Selasa, 20 November 2012

Harga Mahal Sebuah Kejujuran



Senin, 13.00-14.40 WIB. Gedung BSC-A lantai 4. Seperti biasa, kuliah Rangkaian Elektrik kami jalani. Hari ini aku datang terlambat ke kelas. Entah terlambat berapa menit, yang jelas dosen sudah menjelaskan slide demi slide presentasi kuliah hari ini. Aku akhirnya mengikuti kuliah dan mencerna sedikit demi sedikit penjelasan dosen dan slide-slide itu. Rasa kantuk mulai datang, dan aku terlelap sejenak.

Saat aku mulai sadar kembali, dosen kami menghentikan sejenak perkuliahan. Beliau membuka sebuah file. Aku merasa heran, tumben beliau menghentikan KBM, padahal belum waktunya berhenti (dosenku yang satu ini terkenal amat disiplin. Pada kuliah ini, beliau akan memulai tepat pada pukul 13.00 dan mengakhirinya tepat pada pukul 14.40. Beliau justru minta maaf pada mahasiswanya bila menyelesaikan KBM pada hari itu melewati waktu yang kusebutkan tadi, hal yang jarang dilakukan oleh dosen kebanyakan). Ternyata, beliau membuka softcopy peraturan akademik kampusku.

Beliau mulai bagian kedua dari peraturan ini, yaitu mengenai kecurangan akademik, terutama masalah kecurangan saat ujian (tahu lah maksudnya apa). Sanksi yang diberikan kampusku tidak main-main. Skorsing bagi yang menyontek maupun yang memfasilitasinya (memberi contekan). Itu baru sanksi minimal. Pahit-pahitnya, si Pelaku bisa saja di-DO dari kampus, hal yang pastinya tidak diinginkan setiap mahasiswa.

Aku masih belum paham mengapa beliau rela meng-cut kuliah demi menjelaskan peraturan akademik. Ternyata, beliau menemukan kecurangan akademik di kelas kami, tepatnya saat kuis ketiga. Dan beliau berkata bahwa untuk pelaku ini, ia memberikan dua pilihan: dilaporkan ke dekan dengan tuntutan skorsing minimal 1 tahun bila tidak mau mengaku, atau mengakui kesalahannya dengan catatan ia tidak diluluskan pada matakuliah ini.

Kelas yang biasanya hening semakin terasa mencekam. Ancaman yang lumayan menakutkan, pikirku. Bagaimanapun, mengulang kuliah Rangkaian Elektrik bukanlah hal yang dianjurkan, karena pastinya akan menambah beban di semester berikutnya, apalagi bila terpaksa harus 'cuti' kuliah selama minimal setahun. Terlebih bagai mahasiswa penerima beasiswa seperti saya yang harus lulus empat tahun (karena beasiswa yang diterima hanya untuk kuliah selama delapan semester). Pilihan yang sulit.

Aku kembali berpikir, bahwa kejujuran itu memang mahal. Dan dua orang itu (aku bersyukur tidak tahu siapa orangnya) sudah rela menjualnya dengan (minimal) tidak lulus matakuliah itu. Padahal yang dapat nilai nol dengan usaha sendiri juga banyak, dan dosen akan mengambil empat nilai terbaik dari enam kuis yang beliau berikan. Artinya, nilai nol itu pun akan diabaikan bila nilai-nilai yang lain lebih baik, artinya semua kembali ke usaha kita dalam belajar dan mempersiapkan diri untuk ujian itu.


"Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Gak mau masuk golongan orang munafik kan??

Jujur itu mahal. Maka dari itu, jagalah ia baik-baik dalam keseharian kita.
Jujur itu langka. Oleh karenanya, jangan biarkan ia punah.
Karena, bila kejujuran itu telah punah, maka punahlah pula kebaikan di dunia ini....



“Usman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan pula kepada kami dari Mansur, dari Abi Wail, dari Abdullah, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Sungguh, kejujuran itu menunjukkan jalan kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang dapat dinilai jujur bila ia (benar-benar) mengimplementasikan nilai kejujuran tersebut. Sebaliknya, kebohongan itu menunjukkan jalan kesesatan dan kesesatan itu mengantarkan ke neraka. Karenanya, seseorang yang seringkali berbohong, hingga ia dicatat di sisi Allah swt. sebagai pembohong.” (HR Bukhari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar