Siapa yang menonton final piala FA malam minggu kemarin? Saya jujur tidak menonton, tapi saya meng-update infonya keesokan harinya. Dan hasil pertandingan ini (saya rasa) cukup mengejutkan banyak pihak ketika Wigan Athletic mampu menundukkan Manchester City yang lebih diunggulkan di menit-menit akhir laga.
Entah mengapa, saya terkadang lebih mendukung tim non-unggulan dalam suatu pertandingan dibanding tim Unggulan, seperti saat Turki vs Korea Selatan di perebutan juara 3 Piala Dunia 2002 lalu saya mendukung Turki dibanding tuan rumah yang pastinya dapat dukungan lebih banyak. Dan saat itu, Turki menang dengan salah satu golnya dicetak kurang dari enam puluh detik setelah wasit meniup peluit tanda kick off babak pertama dimulai.
Pun di pertandingan semalam. Saya mendukung Wigan, tim yang baru berdiri kurang lebih setahun sebelum Persib Bandung didirikan, baru promosi ke Premiere League (kasta tertinggi sepak bola Inggris) tahun 2006, beberapa pemain inti tengah cedera, dan musim ini berada di posisi 18 dan masih terancam degradasi menyusul Reading dan QPR yang sudah pasti turun kasta. Tak berhenti di sana, lawan yang harus dihadapi bukanlah lawan yang lemah. Manchester City, runner up Premiere League musim ini setelah juara di musim lalu, dan juara FA Cup 2 musim yang lalu. Tim bermaterikan pemain bintang dengan gaji selangit pasca klub diakuisisi oleh pengusaha minyak kaya asal Timur Tengah, seperti Kun Aguero, Carlos Tevez, Samir Nasri, dan sederet nama-nama terkenal lainnya. Tak banyak yang memprediksi Wigan akan menaklukkan Man. City, karena rekor pertemuan pun lebih berpihak pada Manchester Biru. 7 pertemuan terakhir melawan Wigan berakhir dengan kemenangan cleansheet. Di FA Cup baru kebobolan oleh Demba Ba saat melawan Chelsea di semifinal (laga yang menurut sebagian orang dianggap 'Final Kepagian', karena di sisi lain Wigan 'hanya' bertemu tim non-Premiere League, Milwall).
Tapi, siapa sangka jika Joe Hart harus kebobolan dua kali di turnamen sepakbola di dunia edisi tahun ini, dan menyaksikan timnya harus rela nirgelar musim ini? Ya, Ben Watson, pemain pengganti yang enam bulan lalu mengalami patah kaki ini berhasil menanduk bola hasil tendangan sudut dan mencetak gol kemenangan bagi timnya di menit akhir laga. Gol tunggalnya cukup untuk mengantarkan The Latics meraih piala besar pertamanya sepanjang sejarah klub. Dan gol ini (semoga) meningkatkan motivasi tim agar selamat dari jurang degradasi musim ini.
Kali ini, saya bukan ingin membahas taktik dan formasi yang dipakai kedua tim, bukan juga menganalisis pertandingan, karena saya masih sangat awam mengenai hal ini. Saya hanya ingin mengambil secuil hikmah dari pertandingan ini. Betapa di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Terlalu banyak kisah-kisah 'si Lemah' yang mampu mengalahkan 'si Kuat', seperti kura-kura yang menang balap lari lawan kelinci (fabel masa kecil, hehe), Cinderella, Putri Salju, Captain Tsubatsa, dan lain-lain, dan pertandingan ini jadi salah satunya (meskipun ini bukanlah cerita fiksi seperti contoh-contoh yang telah disebutkan sebelumnya). Maka, jika 'keajaiban' ini bisa terjadi, maka pantaskah kita menyerah dan pesimis sebelum terjun ke medan pertempuran? Bukankah di zaman dahulu pasukan Muslim juga bisa mengalahkan orang-orang kafir meski secara jumlah kalah jauh? Bukankah Wigan juga memiliki skuad yang minim dan kalah kualitas dari Manchester City yang bergelimang pemain kelas dunia? Maka, pelajaran pertama yang dapat dipetik ialah TAK ADA YANG TAK MUNGKIN DI DUNIA INI, JANGAN MENGABAIKAN PERAN ALLAH DALAM USAHA KITA, karena sukses tidaknya kita, menang tidaknya Wigan semalam, semua Allah yang menentukan -- Ia Maha Kuasa atas makhluk-Nya. Dan Allah takkan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang merubahnya (Ar Ra'du : 11)
Kemenangan Wigan pun memiliki keistimewaannya sendiri. Ketika AC Milan menggunakan formasi 'Parkir Bus' untuk menghentikan Barcelona dengan tiki-taka sebagai ciri khasnya, Wigan tetap memainkan sepakbola terbuka seperti biasanya. Namun, ini justru ampuh untuk mematikan City di babak pertama karena pemain Wigan disiplin dalam bertahan dan menyerang, meski lemah di penyelesaian akhir. Mereka tetap menjadi diri mereka sendiri, sesuatu yang jarang dilakukan tim yang cenderung lebih lemah kala bertemu tim yang lebih kuat. Pelajaran kedua, JADILAH DIRI SENDIRI DAN YAKINLAH PADA KEMAMPUAN YANG KITA PUNYA, SERTA MANFAATKAN IA DENGAN BAIK. Allah menciptakan setiap makhluknya dengan potensi dan kemampuannya masing-masing, maka tugas kita adalah kembangkan potensi itu dan manfaatkan ia dengan baik. Wigan tahu cara memanfaatkan karakternya dengan baik saat melawan City, dan mereka akhirnya menang dengan terhormat, menang dengan kerja keras tanpa mengorbankan jati diri mereka.
Kemenangan ini bukannya diraih dengan mudah. Butuh 90 menit penuh perjuangan dan kesabaran kala menyerang pertahanan City dan butuh usaha ekstra untuk membuat peluang City tak berbuah gol. Butuh 90 menit pertandingan dengan City yang terus menyerang dan serangan Wigan yang selalu bisa diselamatkan barisan pertahanan City, hingga akhirnya kesempatan tendangan sudut itu tiba, dan Ben Watson tak menyiakannya, menyundul bola ke arah gawang, membuat Joe Hart terpaku melihat gawangnya bobol untuk kedua kalinya di turnamen ini. Maka, pelajaran ketiga adalah BERJUANGLAH SAMPAI AKHIR DAN JANGAN SIA-SIAKAN PELUANG YANG ADA. Kita tak pernah tahu bagian hidup kita yang sebelah mana yang membawa kita pada keberhasilan, dan bagian hidup kita yang mana yang membawa kita pada kegagalan. Jadi, tetap berjuang hingga detik-detik terakhir, maksimalkan peluang dan kesempatan yang ada. Karena kita hidup hanya sekali, dan tak ada yang tahu kapankah ajal akan menjemputnya. Bisa jadi hari ini, besok, atau kapanpun. Manfaatkanlah waktu yang ada untuk senantiasa menabung untuk kehidupan mendatang (akhirat) yang lebih kekal dan nyata, jangan sia-siakan untuk kehidupan saat ini yang fana dan sementara (dunia).
Saya yakin masih banyak pelajaran yang dapat diambil dari pertandingan ini. Namun ilmu saya masih terbatas. Jadi, bagi teman-teman yang dapat mengambil hikmah lain silakan di-share di komentar atau media lain. Mari saling mengingatkan, mari saling berbagi ilmu untuk kebaikan bersama kini dan nanti.
Sedikit mengutip pernyataan dari Ben Watson, sang pencetak gol penentu kemenangan Wigan, ketika ditanya wartawan mengenai responnya atas pertandingan malam kemarin. "Waktu enam bulan adalah waktu yang panjang karena kaki saya patah. Tapi, saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Mereka membantu saya melewati itu semua. Saya percaya, jika Anda bekerja keras maka hasilnya bakal layak. Semuanya seperti sudah ditakdirkan untuk terjadi. Maksud saya.. enam bulan lalu kaki saya patah, sekarang saya bermain di final Piala FA dan mencetak gol kemenangan."
Wallahu A'lam Bish Shawaab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar