Jenuh. Sering dengar kata ini?? Atau justru kita menjadi orang yang sering mengatakan kata ini??
Jenuh. Mendengar kata ini saya terkadang ingat kuliah Kimia Dasar yang baru usai 2 bulan lalu (hmm, jadi ingat masa TPB...:D). Jenuh yang sering dikaitkan dengan larutan. Untuk mempermudah, saya akan memberi sebuah contoh yaitu gula yang dilarutkan dalam air. Awalnya kita bisa dengan mudah melarutkan gula ini. Makin banyak jumlah gula yang ditambahkan, makin sulit untuk melarutkannya. Hingga akhirnya gula tak mampu lagi meleburkan dirinya dalam air dan mengendap di dasar gelas. Kondisi inilah yang kita sebut jenuh. Yap, kondisi dimana pelarut tak mampu melarutkan lagi zat terlarut hingga zat terlarut mengendap.
Namun, kata jenuh pun bisa mengingatkan saya pada hal lain. Aktivitas padat, jarang beristirahat dengan cukup. terkadang pulang larut malam bahkan tidak pulang ke asrama karena harus menginap di kosan teman, mengerjakan tugas ini dan itu, latihan ini dan itu, rapat ini dan itu, deadline tugas yang makin mencekik..., pokoknya banyak deh. Saking banyaknya sampai sanggup membuat saya jenuh seperti larutan gula tadi. Tak ingin menjalani semuanya. Ingin menghabiskan waktu dengan tidur di asrama seharian tanpa harus memikirkan tugas ini dan itu, atau bahkan pulang kampung agar bisa bertemu dengan orang tua dan lari dari tugas. Namun, hati ini tetap menolak dengan berbagai alasan. Akhirnya semua tetap ku jalani, meski terkadang harus dipaksakan. Meski terkadang wajah ini masih saja menampakkan keluh kesah.
Jenuh. Rasa yang manusiawi. Senyaman apapun yang kita lakukan, kadang rasa lelah, bosan, dan malas karena harus menghadapi rutinitas yang tak jauh beda tiap harinya pasti akan hinggap di pikiran kita. Bahkan bisa saja rasa jenuh itu menyerang hati kita dengan perbuatan yang kita senangi sebagai korbannya. Salah?? Tentu tidak. Namun semua bisa jadi bermasalah bila kejenuhan itu tidak kita tangani dan semakin menumpuk bagai endapan gula di dasar gelas yang maki hari makin banyak seiring meningkatnya jumlah gula dalam larutan.
Apa yang harus kita lakukan? Untuk meningkatkan kelarutan zat, kita perlu energi dari luar zat, yaitu energi panas, energi listrik, dan energi lain yang selanjutnya menjadi energi yang dipakai untuk melutkan gula yang sebelumnya mengendap. Manusia pun butuh hal yang sama. Butu energi dari luar yang bisa meningkatkan suhu jiwa agar lebih semangat menghadapi hari energi yang disebut doa, motivasi, dan dukungan dari orang tersayang. Doa kepada-Nya agar diberi ketenangan lahir barin dalam menjalani semuanya. Motivasi untuk membuka mata hati bahwa kita pasti bisa menaklukkan kejenuhan itu. Dukungan dari orang tersayang untuk menambah tebal keyakinan kita dan membuat mereka bangga akan apa yang telah kita lakukan. Apalagi kalau yang ingin dibahagiakan adalah ibu, ayah, keluarga,,,, motivasinya bisa saja menngkat. amiiin....
Roro Roudhotul Jannah (1651162 - EP 2011)
Roro Roudhotul Jannah (1651162 - EP 2011)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar