa, meraih bintang di angkasa yang luas. Karena kita adalah muslim, yang meyakini bahwa segala jenis ujian yang dihadapi berasal dari-Nya, dan Ia tak akan membebani pundak hamba-Nya dengan beban yang melebihi kemampuan maksimal hambanya itu (QS Al Baqarah 286).
Maka, tetaplah berusaha, jangan berhenti berharap, dan pasrahkan semua hasil usaha kita pada-Nya. Allah menciptakan kegagalan bukan karena Ia benci kita, tapi karena Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Bersyukurlah, karena kita masih diberi kesempatan untuk memutar balik langkah kita, kembali ke trek yang benar, lalu melanjutkan perjalanan menuju ridho-Nya.
“sungguh menakjubkan
urusan seorang mu’min. Semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak
dimiliki kecuali oleh seorang mu’min. Apabila ia mendapat kesenangan ia
bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. dan apabila ia mendapat musibah, ia
bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR Muslim)
Allah, kuatkan hati dan iman ini, agar ia tak runtuh meski dihantam badai ujian dan cobaan....
Bismillah, in syaa Allah saya bisa!!!
Wallahu a'lam bish shawab...
Senin, 13 Mei 2013
Belajar dari Wigan
Siapa yang menonton final piala FA malam minggu kemarin? Saya jujur tidak menonton, tapi saya meng-update infonya keesokan harinya. Dan hasil pertandingan ini (saya rasa) cukup mengejutkan banyak pihak ketika Wigan Athletic mampu menundukkan Manchester City yang lebih diunggulkan di menit-menit akhir laga.
Entah mengapa, saya terkadang lebih mendukung tim non-unggulan dalam suatu pertandingan dibanding tim Unggulan, seperti saat Turki vs Korea Selatan di perebutan juara 3 Piala Dunia 2002 lalu saya mendukung Turki dibanding tuan rumah yang pastinya dapat dukungan lebih banyak. Dan saat itu, Turki menang dengan salah satu golnya dicetak kurang dari enam puluh detik setelah wasit meniup peluit tanda kick off babak pertama dimulai.
Pun di pertandingan semalam. Saya mendukung Wigan, tim yang baru berdiri kurang lebih setahun sebelum Persib Bandung didirikan, baru promosi ke Premiere League (kasta tertinggi sepak bola Inggris) tahun 2006, beberapa pemain inti tengah cedera, dan musim ini berada di posisi 18 dan masih terancam degradasi menyusul Reading dan QPR yang sudah pasti turun kasta. Tak berhenti di sana, lawan yang harus dihadapi bukanlah lawan yang lemah. Manchester City, runner up Premiere League musim ini setelah juara di musim lalu, dan juara FA Cup 2 musim yang lalu. Tim bermaterikan pemain bintang dengan gaji selangit pasca klub diakuisisi oleh pengusaha minyak kaya asal Timur Tengah, seperti Kun Aguero, Carlos Tevez, Samir Nasri, dan sederet nama-nama terkenal lainnya. Tak banyak yang memprediksi Wigan akan menaklukkan Man. City, karena rekor pertemuan pun lebih berpihak pada Manchester Biru. 7 pertemuan terakhir melawan Wigan berakhir dengan kemenangan cleansheet. Di FA Cup baru kebobolan oleh Demba Ba saat melawan Chelsea di semifinal (laga yang menurut sebagian orang dianggap 'Final Kepagian', karena di sisi lain Wigan 'hanya' bertemu tim non-Premiere League, Milwall).
Tapi, siapa sangka jika Joe Hart harus kebobolan dua kali di turnamen sepakbola di dunia edisi tahun ini, dan menyaksikan timnya harus rela nirgelar musim ini? Ya, Ben Watson, pemain pengganti yang enam bulan lalu mengalami patah kaki ini berhasil menanduk bola hasil tendangan sudut dan mencetak gol kemenangan bagi timnya di menit akhir laga. Gol tunggalnya cukup untuk mengantarkan The Latics meraih piala besar pertamanya sepanjang sejarah klub. Dan gol ini (semoga) meningkatkan motivasi tim agar selamat dari jurang degradasi musim ini.
Kali ini, saya bukan ingin membahas taktik dan formasi yang dipakai kedua tim, bukan juga menganalisis pertandingan, karena saya masih sangat awam mengenai hal ini. Saya hanya ingin mengambil secuil hikmah dari pertandingan ini. Betapa di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Terlalu banyak kisah-kisah 'si Lemah' yang mampu mengalahkan 'si Kuat', seperti kura-kura yang menang balap lari lawan kelinci (fabel masa kecil, hehe), Cinderella, Putri Salju, Captain Tsubatsa, dan lain-lain, dan pertandingan ini jadi salah satunya (meskipun ini bukanlah cerita fiksi seperti contoh-contoh yang telah disebutkan sebelumnya). Maka, jika 'keajaiban' ini bisa terjadi, maka pantaskah kita menyerah dan pesimis sebelum terjun ke medan pertempuran? Bukankah di zaman dahulu pasukan Muslim juga bisa mengalahkan orang-orang kafir meski secara jumlah kalah jauh? Bukankah Wigan juga memiliki skuad yang minim dan kalah kualitas dari Manchester City yang bergelimang pemain kelas dunia? Maka, pelajaran pertama yang dapat dipetik ialah TAK ADA YANG TAK MUNGKIN DI DUNIA INI, JANGAN MENGABAIKAN PERAN ALLAH DALAM USAHA KITA, karena sukses tidaknya kita, menang tidaknya Wigan semalam, semua Allah yang menentukan -- Ia Maha Kuasa atas makhluk-Nya. Dan Allah takkan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang merubahnya (Ar Ra'du : 11)
Kemenangan Wigan pun memiliki keistimewaannya sendiri. Ketika AC Milan menggunakan formasi 'Parkir Bus' untuk menghentikan Barcelona dengan tiki-taka sebagai ciri khasnya, Wigan tetap memainkan sepakbola terbuka seperti biasanya. Namun, ini justru ampuh untuk mematikan City di babak pertama karena pemain Wigan disiplin dalam bertahan dan menyerang, meski lemah di penyelesaian akhir. Mereka tetap menjadi diri mereka sendiri, sesuatu yang jarang dilakukan tim yang cenderung lebih lemah kala bertemu tim yang lebih kuat. Pelajaran kedua, JADILAH DIRI SENDIRI DAN YAKINLAH PADA KEMAMPUAN YANG KITA PUNYA, SERTA MANFAATKAN IA DENGAN BAIK. Allah menciptakan setiap makhluknya dengan potensi dan kemampuannya masing-masing, maka tugas kita adalah kembangkan potensi itu dan manfaatkan ia dengan baik. Wigan tahu cara memanfaatkan karakternya dengan baik saat melawan City, dan mereka akhirnya menang dengan terhormat, menang dengan kerja keras tanpa mengorbankan jati diri mereka.
Kemenangan ini bukannya diraih dengan mudah. Butuh 90 menit penuh perjuangan dan kesabaran kala menyerang pertahanan City dan butuh usaha ekstra untuk membuat peluang City tak berbuah gol. Butuh 90 menit pertandingan dengan City yang terus menyerang dan serangan Wigan yang selalu bisa diselamatkan barisan pertahanan City, hingga akhirnya kesempatan tendangan sudut itu tiba, dan Ben Watson tak menyiakannya, menyundul bola ke arah gawang, membuat Joe Hart terpaku melihat gawangnya bobol untuk kedua kalinya di turnamen ini. Maka, pelajaran ketiga adalah BERJUANGLAH SAMPAI AKHIR DAN JANGAN SIA-SIAKAN PELUANG YANG ADA. Kita tak pernah tahu bagian hidup kita yang sebelah mana yang membawa kita pada keberhasilan, dan bagian hidup kita yang mana yang membawa kita pada kegagalan. Jadi, tetap berjuang hingga detik-detik terakhir, maksimalkan peluang dan kesempatan yang ada. Karena kita hidup hanya sekali, dan tak ada yang tahu kapankah ajal akan menjemputnya. Bisa jadi hari ini, besok, atau kapanpun. Manfaatkanlah waktu yang ada untuk senantiasa menabung untuk kehidupan mendatang (akhirat) yang lebih kekal dan nyata, jangan sia-siakan untuk kehidupan saat ini yang fana dan sementara (dunia).
Saya yakin masih banyak pelajaran yang dapat diambil dari pertandingan ini. Namun ilmu saya masih terbatas. Jadi, bagi teman-teman yang dapat mengambil hikmah lain silakan di-share di komentar atau media lain. Mari saling mengingatkan, mari saling berbagi ilmu untuk kebaikan bersama kini dan nanti.
Sedikit mengutip pernyataan dari Ben Watson, sang pencetak gol penentu kemenangan Wigan, ketika ditanya wartawan mengenai responnya atas pertandingan malam kemarin. "Waktu enam bulan adalah waktu yang panjang karena kaki saya patah. Tapi, saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Mereka membantu saya melewati itu semua. Saya percaya, jika Anda bekerja keras maka hasilnya bakal layak. Semuanya seperti sudah ditakdirkan untuk terjadi. Maksud saya.. enam bulan lalu kaki saya patah, sekarang saya bermain di final Piala FA dan mencetak gol kemenangan."
Wallahu A'lam Bish Shawaab.
Kamis, 09 Mei 2013
Merajut Asa Part 3: Jalan Itu Tak Selalu Mulus
Jalan itu tak selalu mulus.
Selalu ada saja penghalang dan rintangan yang melintang.
Selalu ada saja penghalang dan rintangan yang melintang.
Mulai dari kerikil kecil yang kerap membuat orang tersandung
Hingga batu besar yang membuat orang menyerah.
Jalan itu tak selalu mulus.
Selalu ada yang harus dikorbankan.
Entah itu waktu luang, istirahat, kesenangan,
Atau mungkin orang-orang terkasih, harta, bahkan nyawa.
Tapi, itulah perjuangan.
Jalan itu tak selalu mulus.
Air mata, kesempitan, kesulitan, luka,
Akan berusaha lambatkan laju langkah ini
Sebelum akhirnya tiba pada
Senyum, kelapangan, kemudahan, dan penyembuhan.
Jalan ini tak selalu mulus.
Bukankah Ia memang menyediakan dua jalan
Yang bisa kita pilih salah satunya?
Maka, pilihlah jalan yang mampu dekatkan diri pada-Nya
meski, sekali lagi, JALAN ITU TAK SELALU MULUS
Jalan itu tak selalu mulus.
Ada air mata sebelum tawa
Ada kesempitan sebelum kelapangan
Ada kesulitan sebelum kemudahan
Ada luka sebelum penyembuhan
Tapi, satu yang pasti.
Ada SABAR yang menjembatani mereka.
Jalan itu memang tak selalu mulus.
Tapi, bukankah kita masih memiliki Dia
Yang bersedia mendengar keluh kesahmu
Dan mengabulkan permohonanmu?
Dia-lah pemilik segala ujian
dan Dia pula pemilik segala solusi.
Dia menjanjikan KEMUDAHAN
Bagi orang yang sanggup menjalani KESULITAN
Dia yang mencintai Hamba-Nya yang selalu berusaha dan berdoa pada-Nya
Dia yang selalu bersama orang yang sabar
Dia yang menyediakan SURGA dan ISINYA bagi Hamba-Nya yang ikhlas berjuang di JALAN-NYA
Maka, teruslah mendekati-Nya,
Karena hanya Dia-lah yang layak dipuja dan hanya Dia-lah sumber segala pertolongan.
Jalan ini tak pernah mulus, kawan.
Selalu ada jalan mendaki nan curam yang temani langkah kita.
Namun, tanpa ia (jalan mendaki nan curam), apakah bisa kita mencapai puncak tertinggi?
Karena jalan yang datar hanya akan membuat kita terpaku di tingkat yang sama....
Wallahu A'lam Bish Shawaab...
Minggu, 21 April 2013
Think Like a Child
bismillah... Sudah lama tak menyentuh blog.... #kangeeen
Sambil melepas rindu, kita mulai dengan sebuah kisah dulu ya.... Check this out...
**
Suatu hari....
Tukang Kredit : Assalamualaikum....
Anak : Waalaikumsalam.... Bade nagih kreditan mamah nya?
T: Muhun. Mamahna aya?
A: Henteu. Mamahna nuju ka Majalaya.
T: Ari Eneng terang henteu Majalaya di mana?
A: Henteu. Ke ditaroskeun ka Mamah heula. Maah, ari Majalaya teh di beulah mana??
**
Ada yang kenal percakapan ini? Yap, ini adalah kutipan dari suatu acara humor berbahasa Sunda (sebut saja Cangehgar) di salah satu radio di Bandung. Buat teman-teman yang belum bisa berbahasa Sunda, inti percakapan ini adalah mengenai seorang tukang kredit yang menagih uang kredit pada salah satu ibu rumah tangga, lalu si ibu ini menyuruh si anak untuk berbohong pada tukang kredit ini dengan mengatakan ibunya sedang pergi ke Majalaya. Ketika tukang kredit ini bertanya balik pada si anak mengenai letak Majalaya, si anak ini -- yang memang tidak tahu -- dengan polosnya berteriak ke dalam rumah, bertanya pada sang ibu. Akhirnya terbongkarlah kebohongan ibu ini.
Dari kisah ini, saya tergelitik dengan kepolosan anak itu. Betapa anak-anak memang masih sangat polos, tidak bisa berbohong. Berbeda dengan kita yang sudah berpuluh atau bahkan beratus kali berbohong, mulai dari membohongi orang tua kita, teman kita, guru kita, bahkan membohongi diri sendiri dan (berusaha) membohongi Allah. Na'uudzu Billaahi Min Dzaalik.... #istighfaar
Padahal, ilmu kita (dibanding adik-adik kita yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Taman Kanak-Kanak, apalagi Pendidikan Anak Usia Dini) tentulah jauh lebih banyak. Kita juga harusnya sudah tahu mengapa harus berkata dan berbuat jujur, sudah diajarkan sejak SD, baik di pelajaran Pendidikan Agama maupun Pendidikan Kewarganegaraan. Dan pastinya kita sudah sering mendengar kisah teladan kita, Nabi Muhammad -- semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk beliau, yang terkenal di Bangsa Arab sebagai Al Amin atau 'orang yang dapat dipercaya' sejak jauh sebelum ia diutus sebagai rasul terakhir di muka bumi. Dan kita (yang katanya) pengikutnya, harusnya menjalankan sunnah-sunnahnya dan meniru akhlak terpuji beliau, termasuk jujur, bukan?
Cobalah tanya pada diri sendiri, sudahkah kita berusaha untuk jujur dalam setiap kegiatan kita? Sudahkah kita jujur dalam mengerjakan PR dari dosen kita? Sudahkah kita berkata apa adanya tentang kondisi kita pada orang lain? Masihkah kita bersembunyi dalam topeng-topeng kebohongan agar orang lain tak tahu busuknya kita? Atau masihkah kita berkata "saya beriman" padahal hati ingkar? Masihkah kita menodai syahadat ini dengan percaya pada selain-Nya?
"berkatalah yang baik, atau diam..." (Al Hadits)
Wallaahu A'lam Bish Shawaaab...
Jumat, 04 Januari 2013
Merajut Asa Part 2: ITB, Mimpi yang Jadi Nyata
wah, sedikit share tentang pengalaman saat daftar SNMPTN yaa... semoga bisa menginspirasi...
kalau buka grup Aku Masuk ITB teh bawaannya jadi inget zaman SMA dulu, ketika masuk ITB terlihat gak mungkin.. kendalanya ya biaya yang terlihat mahaaaal bangeet, minder duluan karena dari sekolah belum ada yang masuk ITB, dan lain-lain. Setelah sosialisasi kakak-kakak mahasiswa/i ITB ke sekolah, teman-teman sering bergurau "cie, calon mahasiswa ITB" setiap menyapaku, padahal hati belum yakin untuk memilih ITB, baru tergerak untuk kuliah di jurusan teknik sesuai cita-cita sejak SD. Namun, setelah sekian lama, hati ini makin mantap memilih ITB, lalu ketika SNMPTN undangan akhirnya ITB menjadi pilihan, meski dalam hati masih pesimis. Apalagi fakultas/sekolah yang dipilih katanya persaingannya sengit, dan saya cuma bermodal formulir bidikmisi karena keluarga takkan mampu membayar 55 juta biaya awal masuk seperti mahasiswa lain.
Bismillahi tawakkaltu 'alallah, saya mulai bersiap untuk tidak diterima SNMPTN undangan. Mulai menabung untuk biaya SNMPTN tulis, mulai merancang stategi memilih fakultas, ikut-ikutan try out SNMPTN untuk mengukur kemampuan dan kesiapan, dan lain-lain. 18 Mei 2011, hari yang takkan kulupakan. Hari itu, saya dinyatakan lolos SNMPTN undangan di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. setengah tidak percaya saya menerima kabar ini, sampai-sampai saya menanyakan berkali-kali pada orang yang memberitahu kabar ini. alhamdulillah, semua terasa seperti mimpi. apalagi ketika kemudian diumumkan bahwa saya termasuk satu dari 700 mahasiswa/i yang memperoleh beasiswa bidikmisi. Ya Allah, gak pernah terbayangkan sebelumnya kalau saya bakalan satu kelas dengan teman-teman ber-BMW, teman-teman peserta olimpiade tingkat nasional dan internasional, teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia.
*jangan takut untuk bermimpi.
*biarkan mimpi itu membentang seluas samudera, lambungkan ia setinggi langit, nyalakan ia seterang matahari, menghujam sekuat akar, namun tetap suci sejernih embun pagi...
*libatkan Ia dalam usaha meraih mimpimu, karena semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya....
Merajut Asa
Asa itu masih ada...
Asa itu belum hilang...
Meskipun harus terjatuh berkali-kali...
Meski tubuh lebam dan berdarah-darah...
Meski hati berjuta kali terluka...
Ia lebih keras dari karang...
Ia tak rela gugur meski derita tak kunjung usai...
Ia tak sudi terlepas dari pikiran ini...
Selalu berusaha menjadi trending topic di renunganku...
Meski tubuh berdarah-darah...
Meski segenap hati luluh lantak...
Aku memang tak tahu...
Apakah ia akan menjelma di dunia nyata..
Atau selamanya menjadi wacana...
Aku juga tak tahu...
Sampai kapan ia akan bertahta dalam setiap helaan napas...
Kapan ia akan layu dan mati...
Yang aku tahu...
Aku harus berusaha merealisasikannya...
Membuatnya terbebas dari alam bawah sadar...
Menjadikannya wacana yang nyata...
Bukan sekadar pepesan kosong, apalagi bualan...
Bila ia berhasil menemaniku di dunia nyata...
Biarkan aku menjaganya, membuatnya tumbuh dan berkembang...
Membuatnya tak hanya baik untukku, namun juga bagi sekelilingku...
Namun bila ia tak berhasil menjadi nyata...
Biarkan aku bersabar dan mengusahakan yang lebih baik...
Karena aku percaya...
Dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk Makhluk-Nya...
Apalagi bagi Hamba-Nya yang beriman dan bertakwa...
Tak lupa munajat kusampaikan pada Sang Khalik...
Karena Dialah yang mengatur segalanya...
Rabb...
Jangan biarkan hamba berputus asa dari rahmat-Mu...
Istiqamahkan hamba di Jalan-Mu...
Naungi hamba dengan Rahman dan Rahim-Mu...
Bersihkan hamba dari segala noda dan dosa...
Masukkan hamba ke dalam golongan orang-orang yang beruntung...
Aamiin...
*jangan takut untuk bermimpi....
*biarkan mimpi itu membentang seluas angkasa, membumbung setinggi langit, menyala seterang matahari, menghujam sekuat akar, namun tetap suci sejernih embun pagi....
*libatkan Ia dalam usaha meraih mimpimu, karena semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya....
Langganan:
Postingan (Atom)















