Selasa, 18 Desember 2012

Kasihnya Tak Terbatas (Bagian 2)


belum lihat bagian 1-nya?? klik di sini yaaa...

Hari demi hari berlalu. Usia wanita itu pun terus bertambah, pun dengan usia anak-anaknya. Si sulung yang tangguh dan mulai menjalani kehidupan akhirnya sebagai mahasiswa, putra satu-satunya yang mulai asyik menggeluti kehidupan sebagai mahasiswa, putri keduanya yang mulai mengalami masa remaja, dan si bungsu yang mulai mengenal dunia sekolah. Rumah pun mulai sepi. Terlebih, suaminya bekerja di luar kota dan pulang hanya beberapa bulan sekali. Saat itu ia tinggal bersama kedua putri kecilnya. kedua putra-putrinya yang lebih besar merantau ke Kota Pelajar.
18 Agustus 2002. Hari yang sangat mengharukan bagi sang ibu. Putri sulungnya berhasil meraih gelar sarjana. kebanggaan besar baginya juga bagi keluarga. Kebanggaan karena jangankan gelar sarjana, keinginan dan kemampuan kulaih pun masih sedikit yang memiliki. Dan putri sulungnya-lah yang mulai mengubah pandangan masyarakat desa itu. Kebahagiaan makin lengkap ketika setahun kemudian sang putri sulung berhasil menjadi seorang apoteker.
Kabar gembira pun datang dari putri keduanya (alias anak ketiga). Penyakit jantungnya yang dulu selalu menghantuinya dan keluarga akhirnya dinyatakan sembuh. padahal, sebelumnya dokter sebelumnya menyarankannya untuk dioperasi. Namun, keluarga tersebut tak sanggup membayar biaya operasi yang saat itu harganya sudah mencapai 20 Juta rupiah. Jangankan untuk operasi, untuk makan dan ongkos sekolah kedua anak tertua saat masih SMA dan SMK saja terkadang harus menjual beras yang ditukar dengan beberapa rupiah plus tempe untuk sarapan. Alhamdulillah...
Namun, kebahagiaan tak pernah luput dari masalah. Si sulung mulai kesulitan mencari pekerjaan. Maklum, saat itu apotek masih langka di daerah itu. Setelah (akhirnya) mendapat pekerjaan di sebuah apotek yang baru buka di wilayah Cirebon, tawaran untuk menjadi dosen di Pulau Burung pun datang padanya. yang memberi tawaran tak lain adalah saudara sang ayah. dengan berbagai pertimbangan, akhirnya dengan berat hati sang ibu melepas sang anak merantau jauh. Makin sepilah hidup sang ibu.
Masalah lain imbul ketika suaminya mulai renta dan mulai terkena badai PHK. Tiga anaknya masih sekolah, apalagi si bungsu yang lulus SD saja belum. Namun, pasangan suami istri ini memang teguh pendirian. Mereka tetap berpegang pada keinginan mereka untuk berlaku adil pada tiap anaknya, salah satunya dengan menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus bangku kuliah. Namun, memang bukan perkara mudah bagi pasangan yang telah mulai menapaki usia senja ini. Beruntung, putri sulungnya bersedia membantu membiayai pendidikan adik-adiknya, terutama adik keduanya yang masih SMA. Sementara adik bungsunya yang asih SD menjadi tanggungan orang tuanya.
Allah ternyata menganugerahkan karunia lain pada keluarga ini. si kecil (yang sekarang makin tumbuh tinggi) ini dipercaya untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Ia pun sering menjadi delegasi sekolah untuk mengikuti lomba-lomba di bidang matematika dan sains. Hasilnya berbuah manis di akhir masa-masa Sekolah Dasar, karena ia menjuarai lomba yang dilaksanakan oleh suatu SMP swasta di daerahnya dan mendapat beasiswa sekolah di sana.
Tak jauh sebelum keberhasilan putri bungsunya, putri sulung pun akhirnya melanjutkan lembar hidupnya ke lembaran rumah tangga. Ia menikah dengan rekan kerjanya. Tak lama setelah menikah, pasangan baru ini pun akhirnya kembali ke tempat kerja mereka. Meski berat, sang ibu harus rela membiarkannya pergi.
Masa akhir tahun ajaran pun tiba. Kedua putrinya yang masih bersekolah berhasil menamatkan studinya di jenjang masing-masing. Si bungsu lulus SD, kakaknya lulus SMA. Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah, lagi-lagi di Kota Pelajar. Sang ibu kembali ditinggal anaknya pergi. Tinggallah ia bersama si bungsu yang juga jarang di rumah karena SMP tempat ia berseekolah adalah full day school. Rasa sepi harus ia pendam dalam hati. Harus ia korbankan keinginannya untuk selalu berkumpul dengan anak-anaknya demi kesuksesan mereka.
Saat si bungsu mulai menginjak kelas 8 SMP, sang ayah mulai berhenti bekerja. Putri kedua pun memutuskan cuti kuliah karena kakak sulungnya mulai kesulitan mendanai pendidikan adik-adiknya setelah berkeluarga. Ibu  pun mulai menunjukkan ketangguhannya. bersama ayah, mereka mulai menggarap lahan warisan orang tua mereka dan mengisi hari tua mereka dengan bercocok tanam. Mencucurkan peluh lebih deras di usia yang makin lanjut, padahal orang-orang sebaya mereka tak jarang lebih sering menghabiskan waktu dengan mengasuh cucunya di rumah. Beruntung, si bungsu masih melaksanakan kebiasaannya mengikuti lomba.Bila menang, ia sering mendapat uang saku dari sekolah sebagai hadiah. Ia tak perlu meminta uang jajan lagi pada orang tuanya sejak itu.
Setahun berselang, putri kedua memutuskan untuk mengundurkan diri dari perguruan tinggi tempatnya kuliah. Namun, tak lama kemudian ia diminta kakaknya yang ada di Pulau burung sana untuk melanjutkan kuliah di sana. Sang ibu harus menghadapi kenyataan pahit lagi. Ditinggal jauh putrinya untuk kedua kalinya. Namun yang paling menggusarkan hatinya ialah anak kedua yang tak kunjung pulang dan studinya tak kunjung usai. Parahnya, ia terkadang sulit dihubungi, hal yang makin membuat orang tua manapun gusar. Tak jarang kegelisahan ini membuat sang ibu menangis saat menatap foto anak laki-laki semata wayangnya itu.
Keberadaan dua kakak beradik nan jauh di sana juga menyibak masalah baru. Konflik rumah tangga di keluarga putri sulung yang sebelumnya tidak terlalu terdengar kini mulai terungkap. sementara itu, putranya pun sudah setahun lebih tidak pulang ke rumah, bahkan untuk sekedar berlebaran bersama seperti yang dilakukan oleh para perantau di desa itu. Sang ibu yang sudah memasuki masa menepause pun makin sering sakit, meskipun sakit yang diderita masih dalam kategori ringan-sedang. Ditambah kesulitan ekonomi yang mendera, lengkaplah sudah kesulitan yang dialami sang Ibu. Sosoknya yang pendiam dan kalem mulai berubah menjadi sensitif, mungkin karena usia yang sudah menua. Akankah masalah-masalah ini membuat sang ibu tak mampu bertahan? Ataukah ia akan makin tangguh dengan kesulitan-kesulitan yang ia hadapi??

Kamis, 13 Desember 2012

Kasihnya Tak Terbatas (bagian 1)


12 Januari 1994. Seorang wanita terbaring menahan sakit di rumah bidan. tubuhnya sudah mulai lemah dan dibanjiri keringat, namun ia terus memperjuangkan agar janin yang telah ia kandung selama kurang lebih sembilan bulan itu dapat beralih status menjadi bayi. Ah, bukan hanya itu. ia ingin janin yang ia kandung menjadi bayi yang sehat dan sempurna fisiknya. Ia terus berjuang , hingga akhirnya suara tangis bayi pun memenuhi kamar itu. Ia merasa senang, namun tubuhnya semakin lemah sehingga membuat ia tak sadarkan diri dengan pendarahan dari rahimnya. Usianya saat itu 37 tahun, usia yang sebenarnya sudah tidak terlalu ideal untuk melahirkan. Kondisi ini membuat bidan yang membantu persalinannya panik. Sempat terlintas pikiran untuk membawa pasiennya ke rumah sakit, namun tak lama kemudian rencana itu urung terjadi karena pasien itu telah sadar kembali.


Bagaimana keadaan sang bayi? Ia terlahir dengan fisik sempurna. Bobotnya lumayan, 3,5 Kg. Panjang tubuhnya? 52 cm, ukuran yang termasuk panjang bagi bayi yang baru lahir, sehingga bobot yang besar itu terlihat kurus dan panjang. Jenis kelaminnya perempuan.

Wanita itu pun akhirnya tersenyum lega. Anak keempatnya lahir dengan selamat. Bayi perempuan ini melengkapi hidupnya yang sebelumnya telah diwarnai oleh dua anak perempuan dan satu anak laki-laki yang ketiganya tengah dalam masa pertumbuhan. Hari-hari baru bagi si bayi pun dimulai.

Hari demi hari berlalu, bayi perempuan ini mulai tumbuh dan berkembang. Perlahan ia mulai bisa tengkurap, duduk, giginya mulai tumbuh, kakinya mulai kuat untuk berdiri, berjalan, lalu berlari, kemudian mulai bisa berbicara. Tak terasa masa balita mulai dijalani oleh si bayi ini.

Di sisi lain, kakak-kakaknya pun mulai tumbuh dewasa. Kakak pertamanya mula merintis mimpi di bangku kuliah. Kakak keduanya, kakak laki-laki satu-satunya yang ia miliki, mulai menjelma menjadi siswa SMK. kakak ketiganya kini sudah di pertengahan jalan di bangku SD. Hari-hari yang penuh kesibukan pun dilalui sang Ibu dengan ikhlas.

Hari sang ibu bukan tanpa masalah. Si sulung yang merantau jauh di Kota Gudeg untuk melanjutkan pendidikan, putranya yang tengah dalam masa remaja, anak ketiganya yang memiliki kelainan jantung, dan si kecil yang selalu berulah. Tapi, ia dan suaminya pun menjelma menjadi sosok tegar dan kuat. Berusaha semaksimal mungkin agar keluarganya bahagia.
***to be continued

Kamis, 06 Desember 2012

Miladuka Mubarak, HME ITB. Miladuki Mubarak Sahabatku....

5 Desember 2011. Tahun lalu, di tanggal ini kami menghadapi soal UTS 2 Kimia Dasar 1A. Berbarengan pula dengan pengumuman indeks Fisika Dasar 1A. Saking riweuh-nya, kami sampai lupa di hari itu adalah hari ulang tahun teman dekat kami di kelas. Aku sendiri mengucapkan selamat padanya sekitar beberapa menit menjelang azan maghrib. Tanpa kado, tanpa pesta. Hanya mampu mendoakan agar dirinya dinaungi kemudahan dari-Nya.

5 Desember 2012. Kali ini, lagi-lagi saya lupa ulang tahunnya. Lebih parah lagi, hari ini bukan hanya ulang tahunnya yang 'kulupakan'. Ya, ulang tahun HME, himpunan mahasiswa yang telah memberikanku kebahagiaan, pengalaman, teman, dan semangat selama kurang lebih satu semester terakhir (dihitung dari zaman-zaman MBC ya...). Hmm... sebegitu dahsyat-nya kah tugas, PR, dan persiapan ujian sehingga membuatku lupa pada hari istimewa dua orang terdekat di kehidupan kampusku??

Bahkan sampai detik ini, ketika hari mulai berganti, sepatah kata selamat pun belum terucap secara langsung. Ya sudahlah, karena waktunya yang mepet kuucapkan di blog saja ya...

"Selamat ulang tahun sahabatku, semoga bisa jadi hamba-Nya yang lebih baik dari masa ke masa.... Semoga kita tetap menjadi sahabat baik dunia akhirat... ^^"
"Selamat ulang tahun HME ITB, semoga makin jaya, makin produktif, bisa jadi contoh baik untuk himpunan-himpunan lain baik di ITB maupun di luar ITB.... Oke Champ....!!"


Elektro ITB, derap langkahmu menggema
Elektro ITB, desah napasmu menggetarkan udara
Elaktro ITB, bakti karyamu jadi dambaan bangsa
Berjayalah slalu di mata dunia, elektro ITB....

Rabu, 05 Desember 2012

Menuju Pucak

Bukan mudah meniti langkah ke angkasa
Bukan mudah mengubah mimpi jadi asa pasti
Apapun jua bisa terbukti
Andai langkahmu tidak terhenti.....

Masih ingat lagu ini?? Yap, themesong-nya Akademi Fantasi Indosiar, salah satu acara pencarian bakat menyanyi yang populer di Indonesia sekitar tahun 2003-an, ketika saya masih menjadi bocah kelas 3 SD. Bila dulu lagi ini dinyanyikan sambil mengikuti koreografi khas-nya, kini lirik lagu ini dijadikan bahan renungan. Ya, untuk jadi manusia yang lebih baik, butuh proses yang gak instan. Lewati dulu jalan berliku nan terjal, runtuhkan segala halangan dan rintangan, meminimalisir hambatan yang ada, putar otak untuk mencari solusi terbaik, dan segala macam tindakan untuk mewujudkan mimpi itu.... Kesulitan-kesulitan ini tak  jarang membuat sebagian orang memilih mundur dan kabur dari tantangan yang mereka hadapi -- lebih tepatnya, sesuatu yang awalnya mereka anggap tantangan namun akhirnya berubah jadi beban dan masalah bagi mereka. Namun, bagi sebagian orang, mengurai benang kusut kehidupan itu sampai benar-benar tuntas dan rapi adalah kebanggaan, kepuasan, dan kebahagiaan yang besar. Sekusut apapun benang masalah, serumit apapun labirin kehidupan yang ada, jalan keluarnya tetap Dia sediakan kok. Hanya, proses mencapainya yang berbeda....

Ingatlah, Dia takkan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Percayalah, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Semua kembali pada dirimu: berusaha keras untuk menemukan solusi atau pasrah pada keadaan dengan modal yang serba ngepas. Bersegera melakukan kebaikan agar dapat memanen buah manis di suatu waktu atau menundanya dan berleha-leha.

Semangat UAS....

nb: quotes dari suatu lembaga beberapa jam menjelang ujian kalkulus tahun lalu, tapi menurutku masih relevan buatku yang mata kuliahnya gak jauh-jauh dari 'berhitung'

Calculus may not teach us how to add love or minus hate. But it always give us a reason to hope that every problem has a SOLUTION.
Selamat berjuang 2011!

-UTS adalah ujian, bukan hanya ujian angka & logika di atas kertas, tapi juga ujian moral & iman-

Senin, 03 Desember 2012

Running Man @ Labtek Kembar

Running Man syuting di ITB?? Ciyuuusss?? Enelannn?? Cumpaah?? Miapaaaah?? #4L@yModeON

Yah, sore itu terlihat beberapa orang berlari. Namun, tidak ada Camera Man di sana. Yang berlari pun bukanlah Kim Jong Kook, Gary, dan konco-konconya (emangnya Jong Kook sama Gary anak Power 2011 ya?? hihiihihi :D). Orang-orang itu tampak berlari dari Labtek VIII (Singgasana Pendekar Ngoprek) dan Labtek V (Istananya Laskar-Laskar Ngoding). Arahnya?? bermacam-macam, semua oktan (kayaknya) dijajah. Ada yang ke tempat Fotokopi dan Printer, namun yang terbanyak adalah menuju Labtek V lantai 2. Ding Dong mendadak riuh. Mushalla Elektro pun gak kalah. Rupanya mereka yang berlari dan tampak panik adalah mahasiswa/i Teknik Elektro dan Teknik Informatika. Apa pasal?

Ternyata, mereka berlari untuk mengejar deadline Tugas Besar matakuliah Algoritma dan Struktur data. Konon, karena saya tidak merasakan derita yang sama, tugas besarnya cukup menyita waktu. Teman se-kost saja sampai pulang sangat larut semalam, sama seperti saat aku mengikuti diklat calon perangkat dulu. Dan paginya ia pergi ke kampus lebih pagi dariku demi menyelesaikan tugasnya.

Beragam reaksi terpancar dari wajah mereka setelah mengumpulkan beragam. Ada yang bernapas lega. Ada yang tersenyum puas, ada yang tampak murung, ada yang memendam kecewa. Ada yang menyelesaikan dengan baik, ada yang standar tapi sudah memenuhi aturan, ada yang kurang sempurna tapi masih bisa digunakan, ada pula yang sama sekali gagal Compile.

Kasus ini bisa kita jadikan analogi terhadap kehidupan kita. Deadline pengumpulan tugas besar bisa kita anggap sebagai detik-detik terakhir kita hidup, atau akhir dari kehidupan dunia. Begitu banyak orang yang panik dan cemas, karena kurang mempersiapkan diri di waktu-waktu sebelumnya, atau merasa bekalnya masih kurang. Ada pula yang mendekatinya dengan tenang, santai, karena bekal dan tugas telah ia selesaikan sebelumnya. Contoh yang kedua ialah orang beriman nan taat. Yang pertama mungkin lalai atau memang telah berusaha maksimal namun tetap belum siap. Bila malaikat Izrail menjemput kita, tahun depan, besok, atau beberapa menit ke depan, kira-kira apakah yang akan kita lakukan?? Sudah cukupkah perbekalan kita untuk menjalani Penantian yang Panjang dan Hari Pembalasan?

Raut wajah setelah mengumpulkan tugas bisa jadi analogi mengenai reaksi manusia saat menghadapi Hari Kebangkitan. Ada yang bahagia denga wajah berseri-seri, ada yang merasa terhina. Golongan pertama ialah orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Yang kedua ialah orang-orang yang lalai dan durhaka pada Allah. Pertanyaannya, masuk ke dalam golongan manakah kita??

#Renungan untuk diri sendiri...

Rabu, 28 November 2012

Abstrak

Aku sendirian.... Ya, aku sendirian.

Saat-saat kebersamaan di SMA, saat-saat penuh canda di TPB.... Aku merindukannya, ya Allah....
Dan kini, aku harus berjuang sendirian.
Kamu harus terbiasa.... Harus terbiasa....
Datang ke kelas tanpa sambutan hangat....
Bekerja sendiri, belajar sendiri, tak dipedulikan orang dimana kamu hendak duduk....
Tak ada yang menyiapkan tempat duduk di sisinya....
Mendapat jawaban kurang bersahabat saat menanyakan suatu hal....
Tidak ada yang mengajak pergi ke kelas bersama....
Berjalan sendiri saat masuk ataupun keluar kelas....
Menerima kabar mendadak mengenai pekerjaan rumah....
Memendam keinginan untuk bercanda dan mengajak orang bercanda....
Memendam cerita dan keluh kesah dalam hati.....

Bukan lingkungan yang ideal. Mungkin itulah deskripsi mengenai tempatku sekarang. Ketika setiap orang menjadi terkesan individualis dan sibuk dengan ambisi masing-masing.Ketika sapaan menjadi barang langka dan mahal. Sekali lagi, ini bukan lingkungan yang ideal. Ya, tak ada yang sempurna memang, selain DIA....

Tapi, inilah jalan yang kau pilih. Pahit atau manis, kau lah yang akan merasakan. Rasa sepi ini bisa jadi tak sepenuhnya salah mereka. Mungkin kau juga yang kurang bisa memahami mereka. Ini mungkin pembelajaran agar kau lebih dewasa dan mandiri. Kau masih terlalu manja untuk bisa berada di dunia yang kejam ini, sobat. Ambil saja hikmah dari semua ini, bukan hanya air mata yang terurai.

Dengan kondisi yang tak ideal seperti ini, DIA memberimu kesempatan untuk berusaha menguraikan masalah ini. Dengan suasana yang tak ideal ini, DIA menanti dirimu datang pada-NYA dan berkeluh kesah dan menumpahkan keresahan yang kau alami. Dengan kesulitan ini, DIA ingin melihat kesungguhanmu meraih ridha-NYA....

SELAMAT BERJUANG....! KARENA HIDUP [H]AROES KOEAT....!!
MAN JADDA WAJADA....!!!
LAA TAKHAF WA LAA TAHZAN... INNALLAHA MA'ANA....!!!!
ALLAHU AKBAR...!!!!!

Senin, 26 November 2012

apa yang kamu lakukan saat berselancar di dunia maya??

Cause like insomnia aaaah....
Cause like insomnia aaaah.....

Ups, maaf...! Bukannya mau mengganggu kenyamanan tidur anda dengan teriakan yang agak sengau.... Hanya ingin meramaikan suasa kamar yang kurang varias, karena yang terdengar hanya suara tuts-tuts papan ketik laptop yang sedang pegal-pegal parah - dari tadi dipijitin mulu, hehe...:).

Aku menatap jam di laptop. Pukul tiga pagi. Eh, pukul 3 pagi?? Ckckckck... Biasanya jam sepuluh malan juga sudah terbang ke alam mimpi. Malam ini?? Hmm... Gara-gara tadi siang ketiduran sampai sore. Gini nih efeknya.... (Ternyata lebih ampuh daripada produk-produk berkafein, haha)

Lalu, dari jam sepuluh tadi sampai sekarang ngapain aja?? Internetan. Satu kata yang pas mewakili kegiatan malam ini. Nah, kalau internetan biasanya ngapain sih??
**FB-an.
Haha, itu mah kayak udah jadi agenda rutin kalau OL. Di Web Browser yang biasa dipakai, Facebook jadi situs urutan pertama, disusul Web lab dasar, Gmail, dan website sepakbola. Blogger di urutan kelima, karena jarang ngapdet tulisan, hehe....
Padahal, FB-an juga sebenarnya makin lama makin gak efektif juga sih, soalnya buka FB sekadar buka notif, cari info terbaru di grup, chat sama teman lama (kadang2). Update status? udah mulai jarang. Paling re-share status/foto orang....

**Buka Situs Berita
widiih, sok keren beud ya?? padahal situs berita yang dibuka juga paling itu2 doang (tahu lah yaa...). Tapi seenggaknya nge-refresh otak kita sama berita ter-apdet itu menyenangkan loh.... Apalagi tentang bola, hehe. Selain buka langsung situsnya, kadang2 apdet berita bisa dari twitter, karena akun twitternya dipake buat follow situs berita online, hehe...

**Browsing dan Cek Email
internetan tanpa menyentuh mbah Google?? aneh juga sih. makanya, sesekali disempet2in lah browsing via google. meskipun biasanya buka google kalau ada maunya, misalnya nge-laprak (bikan ngelabrak yaaa.... camkan baik2, hehe), bikin artikel, dll. Intinya, nyari sumber referensi gitu lah. Tapi, kadang suka kesel juga kalau nyari referensi lewat internet. Kadang infonya gak jelas, atau malah cuma copasan dari situs lain. Kalau dipikir-pikir, sumber referensi paling enak dan terpercaya mah tetep buku lah. Internet hanya membuat bahasa buku menjadi lebih mudah diuraikan, karena biasanya artikel di internet gak pake bahasa seberat dan sekompleks bahasa buku (bahasa buku ada di kompleks mana ya? hehehe)
Cek Email? Sebenarnya agak males sih, soalnya inbox-nya kurang beragam. Maklum, kurang menjadikan Email sebagai alat komunikasi utama. Tapi sekarang jadi sering (minimal tiap seminggu sekali) buka email karena harus ngirim laporan praktikum ke email. Belum kalau ada urusan penting lainnya.

**Blogging
Hufft, akhirnya muncul juga aktifitas ini. Aktifitas yang sering dinomor sekiankan dengan dalih sibuk, gak ada ide, gak mood, dsb. Padahal, blog bisa jadi tempat curhat paling private (sejauh ini), karena pembacanya gak terlalu banyak (apalagi akun ini yang cuma punya satu pengikut, hehe). Selain itu, kita bisa bebas nulis sepanjang apapun di blog, beda dengan Twitter yang cuma dibatasi 140 karakter dn FB yang kurang enak kalau buat posting banyak2 (kecuali di notes). Di sini juga kita bisa melatih tangan, otak, dan hati untuk terus bercerita. Karena tulisan adalah cerita penulisnya, hehe. Makin melatih diri buat menulis kan??

**Belajar
Kegiatan yang masih cukup jarang dilakukan kala internetan. Nyari info-info tentang akademik tuh paling banter kalau mau bikin laporan praktikum atau makalah, selebihnya jarang banget. Padahal, belajar tuh penting banget kan? Jujur aja sih, aku bukan orang yang imba dalam masalah akademik. Lebih-lebih, gak rajin belajar lagi. Padahal, keilmuan yang aku ambil termasuk sulit dan masih jarang di Indonesia. Masih mau berleha-leha nih?? (mulai keluar deh seriusnya)

Kesimpulannya, ternyata internet sejauh ini masih belum saya gunakan dengan optimal. Masih terlalu banyak unsur main-main yang dilakukan saat ber-internet. Padahal, kalau dimanfaatkan untuk hal yang lebih bermanfaat pasti lebih mengasyikkan. Contohnya, bisnis online, cari-car beasiswa, dll.

Selasa, 20 November 2012

Harga Mahal Sebuah Kejujuran



Senin, 13.00-14.40 WIB. Gedung BSC-A lantai 4. Seperti biasa, kuliah Rangkaian Elektrik kami jalani. Hari ini aku datang terlambat ke kelas. Entah terlambat berapa menit, yang jelas dosen sudah menjelaskan slide demi slide presentasi kuliah hari ini. Aku akhirnya mengikuti kuliah dan mencerna sedikit demi sedikit penjelasan dosen dan slide-slide itu. Rasa kantuk mulai datang, dan aku terlelap sejenak.

Saat aku mulai sadar kembali, dosen kami menghentikan sejenak perkuliahan. Beliau membuka sebuah file. Aku merasa heran, tumben beliau menghentikan KBM, padahal belum waktunya berhenti (dosenku yang satu ini terkenal amat disiplin. Pada kuliah ini, beliau akan memulai tepat pada pukul 13.00 dan mengakhirinya tepat pada pukul 14.40. Beliau justru minta maaf pada mahasiswanya bila menyelesaikan KBM pada hari itu melewati waktu yang kusebutkan tadi, hal yang jarang dilakukan oleh dosen kebanyakan). Ternyata, beliau membuka softcopy peraturan akademik kampusku.

Beliau mulai bagian kedua dari peraturan ini, yaitu mengenai kecurangan akademik, terutama masalah kecurangan saat ujian (tahu lah maksudnya apa). Sanksi yang diberikan kampusku tidak main-main. Skorsing bagi yang menyontek maupun yang memfasilitasinya (memberi contekan). Itu baru sanksi minimal. Pahit-pahitnya, si Pelaku bisa saja di-DO dari kampus, hal yang pastinya tidak diinginkan setiap mahasiswa.

Aku masih belum paham mengapa beliau rela meng-cut kuliah demi menjelaskan peraturan akademik. Ternyata, beliau menemukan kecurangan akademik di kelas kami, tepatnya saat kuis ketiga. Dan beliau berkata bahwa untuk pelaku ini, ia memberikan dua pilihan: dilaporkan ke dekan dengan tuntutan skorsing minimal 1 tahun bila tidak mau mengaku, atau mengakui kesalahannya dengan catatan ia tidak diluluskan pada matakuliah ini.

Kelas yang biasanya hening semakin terasa mencekam. Ancaman yang lumayan menakutkan, pikirku. Bagaimanapun, mengulang kuliah Rangkaian Elektrik bukanlah hal yang dianjurkan, karena pastinya akan menambah beban di semester berikutnya, apalagi bila terpaksa harus 'cuti' kuliah selama minimal setahun. Terlebih bagai mahasiswa penerima beasiswa seperti saya yang harus lulus empat tahun (karena beasiswa yang diterima hanya untuk kuliah selama delapan semester). Pilihan yang sulit.

Aku kembali berpikir, bahwa kejujuran itu memang mahal. Dan dua orang itu (aku bersyukur tidak tahu siapa orangnya) sudah rela menjualnya dengan (minimal) tidak lulus matakuliah itu. Padahal yang dapat nilai nol dengan usaha sendiri juga banyak, dan dosen akan mengambil empat nilai terbaik dari enam kuis yang beliau berikan. Artinya, nilai nol itu pun akan diabaikan bila nilai-nilai yang lain lebih baik, artinya semua kembali ke usaha kita dalam belajar dan mempersiapkan diri untuk ujian itu.


"Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Gak mau masuk golongan orang munafik kan??

Jujur itu mahal. Maka dari itu, jagalah ia baik-baik dalam keseharian kita.
Jujur itu langka. Oleh karenanya, jangan biarkan ia punah.
Karena, bila kejujuran itu telah punah, maka punahlah pula kebaikan di dunia ini....



“Usman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan pula kepada kami dari Mansur, dari Abi Wail, dari Abdullah, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Sungguh, kejujuran itu menunjukkan jalan kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang dapat dinilai jujur bila ia (benar-benar) mengimplementasikan nilai kejujuran tersebut. Sebaliknya, kebohongan itu menunjukkan jalan kesesatan dan kesesatan itu mengantarkan ke neraka. Karenanya, seseorang yang seringkali berbohong, hingga ia dicatat di sisi Allah swt. sebagai pembohong.” (HR Bukhari)

Minggu, 04 November 2012

Yang "WOW" dari Mabit AQ

"Sabtu malam ku sendiriiii... Tiada temanku lagi....."
Eitts, siapa bilang?? Malam Minggu-ku semalam kan gak sendirian, karena bersama saudara-saudariku dari berbagai tempat, kami berkumpul di Masjid Kampus tercinta, Masjid Salman ITB. 
Whatt??? Malam Mingguan di Masjid?? Gak salah tuh.
Iya dong, daripada ngabisin waktu di di kamar dan gak ada kerjaan... Iya gak??
Emang ngapain Malam Minggu di Salman??
Jangan salah, semalam ada Mabit Ashhabul Quran di Masjid Salman.
Terus??
Di mabit AQ ini, ada beberapa rangkaian kegiatan loh. Mulai dari materi inti tentang keutamaan menghafal qur'an, ada lomba bikin artikel juga, sampai qiyamullaial berjamaan dan kuliah subuh dengan tema keutamakan menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Gak cuma itu, ada souvenir juga loh buat 50 pendaftar pertama plus hadiah  buat pemenang lomba. Oh, ya. Artikel yang terpilih dari lomba semalam bakal dipublish di web-nya Mata' loh.... Tahu kan, http://matasalman.com/
Ciyuss?? Miapaah??
Heuuuh.... Udah gitu, pematerinya inspiring banget deh. Bikin kita termotivasi gitu buat bisa hafal Qur'an. Secara,  beliau kan udah Hafizh gitu, ngajar tahfizh juga lagi. Beliau menyampaikan banyak hal tentang menghafal Qur'an. Dari mulai definisi dan keutamaan sampai pengalaman pribadi saat menghafal. Secara bahasa, hifzh itu artinya selalu ingat, sedikit lupa, menghafal, memelihara, sedangkan pengertian Al hafizh al Qur'an sendiri adalah orang yang hafal 30 juz Al Quran dengan cermat, sering murojaah (mengulang hafalan), hafalannya kuat dan bisa secara refleks diungkapkan (aduh, lupa euy istilah bahasa Arab-nya), paham akan seluruh kaidah dan makna Al Quran, dan menjaga Al Quran dengan ibadah dan akhlaq-nya. Seorang Hafizh Quran punya banyak keutamaan loh. Gak cuma di dunia, tapi juga di akhirat. Keutamaannya di dunia adalah hatinya tenteram, punya kecenderungan kepada kebaiakan dan rahmah, menghidupkan hati, jauh dari maksiyat, ahsanu a'mal (sebaik-baik perbuatan), ciri orang berilmu, dapat kehormatan dari Rasulullah SAW, dapat nnikmat rabbani (maksudnya bukan dapat kerudung se-ember gede ya, hehe), juga jadi bisnis yang gak akan rugi. Sementara, keutamaan di akhirat, yang pasti bernilai ibadah, pemberi syafaat di hari kiamat, di surga kelak bersama malaikat yang mulia, derajat diri terangkat, juga mengangkat derajat orang tua di mata Allah. Yang inspiring lagi itu adalah pengalaman beliau dari mulai yang gak tahu baca Qur'an kayak gimana, perjuangan saat menghafal, lalu lulus dengan predikat cumlaude, saat-saat ia kehilangan lagi hafalannya dan mengembalikannya lagi, sampai akhirnya bisa jadi pengajar. Superr banget lah....
Ih WOW.... Sesuatu pisan euy.... eh, maksudnya subhanallah sekali yaa.... terus, kiat-kiat biar bisa menghafal quran gimana ya...??
Wah,, penasaran yaaa?? Makanya, yuk ikutan Mabit Ashabul Quran edisi berikutnya. Temanya kiat-kiat menghafal Quran. Waktunya Insya Allah hari Sabtu, tanggal 1 Desember 2012, pukul 19.30 sampai selesai. Tempatnya?? Insya Allah masih di Masjid Salman ITB. Ajak teman-temanmu yang lain yaaaa....^^

"Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al Quran. Jadikanlah ia Imam, Cahaya, Petunjuk, dan Rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami ketika kami lupa bagian darinya. Ajarilah kami yang kami belum ketahui darinya. Karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk membacanya sepanjang siang dan malam. Jadikanlah ia perisai bagi kami. Wahai Tuhan Semesta Alam....

Rabu, 31 Oktober 2012

Kamiku: Kami Ada untuk Kuningan

Tadi pagi (menjelang siang), kesempatan berharga hadir di depan mata, saat Kamiku, Keluarga Mahasiswa ITB Kuningan, bertemu di Labtek VIII, depan TU FMIPA. Disebut kesempatan berharga karena sejauh ini kegiatan masing-masing dari kami jauh berbeda, apalagi kami yang tingkat 2 sudah mulai disibukkan dengan agenda kuliah, UTS, praktikum, syukwis, de el el. Lebih senang lagi ketika angkatan 2011 bisa full team. Hmm,, sesuatu hal yang jarang terjadi, sehingga momen ini dimanfaatkan untuk saling mengetahui kondisi satu sama lain. Ada yang baru dilantik Minggu Subuh tadi, ada yang hendak Kuliah Lapangan Besar ke Lampung, ada yang hendak UTS, dan banyak lagi kabar yang dapat dibagi. Oh, ya. Kehadiran 2012 juga memberi warna tersendiri, karena dari sinilah obrolan dan proker mulai berjalan. Plus kehadiran petinggi-petinggi (angkatan 2010), pertemuan ini terasa hangat dan menyegarkan kembali ikatan ukhuwah yang mulai lesu.

Banyak hal yang dibincangkan dalam pertemuan tadi siang, mulai dari agenda tahunan kami, Kamiku Goes to School (acara sosialisasi ITB ke SMA-SMA di Kuningan), dimana telah terpilih ketua pelaksana dari angkatan 2011, rencana pembuatan jaket dan kaos Kamiku, agenda Kamiku Fun Days, acara keakraban anggota Kamiku, tugas angkatan 2012 untuk mengumpulkan seluruh anggota Kamiku untuk berfoto bersama, dan sosialisasi program danus.

Suasana makin siang. Agenda silaturrahim pun usai, dan 2012 mulai meninggalkan TKP. Rapat yang dikira telah usai ternyata masih berlanjut dengan pembahasan mengenai program besar yang ingin dilaksanakan di Kamiku. Jujur, aku merasa salut pada teman-teman yang memiliki inovasi luar biasa untuk mewujudkan Kuningan yang lebih maju. Jujur, semangat yang kumiliki masih sangat jauh dibanding mereka. Aku masih sering cenderung egois dan hanya berpikir jangka pendek dan sempit dan mengabaikan kemungkinan yang akan terjadi di masa-masa yang akan datang di lingkup wilayah yang lebih luas. Selama ini aku masih takut bermmpi, padahal bukankah mimpi adalah awal dari beberapa hal yang luar biasa? Coba lihat orang-orang sukses di masa lampau. Mereka juga memiliki mimpi yang besar di zamannya. Namun, mereka tidak membiarkannya sekadar jadi mimpi; mereka berusaha mewujudkannya. Mereka terus mencoba agar mimpi mereka dapat menjadi nyata. Lalu, bagaimanakah dengan dirimu? Bukankah orang-orang di luar sana berharap agar kau jadi sosok pemimpin masa depan yang mampu memakmurkan negeri ini? Lantas, mengapa tak segera merajut mimpi dan menyusun target-target yang ingin dipenuhi?
Siap untuk bermimpi untuk Kuningan?

[bukan] tulisan galau

ceritanya, seminggu yang lalu aku mulai beres-beres buat pulang ke rumah orang tua di Kuningan sana. Karena kamar pun lagi berantakan banget, akhirnya sekalian aku beresin barang-barang di kamar, terutama buku-buku. pas lagi memilah buku yang masih bisa dipakai sama yang enggak, aku menemukan sebuah buku batik yang kubeli pas SMA kelas 3, waktu itu aku beli buku batik buat mapel matematika dan fisika yang catetan dan latihannya super menguras lembaran kertas. aku mengecek lembar-lembar belakang buku, dan kutemukan sebuah kata-kata iseng yang kutulis saat kelas 3 SMA. kata-kata berbahasa inggris yang ditulis pas masa-masa 'galau' dulu, dengan tata bahasa yang masih kacau. ah, pokoknya mah bikin ketawa-ketawa sendiri lah. separah itukah saya dulu??

haha, mendadak teringat pada orang yang di-galau-kan itu. orang yang dulu diingat-ingat. orang yang tak terlihat bertahun-tahun dan tiba-tiba muncul lagi dengan kondisi yang berbeda. aku gak tahu apakah kondisiku saat ini dan kemarin-kemarin sama atau tidak, tapi yang jelas, entah kenapa, kata-kata galau itu mulai terganti dengan 'ya udah lah ya...' dengan nada datar (kata-kata yang dibenci oleh sebagian temanku karena terkesan terlalu datar dan pasrah). mungkin memang sudah bukan saatnya lagi memikirkan hal yang tak terlalu penting dan terlalu spekulatif untuk saat ini. lha kerjaan aja banyak yang belum beres toh. iya kan? tips 'dengan menyibukkan diri, terkadang pikiran-pikiran itu akan hilang dengan sendirinya' seejauh ini masih manjur buatku. aku masih terlalu kanak-kanak untuk memikirkan pendamping hidup, nikah, dll (ups, akhirnya ketahuan juga, haha)

namun, terjadi sedikit perubahan saat pulang ke rumah, ketika aku melihat sendiri sampel kasus kegagalan dalam memilih teman sehidup semati (suami.red). ternyata bisa fatal juga, dan bisa berimbas pada keturunan, keluarga besar, masyarakat, dan skala yang lebih luas lagi. kekerasan dalam rumah tangga misalnya, pertengkaran antara orang tua bukannya gak mungkin berimbas ke anak kan? kalau udah berimbas ke anak, nanti bisa meluap ke mana-mana. dan itu berawal dari masalah yang bagi sebagian orang sepele: salah memilh dan gak bisa saling memahami. kejadian ini membukakan mataku, kalau ini memang harus disiapkan dengan sebaik-baiknya. bukan masalah manja atau mandiri, siap atau tidak, dsb. bukankah kita sudah dibekali dengan kemampuan membedakan yang baik dan buruk? bukankah kita juga diberi petunjuk lewat Al-Qur'an dan Sunnah? jadi, yuk mulai persiapkan diri, jaga hati, jaga diri, tingkatkan iman, perbaiki akhlaq, kuatkan jasmani, perbanyak ilmu,. insya Allah akan indah pada waktunya, seperti taman bunga mawar yang akan terlihat indah ketika bunganya yang warna warni mulai bermekaran....

*tak bermaksud bikin galau, hanya mengingatkan untuk segera mempersiapkan

Kamis, 11 Oktober 2012

Belum Saatnya....

Belum saatnya.... kurang lebih begitulah status yang kutulis di akun Facebook kemarin. Mungkin pantas menggambarkan kondisi hati sekarang.

Hati?? Perasaan?? Sesuatu yang mungkin sudah lama tak terusik karena terlalu lama tenggelam dalam samudera logika dan rangkaian-rangkaian yang dengan ajaibnya memiliki keunikan masing-masing... (ups, kok malah nyempet ke akademik??).

Beberapa kejadian tak terduga belakangan ini membuatku sadar, aku masih terlalu rapuh untuk menahan semuanya. Terkadang sesuatu yang menurut sebagian besar manusia tak akan terjadi justru - atas seizin Allah - terjadi, membuat nalar kadang tak mampu menjangkau fakta. Kejadian tak terduga yang mungkin terjadi sekali atau dua kali (bisa jadi lebih), namun mengusik pikiran berhari-hari. Kalau sudah begini, menyerahkan semuanya pada-Nya adalah pilihan paling bijak. Dan yakinlah, He will give us the best choice....

Sampai kapan kerapuhan ini akan bertahan, aku tak tahu. Akankah ia makin kuat bak besi yang bijih besi yang diolah menjadi kawat baja, atau justru keropos dimakan usia bak gubuk tua yang termakan rayap, atau malah roboh bak tertiup tornado? Yang aku tahu, saat ini aku masih terlalu rapuh untuk menghadapi semuanya. Mungkin terkesan pengecut, namun menghindarinya lebih baik bagiku saat ini.

karena ia fitrah yang Ia ciptakan di muka bumi
tak perlulah kau berusaha memupuknya,
karena akan makin indah bila ia tumbuh dan berbunga dengan sendirinya
tiada guna pula kau berupaya membunuhnya, karena itu akan lebih menyakitkan daripada membiarkannya redup dan mati bak api unggun yang kehabisan kayu bakar....

Biarlah ia indah pada waktunya....

Rabu, 10 Oktober 2012

Challenge Accepted!! - Secuil Motivasi Menjelang Ujian

sebuah SMS muncul di ponselku, meronta-ronta untuk segera dibuka. aku yang tak ingin melihatnya mennggu lama dalam daftar inbox yang belum terbaca akhirnya membukanya, meskipun bapak dosen di hadapanku sedang menjelaskan Rangkaian Tiga Fasa dengan penuh semangat (maaf pak, sejenak aku mendua, hehe:D). ternyata Raja Jarkom Jurusan yang mengirim pesan. Isinya pemberitahuan bahwa salah satu mata kuliah spesial Aroes Koeat semester ini akan menyelenggarakan UTS tanggal 11 Oktober 2012, alias besok. Sejenak aku memandangi SMS itu tak percaya. "gak salah nih?" tanyaku dalam hati. Namun, pesan itu memang benar adanya. Aku menghela napas.Tiga UTS dalam tiga hari berturut-turut. Ya, sehari setelahnya, matakuliah dari prodi matematika sudah menanti. Dan, last but not least, salah satu sekuel dari trilogi rangkaian listrik sudah mengunci salah satu weekend minggu ini. Baiklah...

teringat hampir satu semester yang lalu, saat 3 ujian menghadang dalam 4 hari. Dan mengeluh jadi hal yang pertama kulakukan. Tak disangka sekuel yang lebih horror ternyata sudah di depan mata. Makin terasa bila dua semester yang telah kulalui sebelumnya memang "Tahap Paling Bahagia". Saat hidup begitu terjadwal, saat waktu luang terasa banyak (meski kenyataannya tak mampu digunakan dengan baik), saat tak banyak waktu tersita untuk kegiatan lain,... But live must go on.... "Telah berlalu masa-masa tidur wahai jiwa pembaharu" sepertinya menjadi semboyan yang tepat untuk memotivasiku saat ini....

Akankah semua ini hanya membuatmu mengeluh, ngomel-ngomel gak jelas (termasuk di tulisan ini jangan2, ckckckck), dan menyalahkan keadaan? tidakkah keadaan ini membuatmu tergerak untuk berubah?? tidak adakah keinginan dalam hatimu untuk bertindak?? atau terlalu berat semua ini bagimu sehingga diam adalah satu-satunya yang bisa kau lakukan??

"Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya...." (2:286)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (13:11)
 
"Allah tak akan memberikan cobaan yang kau tak sanggup untuk memikulnya.
Allah tak akan merubah keadaanmu jika kau tak berusaha mengubahnya
tegarkan dirimu dengan janji Allah adalah pasti...." (Tashiru - terpuruk)

Pikirkanlah kembali. apakah ketika sebuah tantangan, ujian, cobaan, atau istilah-istilah lain yang sejenis ada di hadapanmu, tak inginkah kau menyambutnya dengan optimis seraya berkata "challenge accepted", lantas berusaha sekuat tenaga untuk menaklukkannya? Dan saat motivasi dan daya mulai berkurang, ingatlah, janji-Nya takkan Ia ingkari (renungan bagi yang sering mengobral janji bak dagangan di pasar jumat di depan Salman atau pasar tumpah di Gasibu tiap minggu, terutama yang ngetik ini tulisan).

Bismillah, Insya Allah harapan dan peluang itu masih ada.... Semangat UTS.... Waktunya buka buku dan latihan soal....^^


10 Oktober 2012, TH183\04

Sabtu, 22 September 2012

Transisi

Bismillah... senangnya bisa corat-coret lagi...^^ Yah, beginilah... Masih harus banyak belajar dari kehidupan untuk kehidupan (ahaay). Semoga kesempatan ini bisa kumanfaatkan dengan seoptimal mungkin. Amiiin...

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. (Al 'Ankabuut : 2-4)

Ujian. gak asing lagi kan dengan kata ini? dari mulai anak sekolah dasar sampe anak kuliahan pasti familiar dengan kata ini. di bangku sekolah (ataupun kuliah), yang namanya ujian pasti dikasih buat peserta didik sebagai evaluasi hasil belajar mereka atau sebagai syarat bergabungnya peserta ujian pada suatu instansi. pihak-pihak yang ngasih ujian punya standar tertentu yang harus dilampaui oleh peserta ujian. bagi yang mampu melampauinya, mereka dapat reward khusus: naik tingkat atau diterima di instansi tersebut. bagi yang  gak berhasil, hasilnya udah ketebak: tinggal kelas atau gak diterima. bagi mereka yang gak berhasil saat itu, bisa jadi diberi ujian yang sama (atau mengikuti ujian yang sama) di lain waktu yang disebut remedial atau ujian perbaikan. kalau lolos ya naik kelas. kalau enggak, ya siap-siap deh diuji lagi. (pake aturan repeat - until kayak di pascal biar seru, haha...:D)

Ujian dalam hidup ini sistemnya gak beda jauh sama ujian di sekolahan. ada parameter kelulusan, ada yang berhasil lulus dan naik tingkat, ada yang gagal dan ikut remedial, ada pula yang langsung ditolak. Allah mendesainnya sedemikian rupa sehingga hanya orang-orang yang mampu menyikapi ujian kehidupan ini dengan baik-lah yang mampu melanjutkan perjuangannya di level berikutnya (kayak main game ya, hehe.:D)

masa-masa ujian ini pun bisa dibilang menjadi masa transisi, dimana yang sanggup melewatinya akan melaju ke depan, sedangkan yang tidak harus mencoba lagi dan kembali ke awal. ini mungkin berat. melepas zona nyaman untuk mengarungi jalanan terjal terkadang gak bisa diterima sebagian orang. orang-orang seperti ini bisa jadi akan menyerah, atau menjalaninya namun dengan keluhan terus menerus ditumpuk di hati dan kepala. pertanyaannya, apakah orang-orang seperti ini - yang mengiringi perjalanannya dengan setumpuk protes berkecamuk dalam dirinya -  sudah bisa dikataka  lulus ujian?

ujian hidup ini emang kadang bikin dada nyesek saking beratnya. tapi ingat, kita bisa naik tingkat jadi manusia yang lebih baik loh kalau lolos ujian itu... inget juga dong ujian-ujian orang-orang terdahulu dalam memperjuangkan agama-Nya... yang kita hadapi mah belum seberapa dah... mereka aja bisa kok lolos dari ujian seberat itu, masa' kita mau nyerah gitu aja dengan ujian yang masih di level awal? bukannya Allah udah janji kalau ujian yang Allah kasih udah disesuaikan dengan kemampuan hamba-Nya?? jadi kita berpotensi dong buat lulus ujian. iya kan? jadi, hadapi aja sampai bel tanda waktu habis berdering. masalah hasil, biar jadi wewenang-Nya. toh kita udah berusaha kan? kalau gagal? berdoalah semoga masih bisa memperbaiki diri dan kesalahan yang udah dilakukan....


÷Pr& óOçFö6Å¡ym br& (#qè=äzôs? sp¨Yyfø9$# $£Js9ur Nä3Ï?ù'tƒ ã@sW¨B tûïÏ%©!$# (#öqn=yz `ÏB Nä3Î=ö6s% ( ãNåk÷J¡¡¨B âä!$yù't7ø9$# âä!#§ŽœØ9$#ur (#qä9Ìø9ãur 4Ó®Lym tAqà)tƒ ãAqß§9$# tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB 4ÓtLtB çŽóÇnS «!$# 3 Iwr& ¨bÎ) uŽóÇnS «!$# Ò=ƒÌs% ÇËÊÍÈ
  
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (Al-Baqarah : 214)


Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèóãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pköŽn=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 $oY­/u Ÿw !$tRõÏ{#xsè? bÎ) !$uZŠÅ¡®S ÷rr& $tRù'sÜ÷zr& 4 $oY­/u Ÿwur ö@ÏJóss? !$uZøŠn=tã #\ô¹Î) $yJx. ¼çmtFù=yJym n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB $uZÎ=ö6s% 4 $uZ­/u Ÿwur $oYù=ÏdJysè? $tB Ÿw sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ ( ß#ôã$#ur $¨Ytã öÏÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRöÝÁR$$sù n?tã ÏQöqs)ø9$# šúï͍Ïÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ
  
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir." (Al-Baqarah : 286)


yuk belajar ikhlas dalam menghadapi ujian di hadapan kita... :)