Jumat, 31 Januari 2014

Something that Makes Me Can't Stop Crying

"takkan pernah habis air mataku bila ku ingat tentang dirimu" (Kerispatih - Mengenangmu)

Hari ini, aku membuka salah satu situs jejaring sosial. Tak sengaja aku arahkan pandanganku pada sisi kiri layar laptop tempat aku biasa membuka situs ini. Di bagian ini, ada daftar grup-grup yang aku masuki. Mataku tertuju pada nama salah satu grup yang sudah lama tak dibuka, tapi masih ada di daftar teratas grup yang sering aku buka. Tampak di sana, ada angka 1, sebagai penanda bahwa ada satu kiriman di grup ini yang belum aku lihat. Aku meng-klik kanan nama grup tersebut, lalu meng-klik kiri pilihan "buka tautan di tab baru". Dan kiriman itu akhirnya kulihat, dan membuatku terpaku untuk sejenak....

Aku melanjutkan membaca komentar yang diberikan. Tetes air mata mulai menggenang di pelupuk mata.


Dan tangisku langsung pecah setelah ku selesai membaca komentar-komentar yang diberikan.

Memoriku menayangkan kembali kisah-kisah selama setahun bersama mereka, orang-orang hebat yang telah banyak berbagi banyak hal bersamaku. Saat pertama kali bergabung bersama mereka, dalam kondisi tak tahu banyak hal, lalu diberi kepercayaan untuk ikut berpartisipasi membuat dan melaksanakan konsep yang diharapkan, membuatku menemukan sebuah keluarga baru, lengkap dengan saudara-saudari yang siap berbagi. Meski ada kenangan-kenangan tak mengenakkan di dalamnya, tapi kenangan-kenangan manis yang ada cukup membuatnya terasa indah.

Dan waktu pula yang akhirnya memberi perbedaan. Kini, semua telah menjalani hari-harinya masing-masing, dengan kesibukan yang berbeda. Yang dulu magang, kini jadi staf. Yang dulu staf, kini jadi petinggi. Yang dulu petinggi, kini jadi pengawas. Tak ada lagi pertemuan rutin, membahas ini dan itu. Bahkan saat ini saya sudah lama tak bertemu beberapa orang di dalamnya. Yah, semoga mereka selalu dalam kondisi baik dan dalam lindungan Allah, aamiin.

Pada akhirnya, meski titik-titik rindu kembali merekah, hanya doa yang bisa kulantunkan untuk saudara-saudariku, semoga Allah mempertemukan kita lagi di tempat terbaik, surga-Nya.... :)

Uhibbukum fillah....

Senin, 20 Januari 2014

Pengguna Dunia Maya Juga Manusia

"terima kasih karena memakai foto tanpa izin :)"

Beberapa waktu yang lalu, saya akhirnya bisa mengakses internet dari laptop setelah modemku rusak. Awalnya hanya ingin mengisi rencana studi semester 6, tapi malah berlanjut membuka facebook, twitter, dan email. Singkat cerita, saya membuka salah satu email pemberitahuan dari blog. Di email tersebut terdapat seseorang mengomentari salah satu postingan saya di blog. Isi komentar itu adalah kalimat pertama di tulisan ini.

Bisa dibayangkan perasaan saya saat membaca komentar ini, 'menusuk' banget lah pokoknya. Maksud hati ingin menebar motivasi dan menghimbau untuk menjaga integritas, malah kena teguran dari orang karena tindakan yang kurang jujur (yah, saya asumsikan seperti itu). Diri ini merasa tertampar, karena masih belum mampu mengerjakan apa yang dikatakan. Padahal, Allah sangat murka pada orang tipe ini. Ya Allah, jauhkan hamba dari murka-Mu... :'(

Memang, selama ini saya kerap menggunakan gambar sebagai ilustrasi di tulisan saya, dan mayoritas diambil begitu saja dari Google, dengan anggapan bahwa semua gambar yang telah diunduh di internet bebas diambil dan digunakan sesuka hati, tanpa harus izin. Ternyata memang ada orang yang tidak menginginkan hasil karyanya dipakai dengan bebas oleh orang lain, meskipun orang tersebut mengunduhnya ke dunia maya.

Nah, di sinilah sopan santun dibutuhkan, dengan meminta izin pada orang tersebut untuk menggunakan fotonya untuk kepentingan kita, entah status sosmed, entah artikel blog, dll. Bila diizinkan, baru kita pakai gambarnya. Bila tidak, cari gambar lain atau buat ilustrasi sendiri. Dengan begini, mungkin kejadian yang saya alami tidak terulang lagi. Kita tak perlu 'menyinggung' perasaan pemilik gambar, dan pakai gambarnya juga lebih tenang karena sudah minta izin. Yah, bisa dibilang win-win solution lah, hehehe.

Namun, kalau memang jago desain sih lebih baik buat sendiri gambar ilustrasinya, supaya pesan yang ingin disampaikan di tulisan lebih klop dengan ilustrasi yang dihadirkan (karena yang buat tulisan dan gambar masih orang yang sama). Selain itu, ini juga mengasah kemampuan kita dalam desain-desain gambar dan poster, lumayan buat latihan bikin poster TA, hehe.

Perlu diingat oleh kita, pengguna dunia maya juga manusia, yang punya haknya masing-masing. Maka sudah sewajarnya bila tak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun kita harus menjaga adab dan sopan santun kita pada orang lain. Terlebih kita sebagai seorang muslim, penganut agama Islam, yang memiliki ajaran yang super sempurna, termasuk dalam mengatur hubungan antar manusia. Tidak lengkap rasanya jika ajaran ini hanya berakhir di buku-buku agama, tanpa berlanjut ke pengamalan dalam keseharian. Yuk jaga sopan santun, yuk perbaiki diri!! :)

Kamis, 28 November 2013

Tentang Amanah

Bismillah....
*teruntuk diri yang masih mencari pilihan terbaik*

Sore ini, diri yang tengah resah ini mencoba mencari sedikit 'pencerahan'. Tampak di kolom percakapan di beranda facebook terdapat salah seorang sahabat seperjuangan yang sepertinya bisa dimintai nasihat. Kuberanikan diri untuk memulai percakapan dengannya, dan mulai kuutarakan keresahan yang kini tengah kualami: tentang amanah. Dan beliau mengajukan empat pertanyaan untukku sebagai pertimbangan dalam memilih. keempat pertanyaan itu adalah:
Ah, diri ini kembali merasa 'tertampar'. Sudahkah amanah-amanah yang telah dijalani membawaku pada hal-hal yang beliau tanyakan? akankah amanah-amanah ke depan membawaku ke sana?

Kembali, bulir-bulir bening berjatuhan. Rabb, bimbing hamba pada pilihan terbaik.... ^^v

Sabtu, 12 Oktober 2013

Because You're So Special, ukhti...

Jum'at siang. Selasar labtek VII lantai 2. Hampir satu setengah tahun yang lalu. Ta'lim kemuslimahan.
"Jadi, siapa di sini yang pernah ditaksir sama cowok?" ucap pemateri. Mendengar pertanyaan tersebut, hampir seluruh peserta ta'lim mengangkat tangannya sebagai respon dari pertanyaan tersebut.

Pemateri pun akhirnya menyampaikan pada kami, bahwa setiap perempuan, pada dasarnya memang tercipta untuk menarik hati para laki-laki. Entah ia cantik atau tidak, ber-make-up tebal atau tak pernah merias diri, bicara ceplas-ceplos atau pendiam, tomboy atau feminin. Wanita itu memang indah di mata para pria. Makanya, tak heran jika mayoritas peserta ta'lim mengangkat tangan ketika ditanya "siapa di sini yang pernah ditaksir cowok?".

Hmm, benar juga, pikirku. Setiap wanita kan tercipta dengan keindahan dan keistimewaannya masing-masing. Keindahan yang jangankan laki-laki, sesama wanita saja terkagum-kagum dibuatnya. Entah keindahan itu berupa wajah rupawan, kecerdasan, skill yang dimiliki, kepribadian dan karakter. Wanita, dengan keindahannya, memberi warna tersendiri bagi dunia.

Namun, cukupkah keindahan itu untuk membuat para wanita tampak 'indah' di mata-Nya?

Sekali lagi, cukupkah cantiknya parasmu, lembutnya tutur bahasamu, anggunnya perilakumu, dan segala keindahan yang ada di dirimu untuk membawamu ke surga-Nya?

#thinkagain

Kamis, 10 Oktober 2013

FPB dan KPK

Pernah belajar matematika? Pernah dengar istilah FPB dan KPK? Yap, FPB merupakan singkatan dari 'Faktor Persekutuan Terbesar', sementara KPK merupakan singkatan dari 'Kelipatan Persekutuan Terkecil' (bukan KPK yang ngurusin korupsi itu ya.. ^^v). Keduanya merupakan salah satu metode dasar dalam matematika, terutama aljabar. Dan saya pernah mendapat 'rumus jitu' untuk menemukan FPB atau KPK dari dua atau lebih bilangan dari (almh) guru SD saya (semoga Allah memuliakannya) saat saya kelas 6 SD (kalau tidak salah). Kata beliau, untuk mencari FPB dan KPK, pertama-tama kita harus memfaktorkannya terlebih dahulu. Lalu, jika ingin menemukan FPB kata kuncinya adalah "Faktor yang sama, pangkat terkecil", sementara untuk KPK kata kuncinya adalah "Faktor yang sama, pangkat terbesar, faktor yang tidak sama dimasukkan". 'Rumus 'jitu' itu berhasil saya ingat sampai sekarang, meskipun sudah jarang menemui soal-soal FPB dan KPK di kertas ujian.

Tapi, soal FPB dan KPK, disadari atau tidak, masih kita dapati di dunia nyata loh. Memangnya di dunia nyata kita masih bertemu dengan variabel x, y, dan z? Hmm, bisa jadi tidak. Namun, FPB dan KPK bukannya tidak bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Jadi, pelajaran matematika yang mungkin saat kita dapat di sekolah seolah tak berguna di kehidupan sehari-hari (dalam hal ini kehidupan bermasyarakat) itu ga sepenuhnya benar. So, masih punya alasan lain untuk membenci matematika? #promosi #eaaah

Kita mulai dari FPB. Aplikasi di kehidupan sehari-hari itu apa ya? Yang terbilang sederhana adalah menyocokkan waktu kosong yang sama bagi beberapa teman kita untuk mengadakan belajar bersama, atau rapat organisasi. Intinya, FPB itu membantu kita untuk menemukan kesamaan dari setiap hal yang sedang dikaitkan. Mungkin seolah menjawab kebutuhan manusia yang seolah lebih mudah melihat perbedaan daripada persamaan satu sama lain. Kita cenderung lebih sering berkata 'si A lebih cerewet dari si B' ketimbang 'si A sama si B tuh sama-sama kerudungan'. Padahal, terkadang perbedaan itu membuat kita menjauh, bahkan bermusuhan. Apa salahnya sih kita melihat kesamaan yang kita miliki dan berdamai dengan hati yang terlanjur egois ini?

Selanjutnya adalah KPK. Simple-nya, aplikasi KPK itu adalah memaksimalkan persamaan yang ada dan memasukkan unsur perbedaan ke dalamnya, sehingga terbentuk kesatuan yang bisa memberi hasil maksimal. Kesamaan lah yang membuat langkah serempak ke satu tujuan, dan perbedaan yang membuat tiap komponennya memiliki tugas khusus dalam keberjalanan menempuh tujuan itu. Misalnya, A, B, C, D, dan E adalah sahabat baik. Suatu hari, B, C, D, dan E berencana untuk memberi hadiah kepada si A yang baru menang lomba. Mereka mengonsep bersama, menuangkan ide-ide kreatif untuk menyenangkan si A. Si B yang senang belanja dan jago nawar harga bertugas membeli kado untuk si A (juga keperluan2 lain), si C yang jago menggambar membuat karikatur lucu sebagai salah satu hadiah untuk si A. Si D yang hobinya menulis bikin kata-kata puitis buat A di kartu ucapan, sementara si E yang jago masak membuat makanan spesial untuk dimakan bersama keempat sahabatnya. Keempat sahabat ini punya kesamaan: ingin menyenangkan si A. Dan sebagai manusia pada umumnya, mereka berempat tidaklah identik; pasti memiliki perbedaan. Bisa dilihat dari bakat paling menonjol dari tiap orang, dimana si B jago belanja, C jago gambar, D jago nulis, dan E jago masak. Perbedaan ini, karena didasari kesamaan tujuan, tak menjadi penghalang mereka untuk maju, justru malah membantu mereka dalam menjalankan rencana, karena perbedaan ini diramu dengan optimal sehingga menjadi salah satu pemulus jalan, bukan penghambat jalan. Pada akhirnya, setiap orang memiliki peranan sesuai dengan perbedaan yang mereka miliki. Kalau sudah berpadu seperti ini, perbedaan tak lagi jadi masalah, karena bila perbedaan itu bersifat positif ia bisa menguatkan, dan bila ia negatif ia bisa diredam dengan kelebihan dari orang lain. Jadilah suatu kekuatan baru, hasil dari pergerakan massal, yang efeknya pun bisa masif dan maksimal.


Yah, tulisan ini sekadar pengingat bagi diri sendiri (khususnya), bahwa melebarkan sudut pandang itu penting, agar kita tak sekadar melihat perbedaan sebagai penghambat, tapi sebagai rahmat. Agar kita tak sibuk mengeluhkan perbedaan yang ada, tapi sibuk mengoptimalkannya. Agar kita tak melulu memikirkan perbedaan, namun lupa mencari persamaan. Insya Allah damai... ^^v

Sabtu, 21 September 2013

Tugas Pendahuluan

Kamis pagi, Lab A gedung kerjasama PLN-ITB.

Kondisi kelas hening dan tenang. Asisten memberi kami soal responsi. Saya tengah memandangi gambar rangkaian dengan seksama ketika beberapa pria seumuran asisten dosen yang memberi soal memasuki kelas kami, membuat jalannya responsi terhenti seketika. Kakak-kakak tersebut meminta izin untuk berbicara di depan kelas pada asisten, yang tentunya disetujui, kemudian salah satu dari mereka memperkenalkan diri dan memulai pengumuman. Ah, ternyata kakak yang berbicara ini adalah koordinator asisten praktikum, dan kakak-kakak lainnya (sepertinya terlalu mudah untuk ditebak) merupakan asisten praktikum.Mereka membagikan modul praktikum (yang hanya ada modul 1-nya saja) yang diakhiri dengan dua lembar tugas pendahuluan praktikum. Kakak kordas akhirnya memberitahu kami bahwa tugas pendahuluan harus selesai dan terkumpul dengan NIM berurutan esok hari pukul 5 sore. Kami sempat meminta keringanan, namun pada akhirnya sepakat dengan waktu yang diberikan.

Maka, hari itu, satu angkatan Power 2011 semaput mencari jawaban TP. Dengan kesepakatan, kami membagi tugas pengerjaan TP berdasarkan posisi tempat duduk, kemudian jawaban yang kami peroleh dikumpulkan di selasar PLN sore itu juga untuk difotokopi dan disalin malam harinya.
Singkat cerita, TP sudah diselesaikan (dengan berbagai macam 'perjuangan'; mulai dari tak tidur semalaman sampai bolos kuliah) dan dikumpulkan sesuai deadline yang diberikan Kordas. Ada perasaan tenang, sekaligus lelah, menyeruak dalam diriku. Tugas sudah selesai, dan tak ada salahnya untuk sedikit beristirahat, pikirku. Tubuh ini tak sanggup menahan kantuk dan terlelap lebih awal dari jam tidur biasanya (bahkan diri ini tak sempat mematikan komputer sebelumnya!).

Esok paginya, hari Sabtu, terdengar bunyi 'beep' dari telepon selulerku, penanda pesan singkat masuk. Kubuka dan kubaca pesan itu, dan rasa kecewa tak mampu lagi kusembunyikan. Empat setengah lembar double folio bergaris berisi TP yang kukerjakan semalaman itu ternyata harus direvisi. Perjuangan itu serasa sia-sia, hingga membuatku kecewa. Dengan sedikit berat hati, aku mengambil kembali tugas yang harus kukerjakan.

Beberapa saat setelah mengambil TP di sekretariat himpunan, aku berjumpa dengan kakak tingkatku di jurusan di selasar masjid. Kuceritakan bahwa kami harus merevisi TP kami, dan dia menimpalinya dengan kata-kata yang membuatku kembali merenungi apa yang sudah kulakukan.

"angkatan kalian tuh parah banget soalnya. Masa' TP-nya sampe mirip banget gitu se-angkatan?" Ucapnya sambil sedikit tertawa.

Ah, iya juga. Jika begini caranya, bagaimana bisa aku mengerti apa yang kukerjakan? Kau pikir dengan hanya menyalin jawaban itu semalaman hingga mengorbankan waktu tidurmu dan membuatmu terlelap di kelas itu perjuanganmu sudah maksimal? Apakah dengan cara seperti itu cukup untuk membuatmu terlena dan tak waspada?

Yap, revisi TP ini mengingatkanku kembali akan makna sebuah perjuangan, yang menuntut semua hal-hal terbaik yang kita miliki, bukan hanya hal-hal sisa yang hampir kita buang. Ia juga mengajarkanku bahwa totalitas dalam memahami suatu ilmu sangatlah krusial. Tak lupa, ia juga menyadarkanku bahwa hal terbaik hanya akan diraih dengan cara terbaik. Tak ada hasil baik yang diperoleh dengan niat ATAU cara yang tak baik. Dan janganlah terlalu cepat puas dengan apa yang kita kerjakan, karena bisa jadi apa yang menurut kita sudah baik belum tentu benar-benar baik, pun sebaliknya.

Teringat acara Seminar tentang Innovative Leader yang aku ikuti Jumat siang. Saat itu, pemateri yang merupakan CEO General Electric (GE) Indonesia menyatakan bahwa perusahaan yang sukses pemimpin yang sukses adalah yang senantiasa berinovasi dan kreatif, bukan yang pandai meniru.

Tetap semangat!! Allah (melalui Asisten praktikum) tengah memberimu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu, maka janganlah kamu sia-siakan, atau sesal yang akan kau dapatkan.

Selasa, 20 Agustus 2013

H-6 Kick Off Semester 5

Semester 4 sudah lama berlalu, lebih dari tiga bulan lalu. Setelah melalui banyak hal, termasuk Ramadhan dan Idul Fitri, tak terasa semester 5 sudah di depan mata. Rencana studi sudah diajukan ke dosen wali, tinggal menunggu persetujuan beliau. Kelengkapan alat tulis sudah cukup. Buku-buku teks penunjang kuliah semester depan sudah mulai dicari, termasuk dengan meminjam pada kakak tingkat. Info-info mengenai perkuliahan semester ini pun sedikit demi sedikit sudah digali dari memori kakak-kakak tingkat yang lebih berpengalaman.

Semester 5, saat-saat 'legendaris' menurut banyak orang di program studi ini. Saat-saat paling menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Saat-saat dimana IP 'terjun bebas' (naudzubillahi min dzalik). Saat-saat dimana 24 jam sehari dan 7 hari seminggu terasa amat sangat berharga, sampai-sampai waktu tidur pun bisa saja dikorbankan. TP praktikum segunung. Tes awal praktikum yang juga bikin deg-degan. Kepentingan akademik yang (kerap) berbenturan dengan kepentingan organisasi. Dan sederetan cerita 'horor' nan 'legendaris' lainnya. Kisah-kisah ini bisa jadi penghancur semangat, namun bisa juga jadi pemicu semangat. Yah, kembali ke orangnya.

Bagiku, semester ini jadi tantangan 'serius', karena aku sudah tidak bisa 'main-main' seperti semester-semester kemarin. Ini sangat terkait dengan masa depanku nantinya. Waktuku sudah tak banyak: dua tahun lagi. Dan tugasku masih amat banyak. Tanggung jawabku juga tak kalah banyaknya. Dan jatah hariku di dunia juga semakin berkurang. Menyesal di kemudian hari merupakan hal yang tak ingin kualami.

"belajarlah untuk lebih tegas pada diri sendiri", ujar salah satu kakak tingkat.
"mulailah untuk berpikir dan bertindak cepat, karena tanpa berpikir cepat kau akan salah dan tanpa bertindak cepat kau akan kalah", kata Bapak.
"apapun yang terjadi, hadapilah dengan gembira, karena itulah salah satu kunci kesuksesan", kata Ibu.


Semester 5, aku datang untuk 'menaklukkan'mu...!!!