Rabu, 31 Oktober 2012

Kamiku: Kami Ada untuk Kuningan

Tadi pagi (menjelang siang), kesempatan berharga hadir di depan mata, saat Kamiku, Keluarga Mahasiswa ITB Kuningan, bertemu di Labtek VIII, depan TU FMIPA. Disebut kesempatan berharga karena sejauh ini kegiatan masing-masing dari kami jauh berbeda, apalagi kami yang tingkat 2 sudah mulai disibukkan dengan agenda kuliah, UTS, praktikum, syukwis, de el el. Lebih senang lagi ketika angkatan 2011 bisa full team. Hmm,, sesuatu hal yang jarang terjadi, sehingga momen ini dimanfaatkan untuk saling mengetahui kondisi satu sama lain. Ada yang baru dilantik Minggu Subuh tadi, ada yang hendak Kuliah Lapangan Besar ke Lampung, ada yang hendak UTS, dan banyak lagi kabar yang dapat dibagi. Oh, ya. Kehadiran 2012 juga memberi warna tersendiri, karena dari sinilah obrolan dan proker mulai berjalan. Plus kehadiran petinggi-petinggi (angkatan 2010), pertemuan ini terasa hangat dan menyegarkan kembali ikatan ukhuwah yang mulai lesu.

Banyak hal yang dibincangkan dalam pertemuan tadi siang, mulai dari agenda tahunan kami, Kamiku Goes to School (acara sosialisasi ITB ke SMA-SMA di Kuningan), dimana telah terpilih ketua pelaksana dari angkatan 2011, rencana pembuatan jaket dan kaos Kamiku, agenda Kamiku Fun Days, acara keakraban anggota Kamiku, tugas angkatan 2012 untuk mengumpulkan seluruh anggota Kamiku untuk berfoto bersama, dan sosialisasi program danus.

Suasana makin siang. Agenda silaturrahim pun usai, dan 2012 mulai meninggalkan TKP. Rapat yang dikira telah usai ternyata masih berlanjut dengan pembahasan mengenai program besar yang ingin dilaksanakan di Kamiku. Jujur, aku merasa salut pada teman-teman yang memiliki inovasi luar biasa untuk mewujudkan Kuningan yang lebih maju. Jujur, semangat yang kumiliki masih sangat jauh dibanding mereka. Aku masih sering cenderung egois dan hanya berpikir jangka pendek dan sempit dan mengabaikan kemungkinan yang akan terjadi di masa-masa yang akan datang di lingkup wilayah yang lebih luas. Selama ini aku masih takut bermmpi, padahal bukankah mimpi adalah awal dari beberapa hal yang luar biasa? Coba lihat orang-orang sukses di masa lampau. Mereka juga memiliki mimpi yang besar di zamannya. Namun, mereka tidak membiarkannya sekadar jadi mimpi; mereka berusaha mewujudkannya. Mereka terus mencoba agar mimpi mereka dapat menjadi nyata. Lalu, bagaimanakah dengan dirimu? Bukankah orang-orang di luar sana berharap agar kau jadi sosok pemimpin masa depan yang mampu memakmurkan negeri ini? Lantas, mengapa tak segera merajut mimpi dan menyusun target-target yang ingin dipenuhi?
Siap untuk bermimpi untuk Kuningan?

[bukan] tulisan galau

ceritanya, seminggu yang lalu aku mulai beres-beres buat pulang ke rumah orang tua di Kuningan sana. Karena kamar pun lagi berantakan banget, akhirnya sekalian aku beresin barang-barang di kamar, terutama buku-buku. pas lagi memilah buku yang masih bisa dipakai sama yang enggak, aku menemukan sebuah buku batik yang kubeli pas SMA kelas 3, waktu itu aku beli buku batik buat mapel matematika dan fisika yang catetan dan latihannya super menguras lembaran kertas. aku mengecek lembar-lembar belakang buku, dan kutemukan sebuah kata-kata iseng yang kutulis saat kelas 3 SMA. kata-kata berbahasa inggris yang ditulis pas masa-masa 'galau' dulu, dengan tata bahasa yang masih kacau. ah, pokoknya mah bikin ketawa-ketawa sendiri lah. separah itukah saya dulu??

haha, mendadak teringat pada orang yang di-galau-kan itu. orang yang dulu diingat-ingat. orang yang tak terlihat bertahun-tahun dan tiba-tiba muncul lagi dengan kondisi yang berbeda. aku gak tahu apakah kondisiku saat ini dan kemarin-kemarin sama atau tidak, tapi yang jelas, entah kenapa, kata-kata galau itu mulai terganti dengan 'ya udah lah ya...' dengan nada datar (kata-kata yang dibenci oleh sebagian temanku karena terkesan terlalu datar dan pasrah). mungkin memang sudah bukan saatnya lagi memikirkan hal yang tak terlalu penting dan terlalu spekulatif untuk saat ini. lha kerjaan aja banyak yang belum beres toh. iya kan? tips 'dengan menyibukkan diri, terkadang pikiran-pikiran itu akan hilang dengan sendirinya' seejauh ini masih manjur buatku. aku masih terlalu kanak-kanak untuk memikirkan pendamping hidup, nikah, dll (ups, akhirnya ketahuan juga, haha)

namun, terjadi sedikit perubahan saat pulang ke rumah, ketika aku melihat sendiri sampel kasus kegagalan dalam memilih teman sehidup semati (suami.red). ternyata bisa fatal juga, dan bisa berimbas pada keturunan, keluarga besar, masyarakat, dan skala yang lebih luas lagi. kekerasan dalam rumah tangga misalnya, pertengkaran antara orang tua bukannya gak mungkin berimbas ke anak kan? kalau udah berimbas ke anak, nanti bisa meluap ke mana-mana. dan itu berawal dari masalah yang bagi sebagian orang sepele: salah memilh dan gak bisa saling memahami. kejadian ini membukakan mataku, kalau ini memang harus disiapkan dengan sebaik-baiknya. bukan masalah manja atau mandiri, siap atau tidak, dsb. bukankah kita sudah dibekali dengan kemampuan membedakan yang baik dan buruk? bukankah kita juga diberi petunjuk lewat Al-Qur'an dan Sunnah? jadi, yuk mulai persiapkan diri, jaga hati, jaga diri, tingkatkan iman, perbaiki akhlaq, kuatkan jasmani, perbanyak ilmu,. insya Allah akan indah pada waktunya, seperti taman bunga mawar yang akan terlihat indah ketika bunganya yang warna warni mulai bermekaran....

*tak bermaksud bikin galau, hanya mengingatkan untuk segera mempersiapkan

Kamis, 11 Oktober 2012

Belum Saatnya....

Belum saatnya.... kurang lebih begitulah status yang kutulis di akun Facebook kemarin. Mungkin pantas menggambarkan kondisi hati sekarang.

Hati?? Perasaan?? Sesuatu yang mungkin sudah lama tak terusik karena terlalu lama tenggelam dalam samudera logika dan rangkaian-rangkaian yang dengan ajaibnya memiliki keunikan masing-masing... (ups, kok malah nyempet ke akademik??).

Beberapa kejadian tak terduga belakangan ini membuatku sadar, aku masih terlalu rapuh untuk menahan semuanya. Terkadang sesuatu yang menurut sebagian besar manusia tak akan terjadi justru - atas seizin Allah - terjadi, membuat nalar kadang tak mampu menjangkau fakta. Kejadian tak terduga yang mungkin terjadi sekali atau dua kali (bisa jadi lebih), namun mengusik pikiran berhari-hari. Kalau sudah begini, menyerahkan semuanya pada-Nya adalah pilihan paling bijak. Dan yakinlah, He will give us the best choice....

Sampai kapan kerapuhan ini akan bertahan, aku tak tahu. Akankah ia makin kuat bak besi yang bijih besi yang diolah menjadi kawat baja, atau justru keropos dimakan usia bak gubuk tua yang termakan rayap, atau malah roboh bak tertiup tornado? Yang aku tahu, saat ini aku masih terlalu rapuh untuk menghadapi semuanya. Mungkin terkesan pengecut, namun menghindarinya lebih baik bagiku saat ini.

karena ia fitrah yang Ia ciptakan di muka bumi
tak perlulah kau berusaha memupuknya,
karena akan makin indah bila ia tumbuh dan berbunga dengan sendirinya
tiada guna pula kau berupaya membunuhnya, karena itu akan lebih menyakitkan daripada membiarkannya redup dan mati bak api unggun yang kehabisan kayu bakar....

Biarlah ia indah pada waktunya....

Rabu, 10 Oktober 2012

Challenge Accepted!! - Secuil Motivasi Menjelang Ujian

sebuah SMS muncul di ponselku, meronta-ronta untuk segera dibuka. aku yang tak ingin melihatnya mennggu lama dalam daftar inbox yang belum terbaca akhirnya membukanya, meskipun bapak dosen di hadapanku sedang menjelaskan Rangkaian Tiga Fasa dengan penuh semangat (maaf pak, sejenak aku mendua, hehe:D). ternyata Raja Jarkom Jurusan yang mengirim pesan. Isinya pemberitahuan bahwa salah satu mata kuliah spesial Aroes Koeat semester ini akan menyelenggarakan UTS tanggal 11 Oktober 2012, alias besok. Sejenak aku memandangi SMS itu tak percaya. "gak salah nih?" tanyaku dalam hati. Namun, pesan itu memang benar adanya. Aku menghela napas.Tiga UTS dalam tiga hari berturut-turut. Ya, sehari setelahnya, matakuliah dari prodi matematika sudah menanti. Dan, last but not least, salah satu sekuel dari trilogi rangkaian listrik sudah mengunci salah satu weekend minggu ini. Baiklah...

teringat hampir satu semester yang lalu, saat 3 ujian menghadang dalam 4 hari. Dan mengeluh jadi hal yang pertama kulakukan. Tak disangka sekuel yang lebih horror ternyata sudah di depan mata. Makin terasa bila dua semester yang telah kulalui sebelumnya memang "Tahap Paling Bahagia". Saat hidup begitu terjadwal, saat waktu luang terasa banyak (meski kenyataannya tak mampu digunakan dengan baik), saat tak banyak waktu tersita untuk kegiatan lain,... But live must go on.... "Telah berlalu masa-masa tidur wahai jiwa pembaharu" sepertinya menjadi semboyan yang tepat untuk memotivasiku saat ini....

Akankah semua ini hanya membuatmu mengeluh, ngomel-ngomel gak jelas (termasuk di tulisan ini jangan2, ckckckck), dan menyalahkan keadaan? tidakkah keadaan ini membuatmu tergerak untuk berubah?? tidak adakah keinginan dalam hatimu untuk bertindak?? atau terlalu berat semua ini bagimu sehingga diam adalah satu-satunya yang bisa kau lakukan??

"Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya...." (2:286)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (13:11)
 
"Allah tak akan memberikan cobaan yang kau tak sanggup untuk memikulnya.
Allah tak akan merubah keadaanmu jika kau tak berusaha mengubahnya
tegarkan dirimu dengan janji Allah adalah pasti...." (Tashiru - terpuruk)

Pikirkanlah kembali. apakah ketika sebuah tantangan, ujian, cobaan, atau istilah-istilah lain yang sejenis ada di hadapanmu, tak inginkah kau menyambutnya dengan optimis seraya berkata "challenge accepted", lantas berusaha sekuat tenaga untuk menaklukkannya? Dan saat motivasi dan daya mulai berkurang, ingatlah, janji-Nya takkan Ia ingkari (renungan bagi yang sering mengobral janji bak dagangan di pasar jumat di depan Salman atau pasar tumpah di Gasibu tiap minggu, terutama yang ngetik ini tulisan).

Bismillah, Insya Allah harapan dan peluang itu masih ada.... Semangat UTS.... Waktunya buka buku dan latihan soal....^^


10 Oktober 2012, TH183\04