Sambil melepas rindu, kita mulai dengan sebuah kisah dulu ya.... Check this out...
**
Suatu hari....
Tukang Kredit : Assalamualaikum....
Anak : Waalaikumsalam.... Bade nagih kreditan mamah nya?
T: Muhun. Mamahna aya?
A: Henteu. Mamahna nuju ka Majalaya.
T: Ari Eneng terang henteu Majalaya di mana?
A: Henteu. Ke ditaroskeun ka Mamah heula. Maah, ari Majalaya teh di beulah mana??
**
Ada yang kenal percakapan ini? Yap, ini adalah kutipan dari suatu acara humor berbahasa Sunda (sebut saja Cangehgar) di salah satu radio di Bandung. Buat teman-teman yang belum bisa berbahasa Sunda, inti percakapan ini adalah mengenai seorang tukang kredit yang menagih uang kredit pada salah satu ibu rumah tangga, lalu si ibu ini menyuruh si anak untuk berbohong pada tukang kredit ini dengan mengatakan ibunya sedang pergi ke Majalaya. Ketika tukang kredit ini bertanya balik pada si anak mengenai letak Majalaya, si anak ini -- yang memang tidak tahu -- dengan polosnya berteriak ke dalam rumah, bertanya pada sang ibu. Akhirnya terbongkarlah kebohongan ibu ini.
Dari kisah ini, saya tergelitik dengan kepolosan anak itu. Betapa anak-anak memang masih sangat polos, tidak bisa berbohong. Berbeda dengan kita yang sudah berpuluh atau bahkan beratus kali berbohong, mulai dari membohongi orang tua kita, teman kita, guru kita, bahkan membohongi diri sendiri dan (berusaha) membohongi Allah. Na'uudzu Billaahi Min Dzaalik.... #istighfaar
Padahal, ilmu kita (dibanding adik-adik kita yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Taman Kanak-Kanak, apalagi Pendidikan Anak Usia Dini) tentulah jauh lebih banyak. Kita juga harusnya sudah tahu mengapa harus berkata dan berbuat jujur, sudah diajarkan sejak SD, baik di pelajaran Pendidikan Agama maupun Pendidikan Kewarganegaraan. Dan pastinya kita sudah sering mendengar kisah teladan kita, Nabi Muhammad -- semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk beliau, yang terkenal di Bangsa Arab sebagai Al Amin atau 'orang yang dapat dipercaya' sejak jauh sebelum ia diutus sebagai rasul terakhir di muka bumi. Dan kita (yang katanya) pengikutnya, harusnya menjalankan sunnah-sunnahnya dan meniru akhlak terpuji beliau, termasuk jujur, bukan?
Cobalah tanya pada diri sendiri, sudahkah kita berusaha untuk jujur dalam setiap kegiatan kita? Sudahkah kita jujur dalam mengerjakan PR dari dosen kita? Sudahkah kita berkata apa adanya tentang kondisi kita pada orang lain? Masihkah kita bersembunyi dalam topeng-topeng kebohongan agar orang lain tak tahu busuknya kita? Atau masihkah kita berkata "saya beriman" padahal hati ingkar? Masihkah kita menodai syahadat ini dengan percaya pada selain-Nya?
"berkatalah yang baik, atau diam..." (Al Hadits)
Wallaahu A'lam Bish Shawaaab...
