Jumat, 04 Januari 2013

Merajut Asa Part 2: ITB, Mimpi yang Jadi Nyata


wah, sedikit share tentang pengalaman saat daftar SNMPTN yaa... semoga bisa menginspirasi...

kalau buka grup Aku Masuk ITB teh bawaannya jadi inget zaman SMA dulu, ketika masuk ITB terlihat gak mungkin.. kendalanya ya biaya yang terlihat mahaaaal bangeet, minder duluan karena dari sekolah belum ada yang masuk ITB, dan lain-lain. Setelah sosialisasi kakak-kakak mahasiswa/i ITB ke sekolah, teman-teman sering bergurau "cie, calon mahasiswa ITB" setiap menyapaku, padahal hati belum yakin untuk memilih ITB, baru tergerak untuk kuliah di jurusan teknik sesuai cita-cita sejak SD. Namun, setelah sekian lama, hati ini makin mantap memilih ITB, lalu ketika SNMPTN undangan akhirnya ITB menjadi pilihan, meski dalam hati masih pesimis. Apalagi fakultas/sekolah yang dipilih katanya persaingannya sengit, dan saya cuma bermodal formulir bidikmisi karena keluarga takkan mampu membayar 55 juta biaya awal masuk seperti mahasiswa lain.

Bismillahi tawakkaltu 'alallah, saya mulai bersiap untuk tidak diterima SNMPTN undangan. Mulai menabung untuk biaya SNMPTN tulis, mulai merancang stategi memilih fakultas, ikut-ikutan try out SNMPTN untuk mengukur kemampuan dan kesiapan, dan lain-lain. 18 Mei 2011, hari yang takkan kulupakan. Hari itu, saya dinyatakan lolos SNMPTN undangan di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. setengah tidak percaya saya menerima kabar ini, sampai-sampai saya menanyakan berkali-kali pada orang yang memberitahu kabar ini. alhamdulillah, semua terasa seperti mimpi. apalagi ketika kemudian diumumkan bahwa saya termasuk satu dari 700 mahasiswa/i yang memperoleh beasiswa bidikmisi. Ya Allah, gak pernah terbayangkan sebelumnya kalau saya bakalan satu kelas dengan teman-teman ber-BMW, teman-teman peserta olimpiade tingkat nasional dan internasional, teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia.


Dan sekarang, saya sudah mendekati semester 4 jurusan Teknik Tenaga Listrik. Saya sadar, saya baru berada di separuh awal perjalanan kuliah saya di ITB, belumlah layak untuk berbangga hati. Jalan menuju mimpi saya, menjadi insinyur yang bisa menghasilkan karya untuk negeri ini, masih panjang. Semoga Allah selalu menyayangi kita semua, selalu menyertai usaha kita, dan meridhai setiap amalan kita. Aamiin...

*jangan takut untuk bermimpi.
*biarkan mimpi itu membentang seluas samudera, lambungkan ia setinggi langit, nyalakan ia seterang matahari, menghujam sekuat akar, namun tetap suci sejernih embun pagi...
*libatkan Ia dalam usaha meraih mimpimu, karena semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar