Belum saatnya.... kurang lebih begitulah status yang kutulis di akun Facebook kemarin. Mungkin pantas menggambarkan kondisi hati sekarang.
Hati?? Perasaan?? Sesuatu yang mungkin sudah lama tak terusik karena terlalu lama tenggelam dalam samudera logika dan rangkaian-rangkaian yang dengan ajaibnya memiliki keunikan masing-masing... (ups, kok malah nyempet ke akademik??).
Beberapa kejadian tak terduga belakangan ini membuatku sadar, aku masih terlalu rapuh untuk menahan semuanya. Terkadang sesuatu yang menurut sebagian besar manusia tak akan terjadi justru - atas seizin Allah - terjadi, membuat nalar kadang tak mampu menjangkau fakta. Kejadian tak terduga yang mungkin terjadi sekali atau dua kali (bisa jadi lebih), namun mengusik pikiran berhari-hari. Kalau sudah begini, menyerahkan semuanya pada-Nya adalah pilihan paling bijak. Dan yakinlah, He will give us the best choice....
Sampai kapan kerapuhan ini akan bertahan, aku tak tahu. Akankah ia makin kuat bak besi yang bijih besi yang diolah menjadi kawat baja, atau justru keropos dimakan usia bak gubuk tua yang termakan rayap, atau malah roboh bak tertiup tornado? Yang aku tahu, saat ini aku masih terlalu rapuh untuk menghadapi semuanya. Mungkin terkesan pengecut, namun menghindarinya lebih baik bagiku saat ini.
karena ia fitrah yang Ia ciptakan di muka bumi
tak perlulah kau berusaha memupuknya,
karena akan makin indah bila ia tumbuh dan berbunga dengan sendirinya
tiada guna pula kau berupaya membunuhnya, karena itu akan lebih menyakitkan daripada membiarkannya redup dan mati bak api unggun yang kehabisan kayu bakar....
Biarlah ia indah pada waktunya....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar