Kamis, 10 Oktober 2013

FPB dan KPK

Pernah belajar matematika? Pernah dengar istilah FPB dan KPK? Yap, FPB merupakan singkatan dari 'Faktor Persekutuan Terbesar', sementara KPK merupakan singkatan dari 'Kelipatan Persekutuan Terkecil' (bukan KPK yang ngurusin korupsi itu ya.. ^^v). Keduanya merupakan salah satu metode dasar dalam matematika, terutama aljabar. Dan saya pernah mendapat 'rumus jitu' untuk menemukan FPB atau KPK dari dua atau lebih bilangan dari (almh) guru SD saya (semoga Allah memuliakannya) saat saya kelas 6 SD (kalau tidak salah). Kata beliau, untuk mencari FPB dan KPK, pertama-tama kita harus memfaktorkannya terlebih dahulu. Lalu, jika ingin menemukan FPB kata kuncinya adalah "Faktor yang sama, pangkat terkecil", sementara untuk KPK kata kuncinya adalah "Faktor yang sama, pangkat terbesar, faktor yang tidak sama dimasukkan". 'Rumus 'jitu' itu berhasil saya ingat sampai sekarang, meskipun sudah jarang menemui soal-soal FPB dan KPK di kertas ujian.

Tapi, soal FPB dan KPK, disadari atau tidak, masih kita dapati di dunia nyata loh. Memangnya di dunia nyata kita masih bertemu dengan variabel x, y, dan z? Hmm, bisa jadi tidak. Namun, FPB dan KPK bukannya tidak bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Jadi, pelajaran matematika yang mungkin saat kita dapat di sekolah seolah tak berguna di kehidupan sehari-hari (dalam hal ini kehidupan bermasyarakat) itu ga sepenuhnya benar. So, masih punya alasan lain untuk membenci matematika? #promosi #eaaah

Kita mulai dari FPB. Aplikasi di kehidupan sehari-hari itu apa ya? Yang terbilang sederhana adalah menyocokkan waktu kosong yang sama bagi beberapa teman kita untuk mengadakan belajar bersama, atau rapat organisasi. Intinya, FPB itu membantu kita untuk menemukan kesamaan dari setiap hal yang sedang dikaitkan. Mungkin seolah menjawab kebutuhan manusia yang seolah lebih mudah melihat perbedaan daripada persamaan satu sama lain. Kita cenderung lebih sering berkata 'si A lebih cerewet dari si B' ketimbang 'si A sama si B tuh sama-sama kerudungan'. Padahal, terkadang perbedaan itu membuat kita menjauh, bahkan bermusuhan. Apa salahnya sih kita melihat kesamaan yang kita miliki dan berdamai dengan hati yang terlanjur egois ini?

Selanjutnya adalah KPK. Simple-nya, aplikasi KPK itu adalah memaksimalkan persamaan yang ada dan memasukkan unsur perbedaan ke dalamnya, sehingga terbentuk kesatuan yang bisa memberi hasil maksimal. Kesamaan lah yang membuat langkah serempak ke satu tujuan, dan perbedaan yang membuat tiap komponennya memiliki tugas khusus dalam keberjalanan menempuh tujuan itu. Misalnya, A, B, C, D, dan E adalah sahabat baik. Suatu hari, B, C, D, dan E berencana untuk memberi hadiah kepada si A yang baru menang lomba. Mereka mengonsep bersama, menuangkan ide-ide kreatif untuk menyenangkan si A. Si B yang senang belanja dan jago nawar harga bertugas membeli kado untuk si A (juga keperluan2 lain), si C yang jago menggambar membuat karikatur lucu sebagai salah satu hadiah untuk si A. Si D yang hobinya menulis bikin kata-kata puitis buat A di kartu ucapan, sementara si E yang jago masak membuat makanan spesial untuk dimakan bersama keempat sahabatnya. Keempat sahabat ini punya kesamaan: ingin menyenangkan si A. Dan sebagai manusia pada umumnya, mereka berempat tidaklah identik; pasti memiliki perbedaan. Bisa dilihat dari bakat paling menonjol dari tiap orang, dimana si B jago belanja, C jago gambar, D jago nulis, dan E jago masak. Perbedaan ini, karena didasari kesamaan tujuan, tak menjadi penghalang mereka untuk maju, justru malah membantu mereka dalam menjalankan rencana, karena perbedaan ini diramu dengan optimal sehingga menjadi salah satu pemulus jalan, bukan penghambat jalan. Pada akhirnya, setiap orang memiliki peranan sesuai dengan perbedaan yang mereka miliki. Kalau sudah berpadu seperti ini, perbedaan tak lagi jadi masalah, karena bila perbedaan itu bersifat positif ia bisa menguatkan, dan bila ia negatif ia bisa diredam dengan kelebihan dari orang lain. Jadilah suatu kekuatan baru, hasil dari pergerakan massal, yang efeknya pun bisa masif dan maksimal.


Yah, tulisan ini sekadar pengingat bagi diri sendiri (khususnya), bahwa melebarkan sudut pandang itu penting, agar kita tak sekadar melihat perbedaan sebagai penghambat, tapi sebagai rahmat. Agar kita tak sibuk mengeluhkan perbedaan yang ada, tapi sibuk mengoptimalkannya. Agar kita tak melulu memikirkan perbedaan, namun lupa mencari persamaan. Insya Allah damai... ^^v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar