belum lihat bagian 1-nya?? klik di sini yaaa...
Hari demi hari berlalu. Usia wanita itu pun terus bertambah, pun dengan usia anak-anaknya. Si sulung yang tangguh dan mulai menjalani kehidupan akhirnya sebagai mahasiswa, putra satu-satunya yang mulai asyik menggeluti kehidupan sebagai mahasiswa, putri keduanya yang mulai mengalami masa remaja, dan si bungsu yang mulai mengenal dunia sekolah. Rumah pun mulai sepi. Terlebih, suaminya bekerja di luar kota dan pulang hanya beberapa bulan sekali. Saat itu ia tinggal bersama kedua putri kecilnya. kedua putra-putrinya yang lebih besar merantau ke Kota Pelajar.
18 Agustus 2002. Hari yang sangat mengharukan bagi sang ibu. Putri sulungnya berhasil meraih gelar sarjana. kebanggaan besar baginya juga bagi keluarga. Kebanggaan karena jangankan gelar sarjana, keinginan dan kemampuan kulaih pun masih sedikit yang memiliki. Dan putri sulungnya-lah yang mulai mengubah pandangan masyarakat desa itu. Kebahagiaan makin lengkap ketika setahun kemudian sang putri sulung berhasil menjadi seorang apoteker.
Kabar gembira pun datang dari putri keduanya (alias anak ketiga). Penyakit jantungnya yang dulu selalu menghantuinya dan keluarga akhirnya dinyatakan sembuh. padahal, sebelumnya dokter sebelumnya menyarankannya untuk dioperasi. Namun, keluarga tersebut tak sanggup membayar biaya operasi yang saat itu harganya sudah mencapai 20 Juta rupiah. Jangankan untuk operasi, untuk makan dan ongkos sekolah kedua anak tertua saat masih SMA dan SMK saja terkadang harus menjual beras yang ditukar dengan beberapa rupiah plus tempe untuk sarapan. Alhamdulillah...
Namun, kebahagiaan tak pernah luput dari masalah. Si sulung mulai kesulitan mencari pekerjaan. Maklum, saat itu apotek masih langka di daerah itu. Setelah (akhirnya) mendapat pekerjaan di sebuah apotek yang baru buka di wilayah Cirebon, tawaran untuk menjadi dosen di Pulau Burung pun datang padanya. yang memberi tawaran tak lain adalah saudara sang ayah. dengan berbagai pertimbangan, akhirnya dengan berat hati sang ibu melepas sang anak merantau jauh. Makin sepilah hidup sang ibu.
Masalah lain imbul ketika suaminya mulai renta dan mulai terkena badai PHK. Tiga anaknya masih sekolah, apalagi si bungsu yang lulus SD saja belum. Namun, pasangan suami istri ini memang teguh pendirian. Mereka tetap berpegang pada keinginan mereka untuk berlaku adil pada tiap anaknya, salah satunya dengan menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus bangku kuliah. Namun, memang bukan perkara mudah bagi pasangan yang telah mulai menapaki usia senja ini. Beruntung, putri sulungnya bersedia membantu membiayai pendidikan adik-adiknya, terutama adik keduanya yang masih SMA. Sementara adik bungsunya yang asih SD menjadi tanggungan orang tuanya.Allah ternyata menganugerahkan karunia lain pada keluarga ini. si kecil (yang sekarang makin tumbuh tinggi) ini dipercaya untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Ia pun sering menjadi delegasi sekolah untuk mengikuti lomba-lomba di bidang matematika dan sains. Hasilnya berbuah manis di akhir masa-masa Sekolah Dasar, karena ia menjuarai lomba yang dilaksanakan oleh suatu SMP swasta di daerahnya dan mendapat beasiswa sekolah di sana.
Tak jauh sebelum keberhasilan putri bungsunya, putri sulung pun akhirnya melanjutkan lembar hidupnya ke lembaran rumah tangga. Ia menikah dengan rekan kerjanya. Tak lama setelah menikah, pasangan baru ini pun akhirnya kembali ke tempat kerja mereka. Meski berat, sang ibu harus rela membiarkannya pergi.
Masa akhir tahun ajaran pun tiba. Kedua putrinya yang masih bersekolah berhasil menamatkan studinya di jenjang masing-masing. Si bungsu lulus SD, kakaknya lulus SMA. Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah, lagi-lagi di Kota Pelajar. Sang ibu kembali ditinggal anaknya pergi. Tinggallah ia bersama si bungsu yang juga jarang di rumah karena SMP tempat ia berseekolah adalah full day school. Rasa sepi harus ia pendam dalam hati. Harus ia korbankan keinginannya untuk selalu berkumpul dengan anak-anaknya demi kesuksesan mereka.Saat si bungsu mulai menginjak kelas 8 SMP, sang ayah mulai berhenti bekerja. Putri kedua pun memutuskan cuti kuliah karena kakak sulungnya mulai kesulitan mendanai pendidikan adik-adiknya setelah berkeluarga. Ibu pun mulai menunjukkan ketangguhannya. bersama ayah, mereka mulai menggarap lahan warisan orang tua mereka dan mengisi hari tua mereka dengan bercocok tanam. Mencucurkan peluh lebih deras di usia yang makin lanjut, padahal orang-orang sebaya mereka tak jarang lebih sering menghabiskan waktu dengan mengasuh cucunya di rumah. Beruntung, si bungsu masih melaksanakan kebiasaannya mengikuti lomba.Bila menang, ia sering mendapat uang saku dari sekolah sebagai hadiah. Ia tak perlu meminta uang jajan lagi pada orang tuanya sejak itu.
Setahun berselang, putri kedua memutuskan untuk mengundurkan diri dari perguruan tinggi tempatnya kuliah. Namun, tak lama kemudian ia diminta kakaknya yang ada di Pulau burung sana untuk melanjutkan kuliah di sana. Sang ibu harus menghadapi kenyataan pahit lagi. Ditinggal jauh putrinya untuk kedua kalinya. Namun yang paling menggusarkan hatinya ialah anak kedua yang tak kunjung pulang dan studinya tak kunjung usai. Parahnya, ia terkadang sulit dihubungi, hal yang makin membuat orang tua manapun gusar. Tak jarang kegelisahan ini membuat sang ibu menangis saat menatap foto anak laki-laki semata wayangnya itu.
Keberadaan dua kakak beradik nan jauh di sana juga menyibak masalah baru. Konflik rumah tangga di keluarga putri sulung yang sebelumnya tidak terlalu terdengar kini mulai terungkap. sementara itu, putranya pun sudah setahun lebih tidak pulang ke rumah, bahkan untuk sekedar berlebaran bersama seperti yang dilakukan oleh para perantau di desa itu. Sang ibu yang sudah memasuki masa menepause pun makin sering sakit, meskipun sakit yang diderita masih dalam kategori ringan-sedang. Ditambah kesulitan ekonomi yang mendera, lengkaplah sudah kesulitan yang dialami sang Ibu. Sosoknya yang pendiam dan kalem mulai berubah menjadi sensitif, mungkin karena usia yang sudah menua. Akankah masalah-masalah ini membuat sang ibu tak mampu bertahan? Ataukah ia akan makin tangguh dengan kesulitan-kesulitan yang ia hadapi??















