UAS. Ujian Akhir Semester. Ia bisa diartikan sebagai "sarana evaluasi keberlangsungan pembelajaran satu semester terakhir (terutama setelah Ujian Tengah Semester/UTS)", bisa juga sebagai "kesempatan terakhir untuk memperbaiki nilai agar bisa lulus semester ini". Di sini, kedua makna ini dipakai, meski oleh matakuliah yang berbeda-beda. Makna pertama digunakan oleh matakuliah yang hanya memiliki satu kali UTS, sementara yang kedua digunakan oleh matakuliah yang memiliki dua atau lebih UTS.
UAS definisi pertama tak akan dibahas lebih mendalam, karena ia memang dialami seluruh mahasiswa, seperti halnya UTS. Kita ingin membahas UAS definisi kedua, yang sebenarnya masih bisa dihindari dengan berusaha sebaik mungkin di UTS-UTS sebelumnya (serta kuis dan PR yang punya bagian cukup besar bagi beberapa matakuliah). UAS yang dialokasikan bagi orang-orang yang terancam tidak lulus dan mengulang di semester berikutnya.
Jujur, saya pernah (dan sedang) dalam kondisi ini, dan saya merasa bersedih saat harus mengikuti UAS tipe ini. Merasa rendah diri dibanding teman-teman lain yang lulus, merasa kecewa dengan hasil yang ada, merasa menyesal atas kelalaian yang dilakukan satu semester ini, dan lain-lain. Saya kadang malu, karena saya di sini bukan dengan usaha yang ringan semudah membalikkan telapak tangan. Saya bisa di sini karena takdir Allah (itu pasti) yang harus diraih dengan banyak usaha, banyak pengorbanan. Tapi saya justru masih belum merasa maksimal. Saya merasa belum mengeluarkan kemampuan terbaik saya untuk meraih cita-cita saya.
Tapi, nasi telah jadi bubur. Yang bisa dilakukan hanyalah membuat bubur ini bisa lezat dimakan (diambil dari status seorang guru di SMA, dengan perubahan redaksi, in syaa Allah tidak merubah maknanya). Ya, satu semester ini memang belum saya jalani dengan baik. Tapi, saya masih diberi kesempatan untuk mengakhiri semester ini dengan manis meski tak seperti yang diinginkan. Syukurilah keberadaan UAS ini, karena ini berarti Allah masih memberi saya kesempatan untuk memperbaiki nilai saya. Syukurilah UAS ini, karena ini berarti Allah masih sayang pada kita, meski (bisa jadi) ia murka karena kita telah lalai dan menyalahgunakan nikmat yang Ia berikan. Syukurilah UAS ini, karena ini bisa jadi titik balik kita yang sebelumnya menukik menuju cakrawala dan tenggelam bersama mentari senja untuk terbang mengangkasa, meraih bintang di angkasa yang luas. Karena kita adalah muslim, yang meyakini bahwa segala jenis ujian yang dihadapi berasal dari-Nya, dan Ia tak akan membebani pundak hamba-Nya dengan beban yang melebihi kemampuan maksimal hambanya itu (QS Al Baqarah 286).
Maka, tetaplah berusaha, jangan berhenti berharap, dan pasrahkan semua hasil usaha kita pada-Nya. Allah menciptakan kegagalan bukan karena Ia benci kita, tapi karena Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Bersyukurlah, karena kita masih diberi kesempatan untuk memutar balik langkah kita, kembali ke trek yang benar, lalu melanjutkan perjalanan menuju ridho-Nya.
“sungguh menakjubkan
urusan seorang mu’min. Semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak
dimiliki kecuali oleh seorang mu’min. Apabila ia mendapat kesenangan ia
bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. dan apabila ia mendapat musibah, ia
bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR Muslim)
Allah, kuatkan hati dan iman ini, agar ia tak runtuh meski dihantam badai ujian dan cobaan....
Bismillah, in syaa Allah saya bisa!!!
Wallahu a'lam bish shawab...




