Kamis, 16 Mei 2013

Just The Other Side of UAS

UAS. Ujian Akhir Semester. Ia bisa diartikan sebagai "sarana evaluasi keberlangsungan pembelajaran satu semester terakhir (terutama setelah Ujian Tengah Semester/UTS)", bisa juga sebagai "kesempatan terakhir untuk memperbaiki nilai agar bisa lulus semester ini". Di sini, kedua makna ini dipakai, meski oleh matakuliah yang berbeda-beda. Makna pertama digunakan oleh matakuliah yang hanya memiliki satu kali UTS, sementara yang kedua digunakan oleh matakuliah yang memiliki dua atau lebih UTS.

UAS definisi pertama tak akan dibahas lebih mendalam, karena ia memang dialami seluruh mahasiswa, seperti halnya UTS. Kita ingin membahas UAS definisi kedua, yang sebenarnya masih bisa dihindari dengan berusaha sebaik mungkin di UTS-UTS sebelumnya (serta kuis dan PR yang punya bagian cukup besar bagi beberapa matakuliah). UAS yang dialokasikan bagi orang-orang yang terancam tidak lulus dan mengulang di semester berikutnya.

Jujur, saya pernah (dan sedang) dalam kondisi ini, dan saya merasa bersedih saat harus mengikuti UAS tipe ini. Merasa rendah diri dibanding teman-teman lain yang lulus, merasa kecewa dengan hasil yang ada, merasa menyesal atas kelalaian yang dilakukan satu semester ini, dan lain-lain. Saya kadang malu, karena saya di sini bukan dengan usaha yang ringan semudah membalikkan telapak tangan. Saya bisa di sini karena takdir Allah (itu pasti) yang harus diraih dengan banyak usaha, banyak pengorbanan. Tapi saya justru masih belum merasa maksimal. Saya merasa belum mengeluarkan kemampuan terbaik saya untuk meraih cita-cita saya.

Tapi, nasi telah jadi bubur. Yang bisa dilakukan hanyalah membuat bubur ini bisa lezat dimakan (diambil dari status seorang guru di SMA, dengan perubahan redaksi, in syaa Allah tidak merubah maknanya). Ya, satu semester ini memang belum saya jalani dengan baik. Tapi, saya masih diberi kesempatan untuk mengakhiri semester ini dengan manis meski tak seperti yang diinginkan. Syukurilah keberadaan UAS ini, karena ini berarti Allah masih memberi saya kesempatan untuk memperbaiki nilai saya. Syukurilah UAS ini, karena ini berarti Allah masih sayang pada kita, meski (bisa jadi) ia murka karena kita telah lalai dan menyalahgunakan nikmat yang Ia berikan. Syukurilah UAS ini, karena ini bisa jadi titik balik kita yang sebelumnya menukik menuju cakrawala dan tenggelam bersama mentari senja untuk terbang mengangkasa, meraih bintang di angkasa yang luas. Karena kita adalah muslim, yang meyakini bahwa segala jenis ujian yang dihadapi berasal dari-Nya, dan Ia tak akan membebani pundak hamba-Nya dengan beban yang melebihi kemampuan maksimal hambanya itu (QS Al Baqarah 286).

Maka, tetaplah berusaha, jangan berhenti berharap, dan pasrahkan semua hasil usaha kita pada-Nya. Allah menciptakan kegagalan bukan karena Ia benci kita, tapi karena Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Bersyukurlah, karena kita masih diberi kesempatan untuk memutar balik langkah kita, kembali ke trek yang benar, lalu melanjutkan perjalanan menuju ridho-Nya.

“sungguh menakjubkan urusan seorang mu’min. Semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mu’min. Apabila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. dan apabila ia mendapat musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR Muslim)

Allah, kuatkan hati dan iman ini, agar ia tak runtuh meski dihantam badai ujian dan cobaan....


Bismillah, in syaa Allah saya bisa!!!

Wallahu a'lam bish shawab...

Senin, 13 Mei 2013

Belajar dari Wigan


Siapa yang menonton final piala FA malam minggu kemarin? Saya jujur tidak menonton, tapi saya meng-update infonya keesokan harinya. Dan hasil pertandingan ini (saya rasa) cukup mengejutkan banyak pihak ketika Wigan Athletic mampu menundukkan Manchester City yang lebih diunggulkan di menit-menit akhir laga.

Entah mengapa, saya terkadang lebih mendukung tim non-unggulan dalam suatu pertandingan dibanding tim Unggulan, seperti saat Turki vs Korea Selatan di perebutan juara 3 Piala Dunia 2002 lalu saya mendukung Turki dibanding tuan rumah yang pastinya dapat dukungan lebih banyak. Dan saat itu, Turki menang dengan salah satu golnya dicetak kurang dari enam puluh detik setelah wasit meniup peluit tanda kick off babak pertama dimulai.

Pun di pertandingan semalam. Saya mendukung Wigan, tim yang baru berdiri kurang lebih setahun sebelum Persib Bandung didirikan, baru promosi ke Premiere League (kasta tertinggi sepak bola Inggris) tahun 2006, beberapa pemain inti tengah cedera, dan musim ini berada di posisi 18 dan masih terancam degradasi menyusul Reading dan QPR yang sudah pasti turun kasta. Tak berhenti di sana, lawan yang harus dihadapi bukanlah lawan yang lemah. Manchester City, runner up Premiere League musim ini setelah juara di musim lalu, dan juara FA Cup 2 musim yang lalu. Tim bermaterikan pemain bintang dengan gaji selangit pasca klub diakuisisi oleh pengusaha minyak kaya asal Timur Tengah, seperti Kun Aguero, Carlos Tevez, Samir Nasri, dan sederet nama-nama terkenal lainnya. Tak banyak yang memprediksi Wigan akan menaklukkan Man. City, karena rekor pertemuan pun lebih berpihak pada Manchester Biru. 7 pertemuan terakhir melawan Wigan berakhir dengan kemenangan cleansheet. Di FA Cup baru kebobolan oleh Demba Ba saat melawan Chelsea di semifinal (laga yang menurut sebagian orang dianggap 'Final Kepagian', karena di sisi lain Wigan 'hanya' bertemu tim non-Premiere League, Milwall).

Tapi, siapa sangka jika Joe Hart harus kebobolan dua kali di turnamen sepakbola di dunia edisi tahun ini, dan menyaksikan timnya harus rela nirgelar musim ini? Ya, Ben Watson, pemain pengganti yang enam bulan lalu mengalami patah kaki ini berhasil menanduk bola hasil tendangan sudut dan mencetak gol kemenangan bagi timnya di menit akhir laga. Gol tunggalnya cukup untuk mengantarkan The Latics meraih piala besar pertamanya sepanjang sejarah klub. Dan gol ini (semoga) meningkatkan motivasi tim agar selamat dari jurang degradasi musim ini.

Kali ini, saya bukan ingin membahas taktik dan formasi yang dipakai kedua tim, bukan juga menganalisis pertandingan, karena saya masih sangat awam mengenai hal ini. Saya hanya ingin mengambil secuil hikmah dari pertandingan ini. Betapa di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Terlalu banyak kisah-kisah 'si Lemah' yang mampu mengalahkan 'si Kuat', seperti kura-kura yang menang balap lari lawan kelinci (fabel masa kecil, hehe), Cinderella, Putri Salju, Captain Tsubatsa, dan lain-lain, dan pertandingan ini jadi salah satunya (meskipun ini bukanlah cerita fiksi seperti contoh-contoh yang telah disebutkan sebelumnya). Maka, jika 'keajaiban' ini bisa terjadi, maka pantaskah kita menyerah dan pesimis sebelum terjun ke medan pertempuran? Bukankah di zaman dahulu pasukan Muslim juga bisa mengalahkan orang-orang kafir meski secara jumlah kalah jauh? Bukankah Wigan juga memiliki skuad yang minim dan kalah kualitas dari Manchester City yang bergelimang pemain kelas dunia? Maka, pelajaran pertama yang dapat dipetik ialah TAK ADA YANG TAK MUNGKIN DI DUNIA INI, JANGAN MENGABAIKAN PERAN ALLAH DALAM USAHA KITA, karena sukses tidaknya kita, menang tidaknya Wigan semalam, semua Allah yang menentukan -- Ia Maha Kuasa atas makhluk-Nya. Dan Allah takkan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang merubahnya (Ar Ra'du : 11)

Kemenangan Wigan pun memiliki keistimewaannya sendiri. Ketika AC Milan menggunakan formasi 'Parkir Bus' untuk menghentikan Barcelona dengan tiki-taka sebagai ciri khasnya, Wigan tetap memainkan sepakbola terbuka seperti biasanya. Namun, ini justru ampuh untuk mematikan City di babak pertama karena pemain Wigan disiplin dalam bertahan dan menyerang, meski lemah di penyelesaian akhir. Mereka tetap menjadi diri mereka sendiri, sesuatu yang jarang dilakukan tim yang cenderung lebih lemah kala bertemu tim yang lebih kuat. Pelajaran kedua, JADILAH DIRI SENDIRI DAN YAKINLAH PADA KEMAMPUAN YANG KITA PUNYA, SERTA MANFAATKAN IA DENGAN BAIK. Allah menciptakan setiap makhluknya dengan potensi dan kemampuannya masing-masing, maka tugas kita adalah kembangkan potensi itu dan manfaatkan ia dengan baik. Wigan tahu cara memanfaatkan karakternya dengan baik saat melawan City, dan mereka akhirnya menang dengan terhormat, menang dengan kerja keras tanpa mengorbankan jati diri mereka.

Kemenangan ini bukannya diraih dengan mudah. Butuh 90 menit penuh perjuangan dan kesabaran kala menyerang pertahanan City dan butuh usaha ekstra untuk membuat peluang City tak berbuah gol. Butuh 90 menit pertandingan dengan City yang terus menyerang dan serangan Wigan yang selalu bisa diselamatkan barisan pertahanan City, hingga akhirnya kesempatan tendangan sudut itu tiba, dan Ben Watson tak menyiakannya, menyundul bola ke arah gawang, membuat Joe Hart terpaku melihat gawangnya bobol untuk kedua kalinya di turnamen ini. Maka, pelajaran ketiga adalah BERJUANGLAH SAMPAI AKHIR DAN JANGAN SIA-SIAKAN PELUANG YANG ADA. Kita tak pernah tahu bagian hidup kita yang sebelah mana yang membawa kita pada keberhasilan, dan bagian hidup kita yang mana yang membawa kita pada kegagalan. Jadi, tetap berjuang hingga detik-detik terakhir, maksimalkan peluang dan kesempatan yang ada. Karena kita hidup hanya sekali, dan tak ada yang tahu kapankah ajal akan menjemputnya. Bisa jadi hari ini, besok, atau kapanpun. Manfaatkanlah waktu yang ada untuk senantiasa menabung untuk kehidupan mendatang (akhirat) yang lebih kekal dan nyata, jangan sia-siakan untuk kehidupan saat ini yang fana dan sementara (dunia).

Saya yakin masih banyak pelajaran yang dapat diambil dari pertandingan ini. Namun ilmu saya masih terbatas. Jadi, bagi teman-teman yang dapat mengambil hikmah lain silakan di-share di komentar atau media lain. Mari saling mengingatkan, mari saling berbagi ilmu untuk kebaikan bersama kini dan nanti.

Sedikit mengutip pernyataan dari Ben Watson, sang pencetak gol penentu kemenangan Wigan, ketika ditanya wartawan mengenai responnya atas pertandingan malam kemarin. "Waktu enam bulan adalah waktu yang panjang karena kaki saya patah. Tapi, saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Mereka membantu saya melewati itu semua. Saya percaya, jika Anda bekerja keras maka hasilnya bakal layak. Semuanya seperti sudah ditakdirkan untuk terjadi. Maksud saya.. enam bulan lalu kaki saya patah, sekarang saya bermain di final Piala FA dan mencetak gol kemenangan."

Wallahu A'lam Bish Shawaab.

Kamis, 09 Mei 2013

Merajut Asa Part 3: Jalan Itu Tak Selalu Mulus

Jalan itu tak selalu mulus.
Selalu ada saja penghalang dan rintangan yang melintang.
Mulai dari kerikil kecil yang kerap membuat orang tersandung
Hingga batu besar yang membuat orang menyerah.

Jalan itu tak selalu mulus.
Selalu ada yang harus dikorbankan.
Entah itu waktu luang, istirahat, kesenangan,
Atau mungkin orang-orang terkasih, harta, bahkan nyawa.
Tapi, itulah perjuangan.

Jalan itu tak selalu mulus.
Air mata, kesempitan, kesulitan, luka,
Akan berusaha lambatkan laju langkah ini
Sebelum akhirnya tiba pada
Senyum, kelapangan, kemudahan, dan penyembuhan.

Jalan ini tak selalu mulus.
Bukankah Ia memang menyediakan dua jalan
Yang bisa kita pilih salah satunya?
Maka, pilihlah jalan yang mampu dekatkan diri pada-Nya
meski, sekali lagi, JALAN ITU TAK SELALU MULUS

Jalan itu tak selalu mulus.
Ada air mata sebelum tawa
Ada kesempitan sebelum kelapangan
Ada kesulitan sebelum kemudahan
Ada luka sebelum penyembuhan
Tapi, satu yang pasti.
Ada SABAR yang menjembatani mereka.

Jalan itu memang tak selalu mulus.
Tapi, bukankah kita masih memiliki Dia
Yang bersedia mendengar keluh kesahmu
Dan mengabulkan permohonanmu?
Dia-lah pemilik segala ujian
dan Dia pula pemilik segala solusi.
Dia menjanjikan KEMUDAHAN
Bagi orang yang sanggup menjalani KESULITAN
Dia yang mencintai Hamba-Nya yang selalu berusaha dan berdoa pada-Nya
Dia yang selalu bersama orang yang sabar
Dia yang menyediakan SURGA dan ISINYA bagi Hamba-Nya yang ikhlas berjuang di JALAN-NYA
Maka, teruslah mendekati-Nya,
Karena hanya Dia-lah yang layak dipuja dan hanya Dia-lah sumber segala pertolongan.

Jalan ini tak pernah mulus, kawan.
Selalu ada jalan mendaki nan curam yang temani langkah kita.
Namun, tanpa ia (jalan mendaki nan curam), apakah bisa kita mencapai puncak tertinggi?
Karena jalan yang datar hanya akan membuat kita terpaku di tingkat yang sama....

Wallahu A'lam Bish Shawaab...